Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXLVI


Aku melirik ke arah beberapa orang lelaki yang telah melepaskan pakaian yang mereka kenakan. “Kenapa mereka semua melepaskan pakaian?” tanyaku sehingga Raja Piotr berbalik menatapku.


“Karena, semua ayam yang akan mereka tangkap … Dikumpulkan di sebuah lumpur yang ada di sana,” tukas seorang laki-laki paruh baya yang berdiri di samping Raja Piotr.


Apa laki-laki ini seperti penasihat Raja? Dia datang bersamaan dengan Duke Masashi ke sini, bukan?


“Dia seorang Duke di Kerajaan kami, aku sengaja memanggilnya untuk mempertemukan dia dengan kalian semua,” tukas Raja Piotr sebelum pandangan matanya itu kembali dibuangnya ke depan.


“Kau tidak ingin membuka pakaianmu seperti mereka?”


Zeki yang berdiri di sampingku menolehkan tatapannya, “aku, tidak ingin membuatmu malu seperti yang kau katakan sebelumnya.”


Aku tersenyum kecil sambil mengangkat tangan mengusap punggungnya, “aku tidak akan malu hanya karena luka itu. Karena walau bagaimanapun, Zeki tetaplah Zeki … Apa penilaian orang lain, lebih penting dibandingkan aku,” ucapku yang membuat dia yang sebelumnya berdiri di sampingku, bergerak hingga berhenti tepat di hadapanku.


Genggaman tanganku di bungkusan kain yang menyimpan benih dan cermin semakin menguat tatkala dia yang telah berdiri di hadapanku itu menundukkan kepalanya lalu membuka pakaian yang ia kenakan itu. Kubuang dengan segera lirikan mataku itu ke samping, ke arah beberapa perempuan yang terlihat berbisik-bisik saat pandangan mereka terjatuh ke arah kami.


Aku melangkah sedikit maju lalu memeluk Zeki yang berdiri di hadapanku itu, “Sa- Sachi,” tukasnya ketika telapak tanganku itu bergerak perlahan, menyusuri setiap jengkal punggungnya. Mataku membesar tatkala mata beberapa orang yang berbisik tadi berpapasan dengan mataku, hingga mereka dengan cepat membuang pandangan … Menyelesaikan perkataan mereka dengan kepala tertunduk.


Aku tertegun saat pandangan mataku kembali terangkat ke depan, Zeki tertunduk … Wajahnya yang bersemu merah itu terlihat bersembunyi di balik telapak tangannya yang terangkat menutupi bibir. “Apa yang terjadi kepadamu?” tanyaku yang kembali berjalan mundur dengan melepaskan pelukanku padanya.


“Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan? Jangan melakukan tindakan berbahaya seperti itu.”


“Tindakan berbahaya?” Alisku berkerut membalas ucapannya.


“Lupakan, tidak usah membahasnya lagi. Lebih baik, pegang baik-baik pakaianku ini,” sambungnya sambil meletakkan pakaian yang sebelumnya ia kenakan ke atas wajahku.


Aku tertunduk dengan menggenggam pakaian putih miliknya, kuangkat pandangan mataku kembali … Ke arahnya yang telah berjalan menjauh, menyusul beberapa rombongan laki-laki yang berjalan di belakangnya. Aku turut melangkahkan kaki, mengikuti Haruki, Duke Masashi dan juga Ryuzaki yang telah berjalan dengan Sasithorn dan Julissa di belakang mereka.


“Kak Haruki, terima kasih untuk sapu tangannya. Aku jadi merasa tidak kesusahan membawa benih dan cermin ini,” tukas Julissa berbicara sambil mengangkat bungkusan kain di tangannya.


“Tidak masalah, berdo’alah … Agar nanti, hasil festival ini baik untuk kalian.”


“Terima kasih. Aku pun, akan mendo’akan yang terbaik untukmu, kakak.”


Haruki menoleh ke arah Julissa yang berjalan di sampingku, “terima kasih,” balas Haruki, dia tersenyum sebelum membuang pandangannya kembali ke depan.


Langkah kaki kami berhenti di sebuah kandang besar yang mengelilingi lumpur, dari dalam kandang tersebut terdengar suara riuh kokok ayam yang menggema di telinga. “Banyak sekali, apakah itu ayam?” tukas Julissa yang terlihat terkagum di dekatku.


