
Kereta berhenti, pintu kereta terbuka pelan dari luar. Tampak Haruki telah berdiri di depan pintu kereta dengan senyum merekah di kedua sisi wajahnya, diangkat dan diarahkannya kedua lengannya ke arahku.
Berjalan aku menuju ke arahnya, diraih dan digendongnya tubuh kecilku menyusuri Taman Istana. Diturunkannya aku di salah satu bangku yang ada di Taman seraya duduk ia disampingku.
Aku kembali menghabiskan waktu satu minggu di perjalanan dari Kuil kembali ke Istana. Zeki sendiri, berpisah dengan kami di hari yang sama dan kembali ke Kerajaan nya diikuti rombongan pengawal yang mengantarnya
Haruki duduk di sampingku tanpa mengeluarkan suara, berbalik ia ke arahku seraya memusatkan pandangannya ke belakang telingaku...
"Heh, Zeki Bechir kah?" tukas Haruki seraya menatap luka bakar di belakang telingaku
"Seperti apa dia? apa statusnya? ceritakan semuanya pada kakakmu ini!" tukas Haruki kembali seraya mencengkeram kuat bahuku
"Apakah aku sedang di interogasi sekarang?" ucapku seraya membuang pandangan ke samping
"Menurutmu?" ucapnya lagi sembari tersenyum dingin kearahku
"Oi Tupai, kau sudah kembali?" teriakkan Izumi memecah keadaan
"Baru saja." Ucapku seraya berbalik menuju ke arah sumber suara, tampak Izumi berjalan ke arah kami diikuti oleh Tatsuya, Tsutomu dan juga Tsubaru dengan tumpukan kertas di masing-masing tangan mereka
"Geser!" tukas Izumi seraya menepuk pelan punggungku
Bergeser sedikit aku duduk mendekati Haruki seperti yang diperintahkan Izumi, duduk ia disampingku. Diangkatnya rambutku seraya diperhatikannya secara seksama leherku, persis seperti yang dilakukan Haruki sebelumnya.
"Zeki...Bechir." Ucap Izumi seraya mengeja nama yang ada dibelakang telingaku
"Siapa dia? Apa dia kuat?" tukasnya sekali lagi disertai tatapan tajam yang keluar dari balik matanya
"Akupun menanyakan hal yang sama padanya." Sambung Haruki kembali tersenyum dingin menatapku
"Dia Pangeran keempat dari Kerajaan Yadgar." Ucapku seraya membuang pandangan dari mereka
"Yadgar. Itu Kerajaan yang jauh di sebelah barat, bukan?" tukas Haruki seraya menatap ke arah Tatsuya
"Benar, Yang Mulia" ucap Tatsuya membalas perkataan Haruki
"Aku sering mendengar rumor yang kurang bagus tentang Kerajaan itu. Sebenarnya, Kerajaan itu masuk ke dalam daftar sepuluh Kerajaan yang berpotensi menjadi musuh kita kedepannya." Ungkap Haruki seraya menatapku
"Kau tertarik padanya bukan?" sambung Izumi seraya menyandarkan tubuhnya di bahuku
"Aku dapat melihatnya, Haruki memang jenius akan tetapi dia sangat bodoh kalau menyangkut perasaan manusia..."
"Apa terjadi sesuatu padanya? apa dia terlihat menyedihkan? karena kau biasanya akan langsung luluh jika dihadapkan pada sesuatu yang terlihat menyedihkan. Aku benar bukan, Tsubaru?" ucap Izumi kembali seraya menatap ke arah Tsubaru
"Kau benar, Yang Mulia." ungkap Tsubaru yang juga ikut menatapku
"Kau sangat aku larang untuk jatuh cinta pada pangeran itu, Sa-chan. Lagipun, masih banyak yang harus kita lakukan." sambung Haruki kembali menatapku
"Aku mengerti, nii-chan..."
