Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXCIV


“Lux,” suara Izumi terdengar pelan, “aku tahu. Kita semakin dekat dengannya, kemungkinan dia juga merasakan kehadiran kita,” ucap Lux yang menimpali perkataan Izumi.


“Kalian,” Izumi kembali bersuara, kata-katanya sempat terhenti beberapa saat, “jangan lepaskan talinya, dan bawa kuda kalian berlari secepat mungkin!” Izumi meninggikan suaranya, tubuhku hampir jatuh ke samping jika saja aku tidak menggenggam kuat tali kekang kudaku.


Kuarahkan kudaku berbelok ke kiri saat tali yang aku genggam dari Izumi ikut tertarik ke arah yang sama. Aku, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, “Eneas, ke kiri!” Izumi kembali berteriak diikuti suara benda terjatuh yang kuat terdengar dari arah kanan.


“Jangan mengalihkan pandangan Sachi! Hanya tunggangi kudamu berlari ke depan secepat mungkin!” Genggaman tanganku pada tali kekang semakin menguat saat suara Izumi membentakku itu terdengar, “ke kiri!” Izumi kembali berteriak lantang, dengan cepat kuarahkan kudaku itu hingga dia berlari cepat ke kiri seperti yang Izumi arahkan.


“Nii-chan, sebenarnya apa yang menyerang kita?!” Aku balik bertanya kepadanya, “aku tidak tahu, aku sulit menjelaskan tubuh makhluk itu,” ucapnya padaku.


“Sa-chan!”


“Kou!” Aku berteriak lantang memanggil namanya saat kudaku kembali berbelok tajam ke kiri.


Tubuhku jatuh terjungkal saat kurasakan angin keras menyapu dari arah sebelah kanan. Kuangkat kepalaku menoleh ke samping, bias-bias cahaya matahari yang jatuh di atas tubuh Kou ikut membuat sedikit terang keadaan di sekitar.


“Apa kau baik-baik saja?” Aku kembali menoleh saat kurasakan sesuatu menyentuh pundakku, “aku baik-baik saja, nii-chan,” ucapku pelan pada Izumi yang mengarahkan tangannya membantuku untuk berdiri.


“Bagaimana keadaan kalian?” Haruki ikut bersuara, aku dan Izumi menoleh ke arahnya yang tengah berjalan mendekati kami dengan Eneas yang juga ikut berjalan di belakangnya.


“Makhluk apa itu?” Eneas menghentikan langkah kakinya di sampingku, kedua matanya masih menatap Kou yang tengah berdiri di hadapan suatu makhluk yang baru kali ini kulihat.


Dari kepala hingga ke perut, ia memiliki rupa seperti halnya seekor singa, lengkap dengan taring dan juga cakar-cakarnya yang meruncing. Sedangkan, setengah bagian tubuhnya yang lain berbentuk seperti kalajengking dengan ekornya yang runcing mencuat ke atas. Bulu-bulu yang tumbuh di tubuhnya, tampak sedikit mengusam dan juga kusut dengan bekas-bekas tanah mengering yang menempel di sana.



“Manticore,” gumam Haruki di samping kami, aku sedikit melirik ke arahnya yang terlihat menyunggingkan bibirnya menatapi makhluk yang berdiri di hadapan Kou.


“Manticore?” Aku balik bertanya padanya.


Haruki menoleh ke arah kami lalu menundukkan kembali pandangannya, kedua tangannya meraih dan membuka tas yang ia bawa. Dia mengeluarkan sebuah buku usang bersampul cokelat yang permukaannya telah sedikit mengelupas kepadaku, “apa ini?” Aku kembali bertanya padanya.


Haruki kembali membuang pandangannya menatapi makhluk itu, “aku tak sengaja menemukan buku tersebut saat mengobrak-abrik isi perpustakaan. Di buku itu, banyak sekali tersimpan informasi-informasi berharga,” ucapnya tanpa menoleh ke arahku.



“Manticore,” ucap Izumi saat aku berhenti di salah satu halaman yang ada di buku, “yang digambar, dengan yang kita lihat sekarang memang sedikit berbeda. Akan tetapi, mereka sama bukan?” Haruki kembali menoleh ke arah kami sebelum dia kembali menatap makhluk tersebut yang sedikit menggerakkan kakinya mendekati Kou.


