
"Talinya terbakar," ucap Izumi duduk berjongkok, diraihnya tali yang aku lemparkan tadi.
"Ular dan sekarang ini. Bukankah kalian merasakan ada yang aneh?" Ucap Haruki berjalan mendekati Izumi saat Izumi beranjak berdiri dengan mengangkat tali tadi di tangannya.
"Yang ingin kau maksudkan adalah, semua yang kita lihat dan dengar itu salah. Sedangkan semua yang Sachi lihat dan dengar itu benar?" Sambung Zeki mengalihkan pandangannya menatapku.
"Aku tidak tahu tempat apa ini. Tapi jika benar seperti itu, satu-satunya cara agar kita selamat dari sini adalah mengandalkan semua apa yang Sachi rasakan," ucap Haruki ikut mengarahkan pandangannya menatapku.
"Dengan kata lain, kita tidak bisa mempercayai akan semua apa yang kita lihat maupun dengar?" Ungkap Aydin yang dibalas anggukan kepala oleh Haruki.
"Jadi, Sa-chan. Kami mengandalkanmu."
___________________
"Bagaimana Putri, apa kau merasakan sesuatu?" Ucap Aydin berbalik sambil melangkah mundur.
"Aku tidak merasakan apapun," ucapku tertunduk lalu mengusap keringat yang jatuh di wajah.
"Aku lelah," sambung Izumi duduk di atas pasir, kepalanya tertunduk diantara kedua kakinya yang bertekuk.
Aku berjalan mundur ke belakang saat banyak sekali mata yang muncul berjalan mendekati kami. Bayangan hewan berkaki empat semakin jelas terlihat saat beberapa pasang mata itu semakin bergerak mendekati kami.
"Lari," ucapku pada mereka, Izumi beranjak berdiri saat aku berjalan mundur ke belakang.
"Ada apa?"
"Lari dari sini secepatnya!" Ucapku, aku berbalik menggerakkan kaki dengan secepat mungkin berlari. Kepalaku berbalik, mereka berempat tampak ikut berlari cepat mengikuti.
"Ada apa?" Ucap Haruki kembali yang telah berdiri di sampingku.
"Zeki, di sampingmu," ucapku menarik lengannya, tubuh kami jatuh berguling di hamparan pasir.
Aku melirik ke arah Haruki, Izumi dan juga Aydin yang masih berlari ke arah kami. Zeki mengangkat tubuhnya dari atas tubuhku, kugerakkan tubuhku beranjak duduk sambil memegang pundak Zeki yang ada di sampingku.
"Izu nii-chan, di belakangmu!"
"Menunduk Izumi!" Teriak Aydin yang langsung menggerakkan pedang yang ia genggam ke arah Izumi.
Izumi dengan cepat menunduk, pedang milik Aydin membelah perut seekor hewan yang hendak menyerang Izumi tadi. Darah memercik di udara saat Aydin kembali menggerakkan pedang miliknya.
"Sebenarnya apa yang aku serang," ucap Aydin kembali menggerakkan pedangnya ke sembarang arah.
"Aku akan membantu mereka, kau pikirkan saja caranya untuk kami melawan mereka," ucap Zeki beranjak berdiri lalu berlari mendekati mereka bertiga yang tampak sibuk mengayunkan pedang yang ada di masing-masing tangan mereka ke segala arah.
"Apa, apa yang harus aku lakukan," ucapku menggerakkan bola mataku ke kanan dan ke kiri mencoba memikirkan sesuatu.
"Benar, jejak kaki," ucapku menatap bekas telapak tanganku yang tercetak di atas pasir.
Aydin berbalik melangkahkan kakinya ke belakang, Zeki ke arah sebaliknya. Haruki berlari ke samping kanan, sedangkan Izumi berlari ke arah sebaliknya. Mereka berempat menundukkan kepala, menatapi pasir yang menghampar di sekitar mereka.
