Fake Princess

Fake Princess
Chapter LXII


Kembali kubuka pelan kedua mataku, rasa kering di kerongkongan seakan mencekik leher. Mataku masih sama seperti sebelumnya, tak dapat melihat apapun dan tubuhku... semakin terasa melemah seiringnya waktu.


"Izu nii-chan." tukasku dengan suara serak yang dipaksakan


"Kau sudah bangun?" terasa sebuah telapak tangan menyentuh kepalaku


"Ayah? Kau kah itu?"


"Ini Ayah." ucapnya, kembali kurasakan telapak tangan tersebut menyentuh pipiku


"Aku haus, Ayah."


"Apa ada yang ingin kau minum? Ayah akan menyiapkannya."


"Hanya berikan saja aku air Ayah."


"Aku mengerti." Tukasnya, ikut terdengar suara air mengalir dari sebelah kananku


"Eh..."


Aku kembali membeku, bukan hanya kakiku yang tak bisa digerakkan, bahkan kedua lenganku mengalami hal yang sama. Sekuat tenaga sudah kucoba untuk menggerakkan jari jemari tanganku, tapi tetap tak membuahkan hasil apapun...


"Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?" terdengar kembali suara Ayah, kurasakan usapan pelan di dahiku.


"Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali, Ayah." tukasku dengan suara bergetar


"Apa maksudmu?" ucapnya diiringi sentuhan di kedua pipiku


"Kedua kakiku tidak dapat digerakkan sejak pagi. Dan sekarang, bahkan lenganku..."


"Aku tidak bisa melihat apapun, aku tidak bisa merasakan apapun... Aku takut, Ayah..."


"Aku takut." sambungku, kurasakan tetesan air mengalir di kedua pipiku


"Kau masih bisa merasakan telapak tanganku yang menyentuh pipimu bukan?" ungkapnya, kubalas perkataannya tadi dengan anggukan pelan dariku


"Ayah tidak akan meninggalkanmu, jadi kau Sachi, tidak akan merasakan takut lagi. Putri Ayah sangat pemberani bukan?" ucapnya dengan suara bergetar


"Aku ingin makan makanan yang manis lagi, Ayah..."


"Aku ingin berlatih pedang bersamamu lagi, Ayah..."


"Sachi hanya ingin bisa memelukmu lagi, Ayah..."


"Aku ingin sembuh, Ayah... Aku ingin sembuh."


"Tentu, kau akan segera sembuh. Ayah pastikan itu." ucapnya dengan nada bergetar, suatu benda hangat nan lembut menyentuh dahiku


"Minumku Ayah, kau lupa memberikannya."


"Aahh maaf." tukasnya, terasa kepalaku terangkat dengan sesuatu menyentuh ujung bibirku


Air mengalir sedikit demi sedikit melintasi mulutku, rasa kering di kerongkonganku berangsur-angsur menghilang...


"Ayah juga telah menyiapkan bubur untukmu, kau makan ya?" ucapnya yang kubalas dengan anggukan kecil


"Buburnya telah dingin, Ayah akan memanaskannya lagi untukmu." ucapnya lagi disertai suara sendok yang dibenturkan pelan di piring ataupun mangkok, entahlah...


"Tidak perlu Ayah, lidahku tidak akan merasakan apapun. Jadi panas ataupun dingin, tidak masalah." ucapku tersenyum kecil ke arah suaranya


"Buka mulutmu." ungkapnya, kembali kurasakan sesuatu menyentuh ujung bibirku.


Kutelan begitu saja benda cair yang memenuhi mulutku itu, hambar... tidak ada sedikitpun rasa yang melekat di ujung lidahku.


"Ayah." terdengar suara Izumi diiringi ketukan pintu yang bersahutan


"Masuklah." Terdengar suara pintu terbuka yang langsung diikuti suara pintu tertutup.


"Aku akan menjaganya, Ayah bisa beristirahat sekarang."


"Aku tidak apa-apa." ucapnya membalas perkataan Izumi. Sesuatu kembali menyentuh ujung bibirku, kutelan kembali dengan pelan benda encer itu...


"Ayah, istirahat itu perlu. Jangan memaksakan diri, aku akan baik-baik saja."


"Lagipun, aku sudah kenyang Ayah. Kau tidak perlu menyuapiku lagi."


"Baiklah," ucapnya diikuti usapan pelan di kepalaku, ikut terdengar suara barang yang diletakkan di sebelah kanan telingaku


"Kabari Ayah, jika terjadi sesuatu." sambungnya dengan langkah yang terdengar semakin menjauh


"Izu nii-chan."


"Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?"


"Aku ingin menghirup udara segar, nii-chan."


"Ini sudah malam, kau tahu." ucapnya


"Benarkah?"


"Nii-chan." sambungku


"Sepertinya, penyakit ini semakin lama semakin membuat tubuhku mati rasa..."


"Kau tahu, aku bahkan tidak bisa menggerakkan tubuh bagian atasku lagi..."


"Jika nanti bibirku juga kehilangan fungsinya, atau mungkin telingaku juga. Aku akan benar-benar kehilangan kalian."


"Apa maksudmu?" ucapnya


"Kau merasakannya bukan?" sambungnya


"Merasakan apa?" tanyaku bingung


"Aku menggenggam tanganmu." ucapnya dengan suara bergetar


"Aku telah mengatakannya bukan? Jika tubuh bagian atasku tak bisa merasakan apapun lagi."


"Kemarin Haruki dan sekarang..." ucap Izumi terhenti


"Kenapa tidak aku saja."


"Kau bodoh nii-chan." ucapku memotong perkataanya


"Jika kau jatuh sakit, apa kau pikir aku tidak akan sedih?"


"Jika salah satu dari kalian terjadi apa-apa, apa kau pikir aku akan berdiam diri melihat kalian hancur?"


"Akupun akan merasakan hal yang sama seperti yang kalian rasakan."


"Kau jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri nii-chan. Kau bahkan tidak mengetahui bukan apa yang sebenarnya terjadi padaku? Karena itulah, ini bukanlah kesalahanmu."


"Jika kau merasa ingin menangis..."


"Aku akan merangkulmu." sambung Izumi menimpali ucapanku


"Jika kau merasa kesepian..."


"Aku akan menghiburmu." lanjutnya kembali menimpali ucapanku


"Jika kau merasa lemah..."


"Aku akan melindungimu."


"Karena kita..."


"Adalah keluarga." ucapnya lagi


"Kenapa kau dan Haruki suka sekali mengucapkannya." Sambung Izumi dengan nada bergetar


"Karena itu, janji yang kita buat ketika kecil." kali ini akulah yang menimpali ucapannya


Udara dingin yang menampar wajahku berhasil membangunkan... Apa pintunya terbuka? Apa nii-chan lupa menutup pintunya?


"........." suaraku tak ingin keluar.


Beberapa kali mencoba berteriak, tetap saja suaraku tak bisa keluar. Apa aku sudah tidak bisa berbicara lagi?


Udara dingin yang menusuk wajahku kian menguat, seakan sebuah tumpukan es dijatuhkan tepat di atasnya. Aku tidak bisa melihat apapun, hal ini semakin membuat perasaanku mengaduk menjadi satu...


Ya Tuhan, apa lagi ini? Apa yang sebenarnya terjadi?


Izu nii-chan, dimana kau?


Kugigit pelan bibirku yang gemetar, kucoba untuk menggenggam telapak tanganku walau aku sendiri sadar hal itu sia-sia. Udara dingin tersebut semakin lama semakin menusuk, kepalaku sendiri terasa membeku menahannya...


"My Lord..." terdengar sebuah suara melintas di pikiranku