Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXIX


"Lintang, Kapten Kerajaan Balawijaya..."


"Dirga, Wakil kapten Kerajaan Balawijaya..."


"Memberikan hormat padamu," ucap mereka bergantian, membungkukkan tubuh mereka ke hadapanku dengan sebelah lengan masing-masing menempel di dada.


"Takaoka Sachi, Putri kedua Kerajaan Sora. Menerima hormat, dan mohon bantuannya kepada kalian semua," balasku, kutatap mereka berdua yang telah kembali beranjak berdiri.


"Apa kalian telah mengetahui siapa musuh yang akan menyerang Kerajaan ini?" tanyaku kepada mereka.


"Kami belum mendapatkan kabar terbaru dari beberapa Kesatria yang aku utus untuk memata-matai," ungkap seorang laki-laki yang bernama Lintang tadi.


"Izu nii-chan!" ucapku seraya menoleh aku menatapnya.


"Ada apa?"


"Aku ingin kau terbang bersama Kou untuk mencari informasi sebanyak apapun tentang musuh, berapa banyak pasukannya? senjata apa yang mereka bawa, semuanya... Beritahukan padaku semuanya," ucapku menatapnya.


"Apa kau ingin Kou membekukan mereka semua?"


"Tidak, selama Kaisar tidak mengeluarkan Naganya untuk menyerang manusia, maka selama itu juga... Aku tidak akan menggunakan Kou, mungkin Monster ketika di Metin adalah pengecualiannya. Karena permasalahan manusia, haruslah diselesaikan dengan sesama manusia," ucapku lagi padanya.


"Aku mengerti, serahkan semuanya padaku."


"Danur!" ucapku lagi dengan nada sedikit meninggi.


"Aku ingin kau menemani Kakakku. Karena, kemampuanmu yang juga bisa berkomunikasi dengan Kou dulu, benar-benar membuatku terkejut," sambungku seraya kuarahkan pandanganku menatapnya.


"A-aku me-mengerti."


Menatap aku ke atas seraya kupanggil Kou agar segera muncul, lingkaran gerbang sihir miliknya kembali terbuka di atas langit. Terdengar teriakan-teriakan kuat di sekitarku, Adinata kembali berteriak lantang, keadaan kembali menghening seperti sebelumnya...


Kualihkan pandanganku pada Izumi dan juga Danurdara yang telah berjalan mendekati Kou yang telah mendarat jauh di hadapan kami. Ditatapnya aku dari jauh olehnya seraya beberapa kali ia memejamkan matanya dengan sangat pelan ke arahku...


"Apa maksudmu jika Adikku bisa berkomunikasi dengan Naga itu?" terdengar suara Adinata, kuarahkan pandanganku menoleh ke arahnya.


"Akupun terkejut pada awalnya, akan tetapi hanya manusia seperti Danur yang dapat melakukannya. Tanpa melakukan kontrak dia bisa menembus pikiran seekor Naga, dan dia sedikit bisa melafalkan bahasa kuno benar-benar kemampuan yang mengerikan... Begitulah yang dikatakan Kou dahulu padaku, jika Danur tidak bisa melakukannya... Enam tahun yang lalu, akan menjadi mimpi buruk untuk kita semua," ungkapku seraya terus menatap Izumi dan Danurdara yang telah naik di atas punggung Kou.


"Sebelum bertemu denganmu, Adikku selalu menganggap kemampuannya seperti kutukan, orang-orang disekitar seringkali menganggapnya sedikit tidak waras karena ia sering berbicara sesuatu yang tidak kami mengerti..."


"Kau tidak harus berterima kasih padaku, hanya bahagiakan saja sahabatku Julissa," ungkapku balas tersenyum menatapnya.


"Aku mengerti," ucapnya seraya mengalihkan pandangannya dariku.


Ikut menoleh aku ke arah pandangannya Adinata, tampak kulihat... Ribuan atau mungkin puluhan ribu laki-laki berjalan mendekati, mereka tidak mengenakan baju zirah seperti para Kesatria... Jadi bisa dipastikan...


"Mereka telah sampai, para pasukan pejalan kaki untuk kita," ucap Adinata kembali.


"Sejak kapan kau mengumpulkan mereka?"


"Entahlah, aku hanya meminta beberapa Kesatria milikku untuk menyebarkan berita perang dan meminta lapisan masyarakat untuk ikut turut andil melakukannya. Dan tentunya, aku mengimingi mereka dengan hadiah yang cukup besar jika mereka nantinya dapat membawa banyak sekali kepala musuh untukku," sambung Adinata menjawab perkataanku.


"Mereka hanyalah rakyat biasa yang tak tahu-menahu tentang berperang sebelumnya, kau harus memberikan dukungan moral kepada mereka yang banyak terlebih dahulu, jika tidak... Itu akan membuat semuanya menjadi bencana untuk kita karena mereka mundur ketakutan saat sadar kematian ada di depan mereka," ucapku seraya tetap kuarahkan pandangan mataku ke arah ribuan laki-laki yang membawa buntalan kain di masing-masing punggung mereka.


"Aku mengerti Hime-sama, sesuai perintah darimu."


"Zeki! Aydin! dan juga Dirga!" teriakku berbalik menatap mereka, menoleh mereka ke arahku seraya bergerak mereka melangkah mendekati.


"Ada apa?" ucap Zeki yang telah berdiri di hadapanku, ikut kuarahkan pandanganku pada Aydin dan juga laki-laki bernama Dirga yang juga telah berdiri di samping kanan dan kiri Zeki.


"Aku menginginkan kalian untuk memberikan pelatihan dasar bertarung pada para pasukan pejalan kaki, setidaknya... Aku tidak ingin jika mereka mati tanpa melakukan sedikitpun perlawanan pada musuh," ucapku lagi pada mereka.


"Kenapa mereka bertiga?" ucap Adinata, kualihkan pandanganku menatap ke arahnya.


"Zeki adalah seorang Kapten, dia telah terbiasa melakukan pelatihan untuk seluruh pasukan miliknya. Aydin seorang perompak, dia telah terbiasa memimpin pasukan yang berisi orang-orang barbar, dan masyarakat biasa yang belum pernah bersentuhan dengan para bangsawan memerlukan sosok seperti dirinya untuk menciptakan kedekatan. Sedangkan Dirga, dia seorang Wakil kapten... Sama seperti Zeki maupun Aydin, seorang Wakil kapten juga sudah terbiasa melatih para Kesatria dibawah naungan miliknya," ucapku seraya kualihkan pandanganku pada mereka bertiga kembali.


"Karena itu, aku memohon bantuan kalian bertiga akan hal ini. Aku mempercayakan masa depan mereka, pada pelatihan yang akan kalian lakukan," ungkapku lagi, kuarahkan pandangan mataku menatapi mereka satu-persatu.


"Aku mengerti, serahkan semuanya padaku," sambung Zeki seraya melangkah ia melewati, kuarahkan pandanganku padanya yang berjalan mendekati pasukan pejalan kaki dengan Aydin dan juga Dirga berjalan di belakangnya.


"Adinata," ungkapku, kembali kuarahkan pandanganku menatapnya.


"Ada apa?"


"Bawa aku melihat semua persenjataan yang kalian punya, aku akan memikirkan rencana apa yang akan kulakukan setelah aku memastikan senjata apa saja yang kalian miliki," sambungku, kutatap ia yang juga tersenyum menatapku.