“Apakah kau, tidak pernah melihat ayam sebelumnya, Julissa?”


Julissa menoleh ke arahku, “aku tahunya, daging ayam yang sudah dimasak di atas meja,” ucap Julissa yang aku balas dengan anggukan kepala.


Aku mengalihkan pandangan ke arah kandang, kutatap barisan laki-laki yang ada di seberang sana … Berjalan masuk ke dalam kandang ketika pintu kandang tersebut terbuka. Semakin banyaknya laki-laki yang masuk, semakin riuh juga ayam-ayam tersebut berkokok lalu berlari atau bahkan terbang hilir mudik, mencoba menghindari para manusia yang memasuki rumahnya.


“Suamiku, semangat!”


“Aku, tidak akan kalah dari para Isteri Aydin,” Julissa bergumam, ikut kuarahkan tatapan mataku ke arah beberapa perempuan yang melambaikan tangan diikuti teriakan-teriakan kecil dari mereka.


“Mereka, isterinya Aydin?”


Julissa menganggukkan kepalanya sebelum dia membuang tatapannya kembali ke arah depan, “Adinata, aku tahu kau pasti bisa. Aku mencintaimu!” Aku tertegun sejenak ketika Julissa tiba-tiba berteriak kencang, aku mengangkat tanganku mengusap punggungnya saat dia tertunduk sambil terbatuk-batuk di sampingku.


“Bagaimana dengan kalian berdua? Apa kalian tidak ingin mendukung pasangan kalian sendiri?” tukas Haruki sambil melirik ke arahku dan Sasithorn bergantian.


“I-”


Aku dan Julissa serempak menoleh ke arah Sasithorn yang berbicara, “kak Sasithorn, berjuanglah! Kau pasti bisa,” ucap Julissa sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Iz-”


“Sedikit lagi, sedikit lagi,” ucapku dan juga Julissa bergantian, tanpa sadar aku sendiri pun telah mencengkeram pundaknya Julissa.


Sasithorn menarik napas dalam dengan mengangkat kedua tangannya, “Izumi, aku akan selalu mendukungmu!”


Izumi menatap ke arah kami, dia terlihat semakin salah tingkah ketika aku ataupun Julissa berteriak kecil menimpali teriakan Sasithorn sebelumnya. “Astaga, aku merasa lega dan gemas secara bersamaan,” ungkap Julissa yang dibalas tawa kecil di antara kami.


“Bagaimana denganmu? Apa kau tidak ingin mendukung Zeki? Lihatlah, dia sedari tadi menatap ke arah sini,” suara Haruki kembali terdengar, aku mengarahkan pandangan ke arah yang ia tunjuk.


“Aku pun ikut penasaran, kata-kata semangat apa yang akan Sachi ucapkan.”


“Diamlah Julissa,” ungkapku, aku masih terdiam sejenak saat mataku dan mata Zeki bertatap.


Aku menghela napas diikuti tarikan napas dalam yang aku lakukan setelahnya, “ini demi hubungan kita kedepannya! Kau paham bukan, apa yang harus kau lakukan, Darling?!”


Aku tertegun saat senyum lebar mengembang di wajahnya. “Sachi, apa itu Darling?”


Aku menoleh ke arah Julissa yang telah menatapku, “seperti panggilan kesayangan di antara kami berdua.”


“Jadi seperti itu, apa aku dan Adinata juga harus membuat panggilan kesayangan,” timpal Julissa sambil menepuk telapak tangannya sendiri.


Pandangan mataku beralih ke arah kandang ketika suara pukulan gong kembali menggema. Teriakan perempuan yang meminta para lelaki untuk bersiap, terdengar mengiringi pukulan gong tersebut. Para laki-laki yang ada di dalam kandang, semuanya ikut mengarahkan pandangan ke arah perempuan paruh baya yang memegang sebuah gong kecil di tangannya.


Para laki-laki tersebut, berlari menyebar ke seluruh kandang ketika gong kecil yang ada di tangan perempuan itu, ia pukul, “jadi, apa yang akan terjadi pada hubungan kalian. Akan dipengaruhi, dari apa yang akan kalian dapatkan saat ini,” dengan cepat, pandangan mataku beralih ke arah Raja Piotr yang berbicara dengan membelakangi kami semua.