Haruki berbalik mengayunkan pedang miliknya ke atas, ujung pedang miliknya menggores tubuh hewan tersebut saat hewan itu hendak melompat ke tubuh Haruki.
Tunggu, kenapa hewan-hewan itu hanya menyerang mereka berempat? Tak ada seekor pun dari mereka yang bahkan mendekat ke arahku.
"Aydin, di samping kananmu. Ayunkan pedangmu ke bawah!" Teriakku, Aydin berbalik dengan mengayunkan pedang miliknya mengikuti apa yang aku perintahkan. Hewan yang mengendap-endap di dekat kakinya tadi, mati tersungkur dengan kepala yang hampir terlepas.
"Izu nii-chan berbalik!" Teriakku kembali dengan sangat keras. Izumi membalikkan tubuhnya, ia jatuh ke belakang dengan makhluk tadi duduk di atas dadanya.
Zeki berlari mendekati Izumi, pedang yang ada di tangannya dilemparkannya dengan kuat ke arah Izumi hingga pedang tersebut menembus perut hewan tadi. Izumi meraih pedang milik Zeki lalu menggerakkan pedang tersebut hingga membelah dan menumpahkan semua isi perut makhluk tadi di atas tubuh Izumi.
Aku berlari mendekati mereka, kuangkat pedang milikku saat seekor hewan yang hendak menyerang Zeki dari belakang menghentikan langkah kakinya. Hewan-hewan tersebut berbalik lalu berlari meninggalkan kami saat sebuah suara terompet terdengar di telinga.
"Apa kalian baik-baik saja?" Ucapku kembali memasukkan pedang milikku kembali ke sarungnya.
"Aydin, mereka telah lari," ucapku menatapnya yang masih mengayunkan pedang miliknya ke udara.
"Benarkah?" Ungkap Aydin menurunkan pedang miliknya dengan kepala tertunduk.
"Sebenarnya makhluk apa yang menyerang kita tadi," ucap Izumi berjalan mendekat sembari mengembalikan pedang milik Zeki yang ia genggam.
"Aku tidak tahu makhluk apa persisnya. Dia memiliki bentuk wajah seperti serigala, akan tetapi berbulu loreng seperti harimau dengan ekor pendek sebesar genggaman tangan," ucapku mengarahkan genggaman telapak tanganku ke arah mereka.
"Serigala? Harimau?"
"Manusia ikan seperti mu, tidak akan mengerti," ucap Zeki duduk dengan menancapkan pedang miliknya di samping tubuhnya.
"Aku akan membunuhmu setelah kita keluar dari sini. Aku pastikan itu," ucap Aydin ikut duduk lalu membaringkan tubuhnya di atas pasir.
"Terima kasih, tapi aku tak akan semudah itu mati di tangan laki-laki sepertimu," ucap Zeki mengangkat kepalanya mendongak ke atas langit.
"Apa yang akan kita lakukan setelah ini?"
"Aku ingin mengumpulkan tenaga terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan," ucap Haruki yang juga ikut duduk dengan menjulurkan kedua kakinya ke depan.
"Nii-chan, bersihkan darah yang ada di tubuhmu," ucapku menyerahkan sehelai kain kecil yang aku ambil dari dalam tas, Izumi meraih kain yang ada di tanganku lalu disapukannya kain tadi membersihkan sisa-sisa darah hewan tadi yang masih menempel di tubuhnya.
"Aku ingin kita mengikuti jejak hewan tadi," ucapku, mereka semua beralih menatapku secara bersamaan.
"Aku mendengar sebuah suara terompet sebelum hewan-hewan tadi berlari pergi..."
"Jadi yang ingin kau ucapkan, kita bisa mengetahui dalang semua yang ada di sini jika mengikuti makhluk-makhluk itu?" Ungkap Izumi menimpali perkataanku.
"Benar, semakin cepat kita menemukannya. Semakin cepat juga kita pergi dari tempat ini," ucapku kembali kepada mereka.