Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXXV


Aku mengusap bibir menggunakan telapak tangan, Matahari yang kian membumbung tinggi semakin membuat pandangan yang ada di sekitar kami terlihat jelas. “Apa itu, pemakaman masal?” gumam Izumi yang ada di sampingku.


Aku beranjak turun dari atas kuda dengan memberikan tali kekang kuda milikku ke telapak tangan Tsubaru yang terbuka. “Berhati-hatilah,” tukas Izumi yang juga telah turun dari atas kudanya lalu melangkahkan kakinya di samping.


Aku meraih lalu menggenggam tangan Izumi, dengan perlahan kami menuruni jurang yang ada di depan kami. Aku melirik ke samping, menatap tulang-tulang atau bahkan tengkorak yang berserakan … Yang lebih membuat langkahku berat, ialah saat kedua mataku terjatuh kepada mayat busuk yang setengah terbenam ke dalam salah satu batang pohon besar yang tumbuh di sepanjang jurang.


Aku menarik napas dalam ketika langkahku terhenti, kepalaku tertunduk dengan perlahan mengangkat sebelah kakiku yang telah terbenam di lumpur. Kedua mataku membesar, “nii-chan,” bisikku dengan melirik ke arah Izumi ketika kurasakan sesuatu menyentuh kakiku dari dalam lumpur.


Aku spontan berteriak dengan merangkul leher Izumi hingga kami berdua terjatuh ke dalam lumpur saat kurasakan sesuatu hampir melilit kakiku. “A-” tukas Izumi terhenti, dia langsung tertunduk sambil mengusap wajahnya yang penuh lumpur menggunakan lengannya.


Aku sedikit memiringkan kepalaku, mengusap samping wajah yang juga penuh dengan lumpur ketika ikut jatuh bersama Izumi, “apa yang kau lakukan?!” bentaknya ketika dia menatapku dengan wajahnya yang menghitam.


“Kalian berdua, apa yang kalian berdua lakukan?!”


“Tanyakan kepadanya yang tiba-tiba saja menarikku hingga jatuh!” balas Izumi membentak Haruki yang telah kembali duduk di atas kudanya menatap kami.


“Ada yang melilit kakiku di dalam lumpur. Benar-benar membuatku geli,” sambungku berteriak, aku mengangkat tangan meraih tangan Tsubaru yang menjulur ke arahku.


“Maafkan aku, itu sebenarnya akarku, Aku sengaja menyebarkannya untuk memastikan keadaan sekitar.”


“Setidaknya beritahukan kepadaku dulu jika kau ingin melakukannya, Ryu!


“Maafkan aku, maafkan aku. Aku pikir, kau mungkin sudah merasakannya,” ungkap Ryuzaki yang juga menatapku dari atas kudanya.


“Putri,” ucap Tsubaru yang membuatku menoleh ke arahnya.


Aku sedikit memiringkan wajah ketika Tsubaru mengangkat lengannya lalu mengusap lengan pakaiannya itu ke samping wajahku yang penuh akan lumpur. “Jantungku hampir saja lepas tadi. Astaga, menjengkelkan sekali,” gumamku sembari melangkah mendekati kuda milikku lalu menaikinya.


“Sebenarnya apa yang kau takutkan? Selama ini kau selalu menghadapi banyak sekali makhluk-makhluk aneh,” gerutu Izumi yang terdengar dari arah belakang.


“Ini dan itu adalah sesuatu yang berbeda. Lagi pun, aku hanya terkejut, dan juga … Karena aku tidak bisa melihat apa yang ada di dalam lumpur membuatku semakin, semakin-”


“Kalian benar-benar membuatku pusing. Ryu, jika kau ingin mengeluarkan sihir, setidaknya beri kami tanda-tanda agar bisa siap … Karena sudah banyak yang terjadi selama perjalanan, membuat semua orang menjadi was-was dan berhati-hati. Sesuatu yang mencurigakan akan langsung membuat pikiran orang kacau, apa kau mengerti?” tukas Haruki, dia menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arahnya.


“Aku mengerti kakak, aku tidak akan mengulanginya,” sambung Ryuzaki, Haruki kembali menganggukkan kepalanya sebelum langkah kudanya berlanjut.


“Putri, apa kau yakin baik-baik saja?”


“Aku baik-baik saja, Tsubaru. Aku hanya sedikit terkejut saja tadi.”


“Sachi, maaf.”


Aku berbalik ke samping, menatap Ryuzaki yang telah berkuda menatapku, “tidak apa-apa, aku sudah tidak mempermasalahkannya,” ungkapku, wajahku kembali tertunduk dengan menggerakkan tali kekang hingga kuda milikku itu melanjutkan langkahnya.


