Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLXXVII


Aku berjalan masuk ke dalam ruangan, kuarahkan pandangan mataku ke arah sekeliling, menatap mereka bertiga yang tengah duduk di sebuah meja makan dengan lima orang perempuan yang berhasil kami selamatkan sebelumnya. “Selamat malam,” tukasku menarik kursi yang ada di tengah-tengah Haruki dan Izumi lalu mendudukinya.


Aku menganggukkan kepalaku, membalas salam yang dilakukan lima orang perempuan tadi. Kami memakan makanan yang ada di meja tanpa mengucapkan sepatah kata pun, hanya lirikan mata dari para perempuan itu saja yang terlihat curi-curi pandang ke arah saudara-saudaraku. “Jeruk ini manis sekali. Cobalah, nii-chan,” ungkapku berbalik ke arah Haruki dengan sebutir jeruk yang telah aku kupas di tangan.


Haruki mendekatkan wajahnya, menggigit jeruk yang aku arahkan kepadanya. “Berikan kepadaku juga,” kepalaku tertarik ke belakang saat telapak tangan Izumi menyentuh keningku lalu menariknya ke arahnya.


Aku membelah seruas jeruk yang ada di tanganku, wajah Izumi bergerak di samping wajahku saat aku mengarahkan potongan jeruk tadi ke arahnya. “Nii-chan, bisakah kau melepaskan rangkulanmu ini?” bisikku saat tatapan mataku jatuh melirik ke arah lima perempuan tadi yang terpaku menatap kami.


Aku tertunduk dengan menepuk-nepuk leherku ketika Izumi melepaskan rangkulannya. “Apa kalian memang sedekat ini?” Salah seorang dari mereka memberanikan diri bertanya.


“Kedekatan kami, memang sering membuat banyak orang salah paham. Tapi, aku tidak tertarik menjadikan perempuan banyak bicara ini menjadi pasanganku,” ucap Izumi yang ditimpali senyum kecil dari Haruki.


“Siapa juga, yang ingin menjadikan laki-laki yang suka mencari kesalahan seseorang untuk dijadikan pasangan.”


“Sakit!” rintihku saat cubitan Izumi di pipiku menghentikan perkataan yang aku ucapkan.


Aku mengusap pipiku beberapa kali saat dia melepaskan cubitannya itu. Kutarik napas dalam saat aku mengangkat kembali kepala menatapi mereka berlima bergantian, “aku hanya ingin mengatakan, jangan terlalu memiliki pikiran untuk mendapatkan salah satu di antara mereka. Percayalah kepadaku, itu akan membuang-buang waktu kalian,” ungkapku, para perempuan tersebut semakin mematung ketika aku mengatakannya.


“Kami, akan berhenti di tengah perjalanan. Kalian, bisa melanjutkan perjalanan menggunakan kapal ini, kapal ini akan membawa kalian ke sebuah tempat. Di sana, ada sebuah yayasan yang membantu banyak sekali perempuan untuk bertahan hidup, di sana … Kalian akan bertemu banyak sekali perempuan, belajarlah apa pun dari mereka dan raih kebahagiaan kalian sendiri.”


“Kesempatan ini, tidak akan datang dua kali di dalam kehidupan. Jadi, manfaatkan semuanya dengan sangat baik,” sambungku dengan meletakkan sisa jeruk yang ada di tanganku ke atas piring.


_______________.


Lama aku berdiri di depan pintu, kutarik napasku sedalam mungkin sebelum aku mengetuk pintu tersebut, “nii-chan, kau memanggilku?” tukasku dengan lanjut mengetuk pintu tadi.


“Masuklah!” balas suara Haruki yang terdengar dari arah luar.


Aku mengangkat tangan membuka pintu tersebut. Langkahku berlanjut mendekati sebuah kursi lalu mendudukinya, “ada apa, nii-chan? Apa ada sesuatu yang penting?” tanyaku menatapnya yang tengah membaca beberapa lembar kertas di tangannya.


Haruki meletakkan lembaran kertas yang ia pegang ke atas meja yang ada di hadapan kami, “apa kau yakin? Tidak memanggil Kou saat itu?” Dia balas bertanya dengan menatapku.