"Sebenarnya, apa yang sedang kalian lakukan?" ucapku lagi seraya mengarahkan pandangan ke tumpukan kertas yang dipegang Tatsuya, Tsutomu dan juga Tsubaru
"Persiapan untuk festival berburu. Aku sudah pernah menceritakan semuanya padamu bukan?" ungkap Izumi seraya mengambil selembar kertas dari tangan Tsutomu dan diberikannya ke padaku
"Hal ini juga bagus untukmu, dengan begitu kau akan lebih mengenal para bangsawan yang ada di Kerajaan kita..."
"Aku akan mendapatkan hewan yang paling besar nanti, dan meminta Naginata berukuran besar kualitas terbaik pada Ayah."
"Aku ingin seekor Kuda..." ucapku tanpa sadar
"Belajar dulu cara memanah yang benar, baru bermimpi mempunyai seekor Kuda." ucap Haruki seraya menyandarkan lengan kirinya di bahu kananku
"Kau yang hanya bisa memanah benda mati itupun dari jarak yang sangat dekat mencoba untuk mengalahkanku. Berhentilah bermimpi." sambung Izumi yang juga ikut menyandarkan lengan kanannya di bahu kiriku
"Aku ingin mandi, Tsubaru. Siapkan air hangat untukku!" ungkapku kesal seraya berusaha beranjak
"Siapa yang mengizinkan kau untuk pergi, Tupai" tukas Izumi seraya mencengkeram kepalaku dengan sangat kuat
"Apa setelah bertunangan, kau ingin menelantarkan kedua kakakmu." lanjut Haruki kembali tersenyum dingin menatapku
"Aku ingin sesuatu yang manis. Kau telah meninggalkan kami selama berhari-hari hanya karena kau ingin bermesraan dengan anak laki-laki yang aku tidak tahu itu siapa, bukankah itu sesuatu yang tak dapat dimaafkan?" sambung Izumi yang juga ikut tersenyum dingin menatapku
"Aahh sialan, apakah ini yang dinamakan tidak mendapatkan restu dari kakak kandung, seperti yang sering ditampilkan di drama-drama sabun" ucapku dalam hati seraya menggigit pelan bibirku
"(menghela nafas) baiklah nii-chan, aku akan memasakkan kalian sesuatu yang manis..."
"Bisakah kalian melepaskanku?" ucapku seraya menatap mereka berdua bergantian
"Tentu, apa yang ingin kau masakan untuk kami?" ungkap Haruki seraya mengangkat lengannya dari bahuku
"Aku ingin sesuatu yang manis." sambung Izumi seraya melakukan hal yang sama
"Aku akan membuatkan kalian sebuah makanan yang hampir mirip seperti puding akan tetapi dengan rasa yang sedikit berbeda.." ucapku seraya beranjak turun
"Makanan apa itu?" ucap Izumi yang berjalan mengikutiku
"Srikaya, suatu makanan yang berasal dari tempat yang sangat jauh. Akan tetapi..."
"Aku membutuhkan santan kelapa dan juga daun pandan untuk membuatnya."
"Santan kelapa?" tanya Haruki yang juga ikut mengikuti langkahku
"Suatu olahan yang berasal dari daging buah Kelapa." Ungkapku seraya berbalik menatapnya
"Dan daun pandan?" sambung Izumi
"Daun yang sering digunakan oleh Koki Istana untuk memberikan wangi yang khas pada nasi yang kita makan."
"Aku juga membutuhkan beberapa butir telur dan juga gula. Proses nya sendiri lebih rumit dibandingkan membuat puding, apa kau masih ingin memakannya, nii-chan?" ucapku seraya mengalihkan pandangan ke arah Izumi
"Tentu. Bukankah kau yang akan memasaknya untuk kami?" ungkapnya berbalik menatapku
"Aahh sialan, padahal aku menginginkan jawaban yang berbanding terbalik dari yang ia ucapkan barusan." gerutuku kesal di dalam hati seraya memaksakan senyum palsu ke arahnya
"Setidaknya kalian juga membantuku memasaknya nii-chan. Aku tidak bisa melakukannya sendirian." Tukasku menghentikan langkah seraya tertunduk
"Tentu, hanya katakan saja bahwa kau tidak bisa hidup tanpa kami. Benarkan, Izumi?" ungkap Haruki yang dibalas dengan anggukan kepala Izumi