“Sa-chan, pinta Kou untuk jangan membunuhnya. Pinta Kou, untuk hanya menaklukannya saja,” ucapnya kembali menoleh lalu tersenyum menatapku.


“Aku mengerti,” ucapku menutup buku yang ada di hadapanku lalu mengalihkan kembali pandangan ke arah Kou.


“Kou!”


“Apa pun yang terjadi, jangan sampai membunuhnya. Kita membutuhkan makhluk tersebut hidup-hidup,” ucapku sedikit melangkah maju ke depan, “sesuai perintah darimu, My Lord,” ucapnya yang terngiang di kepalaku.


Kou kembali membentangkan sayapnya, aku sedikit mengangkat lengan kananku menutupi mata saat kurasakan debu yang berterbangan oleh kepakan sayap kuat yang dilakukan olehnya itu mengarah kuat ke arah kami. Makhluk yang disebut-sebut sebagai Manticore itu mengangkat kembali ekornya yang seperti ekor kalajengking itu tinggi ke udara, suara raungan yang dikeluarkan Manticore itu semakin memenuhi udara saat Kou ikut mengangkat tinggi ekornya yang runcing ke udara.


Mata Kou semakin memerah diikuti asap-asap putih kecil yang keluar mengepul di sudut-sudut mulutnya. Kepakan sayap Kou kembali menerbangkan udara kuat ke arah kami, Manticore itu menengadahkan kepalanya ke atas menatap Kou diikuti kedua kaki depannya terangkat ke depan, berusaha meraih Kou yang terbang di atasnya.


“Makhluk menjijikan,” suara Kou kembali terngiang di kepalaku. Dia membuka lebar mulutnya ke arah makhluk tersebut, Manticore itu bergerak ke samping menghindari es yang Kou keluarkan. Haruki menarik tanganku hingga aku bersembunyi di belakang tubuhnya saat Manticore itu malah berlari kencang ke arah kami.


Makhluk itu semakin cepat dan semakin cepat berlari diikuti sihir Kou yang mengikuti jejak kakinya. Aku menutup kuat mulutku, rasa mual lagi-lagi menyelimuti saat makhluk itu meraung, membuka mulutnya lebar-lebar ke arah kami. Matanya berusaha melirik ke belakang, diikuti ekornya yang runcing itu bergerak mengetuk-ngetuk lapisan es yang membekukan seluruh tubuhnya itu.


Aku mundur ke belakang beberapa langkah saat Haruki yang berdiri di belakangku juga ikut mundur beberapa langkah ke belakang, ekor Kou yang tiba-tiba menghantam tanah di hadapan kami itu bergerak ke kanan, merobohkan seluruh pepohonan yang ada di sekitar. Bayangan hitam kembali menyelimuti Kou, bayangan yang berangsur menghilang saat Kou dengan perlahan kembali berpijak.


Kou melangkahkan kakinya mendekati Manticore itu, aku semakin menutup rapat mulutku saat Manticore itu kembali meraung, membuka mulutnya … Bagaimana aku menjelaskannya, bau napasnya sangatlah busuk, seperti bau tumpukan bangkai yang dulu aku temui di hutan terlarang itu.


Kou kembali membuka mulutnya saat dia telah berdiri di samping makhluk tersebut, serpihan-serpihan es yang keluar dari mulutnya dalam sekejap membekukan ekor Manticore itu hingga ekornya yang diselimuti lendir hijau itu tak bisa digerakkan, “My Lord,” ucap suara Kou yang muncul di pikiranku.


Aku meneguk air ludahku sendiri lalu dengan perlahan melangkahkan kaki mendekatinya. Aku semakin berjalan menyamping saat Manticore itu meraung keras di samping telingaku, langkah kakiku terhenti, tubuhku sedikit terhentak saat tiba-tiba tangan Kou telah mencengkeram kuat kepala makhluk itu hingga kepalanya itu tersungkur jatuh ke tanah.


Aku duduk tertunduk dengan kedua tangan menutup rapat telingaku, suara pekikan kesakitan yang dikeluarkan makhluk tersebut terasa seperti ingin memecah telingaku. Aku mengangkat kembali kepalaku, kedua mataku membesar menatapi sekitar, “pinta mereka untuk jangan berdiri jauh dariku, My Lord! Mereka datang, semua yang bersembunyi telah datang,” ucapnya, saat dedaunan yang ada di pohon kembali bergerak saling berbenturan antara satu dengan yang lainnya.