Haruki menyandarkan dirinya ke kursi, sebelah tangannya terangkat menyangga kepalanya yang sedikit miring ke kanan itu, “lalu, kenapa dia tiba-tiba muncul seperti itu? Apa ini berhubungan denganmu yang sudah menikah? Maksudku, Kou akan semakin kuat setelah kau dewasa, bukan?” tukas Haruki dengan masih menatap padaku.


“Entahlah, namun … Aku akan berbicara kepadanya, agar jangan tiba-tiba muncul saat aku tidak memintanya. Aku tidak ingin, apa yang ia lakukan, justru menghambat apa yang kita lakukan.”


“Kau paham juga apa yang aku maksudkan. Kita tidak memiliki banyak waktu Sa-chan, jadi … Kita harus menyingkirkan apa pun yang akan menghambat kita,” sambung Haruki sambil membuang pandangan matanya ke samping.


_____________.


Aku berjalan keluar kapal sambil mengencangkan ikatan di jubah yang aku kenakan. Langkahku terus berlanjut mendekati mereka yang telah duduk di masing-masing kuda mereka, “kalian, cepat sekali bersiapnya,” ungkapku yang telah berdiri di samping seekor kuda lalu menaikinya.


“Kau, susah sekali untuk dibangunkan,” timpal Izumi diikuti kuda yang ia tunggangi bergerak ke samping.


Aku turut menggerakkan kudaku saat awak kapal telah menurunkan sebilah papan untuk menjadi jalan kami turun. Aku menoleh ke arah lautan yang masih sedikit gelap karena matahari belum menampakkan bentuknya. Kugerakkan tali kekang hingga kuda milikku itu berjalan mengikuti mereka saat tatapan mataku kembali beralih kepada Haruki dan Eneas yang telah terlebih dahulu berjalan turun dari kapal.


Kudaku terus berjalan dan terus berjalan menyusuri jalan yang masih sepi, hanya beberapa tiang-tiang lampu yang menerangi jalan yang kami lalui itu. Semakin lama kami berjalan, semakin terang juga jalan yang kami lewati … Beberapa pintu dan jendela rumah-rumah yang ada di sekitar mulai terbuka, hanya lampu-lampu di sepanjang jalan saja yang masih menyala, menunggu minyak yang membakarnya itu habis.


Langkah kuda kami terus berlanjut, semakin kami berjalan maju, semakin ramai pula para penduduk yang tengah berdiri di lapak-lapak mereka di kanan dan kiri jalan. Tak seperti di tempat lain, yang kadang kala penduduknya melirik tajam ke arah kami, di sini … Mereka hanya sibuk mengurus apa yang harus mereka urus. Bahkan, saking riuhnya keadaan di sekitar, rasa dingin yang sebelumnya menjalar seakan musnah begitu saja.


Kami turut menghentikan kuda saat Haruki yang memimpin perjalanan juga telah menghentikan kuda miliknya. Dia mengikatkan kuda miliknya itu ke sebuah kayu seperti pagar sebelum ia sendiri berjalan masuk ke dalam bangunan. Aku memberikan tali kekang kuda milikku kepada Izumi yang mengangkat telapak tangannya, lama kutatap dia yang mengikat erat tali kekang kuda milikku itu ke pagar yang sama sebelum kami berdua masuk ke dalam bangunan menyusul Haruki dan juga Eneas.


Saat kami masuk ke dalam, seorang laki-laki muda memberikan kunci kepada Haruki setelah dia memberikan sebuah kantung kulit kepada laki-laki tadi. “Kalian, langsung ingin melihat-lihat sekitar, atau ingin beristirahat terlebih dahulu?” tanya Haruki ketika langkah kakinya melangkah mendekati kami bertiga.


“Kita sudah beristirahat beberapa pekan di kapal, aku hanya ingin langsung melihat-lihat keadaan di sekitar dan juga mencicipi makanan apa yang ada di sini.”


“Nii-chan benar, kita bahkan belum mencicipi apa pun di Wattana kemarin,” aku balas bergumam pelan menimpali perkataan Izumi.


“Baiklah.” tukas Haruki seraya berbalik memunggungi kami, “kita hanya akan meletakkan tas berisi pakaian di dalam kamar. Lalu kita cari sarapan di sekitar sini setelahnya,” sambungnya sambil melangkahkan kakinya menjauh.