Semakin kami berjalan maju, semakin itu juga kuda yang aku tunggangi tenggelam ke dalam air. Aku melirik ke arah Tsubaru, dia terus berjalan di sampingku walau air yang ada telah menyentuh dadanya. “Haruki, apa kita harus melanjutkan perjalanan? Maksudku, aku tidak yakin jika ada seseorang yang tinggal di sana,” timpal Izumi yang tiba-tiba kembali bersuara, dia mengangkat wajahnya yang sebelumnya ia basuh menggunakan air ke arah Haruki yang berkuda di depan kami.


“Bagaimana menurutmu, Ryu?” ucap Haruki, kudanya berhenti dengan wajahnya menoleh ke arah Ryuzaki yang berkuda di sampingku.


“Aku kesulitan merasakan apa yang ada di depan sana dengan air sebanyak ini,” jawab Ryuzaki saat dia kembali membuka kedua matanya.


“Bagaimana denganmu Sachi, apa kau merasakan sesuatu di sana?”


“Dan kau, Lux? Apa kau merasakan sesuatu?” sambung Haruki kembali yang melirik ke arah Tatsuya yang ada di dekatnya.


“Dia mengatakan, untuk sekarang tidak. Mungkin jika kita sedikit lebih maju, dia akan merasakan sesuatu,” tukas Tatsuya yang menoleh ke arah Haruki saat sebelumnya dia menoleh ke arah Lux yang duduk di pundaknya.


“Jadi bagaimana? Apa kalian ingin kembali setelah sejauh ini?”


“Aku tidak ingin kembali sebelum memastikannya. Jika pun tidak ada kehidupan di sana, setidaknya kita bisa mencari kemungkinan yang lain mengenai surat itu,” ungkapku, kudaku bergerak semakin mendekati Haruki ketika kedua tanganku menggoyangkan kembali tali kekang.


“Baiklah, kita akan melanjutkan perjalanan,” timpal Izumi yang membuat Haruki tersenyum menatapnya.


Aku terhenyak saat Haruki tiba-tiba melompat turun dari atas kuda miliknya, “Tatsuya, naiklah!”


“Tapi Yang Mulia,” ucap Tatsuya ketika Haruki telah berjalan lalu menghentikan langkah di depannya.


“Jika aku mengatakan naik ke atas kuda, maka naiklah!”


Aku mengerutkan kening ketika lirikan Haruki mengarah kepadaku, “Tsubaru, naiklah ke atas kuda,” tukasku yang ikut turun dari atas kuda yang aku tunggangi.


“Eh? Putri?”


“Tsutomu, naiklah!” imbuh Izumi yang rupanya juga telah melakukan hal yang sama seperti kami.


“Yuki, kau pun naiklah!” sambung Eneas, aku melirik ke arahnya ketika dia berjalan dengan air yang telah mencapai dagunya.


“Arata, kau juga naiklah ke atas kuda yang membawa tas,” perintah Haruki dengan mengangkat jari telunjuknya ke arah kuda yang ada di samping Tsutomu.


“Tapi, tapi kenapa kami harus melakukannya?”


“Tsutomu benar, Yang Mulia. Kami tidak pantas menunggangi kuda, sedang kalian berjalan di tengah air,” timpal Tatsuya, dia terlihat kebingungan menatapi kami.


“Kami berempat bisa bernapas di dalam air, sedangkan kalian tidak bisa. Jika air semakin meninggi, kalian akan tenggelam, dan di saat itu juga aku akan memerintahkan kalian untuk jangan mengikuti kami dan hanya duduk saja di kuda,” ungkap Haruki, dia mengarahkan lirikannya ke arah kami bergantian.


“Tapi Yang-”


“Tidak ada tapi-tapian!” bentak Haruki yang langsung memotong perkataan Tatsuya.


“Jika kalian memaksakan diri, kalian akan mengganggu perjalanan kami. Jadi ikuti saja perintahku, jangan menentangnya!”


“Laksanakan, Yang Mulia.”


“Laksanakan, Pangeran,” ucap Tatsuya dan wakil kapten yang lain secara bersamaan.


“Putri.”


“Seperti yang dikatakan kakakku, kami bisa bernapas di dalam air. Sedalam apa pun air, kami bisa tetap melanjutkan perjalanan dengan mudah. Jadi-”


“Sesuai perintah darimu, Putri,” ucapnya, aku memundurkan langkah saat Tsubaru telah meletakkan telapak tangannya di punggung kuda milikku.