
"Aku sudah katakan jangan bergerak," ucapku, kucubit paha Danurdara dengan kuat.
"Ta-tapi i-ini ha-hanya lu-luka go-gores," ungkapnya berusaha mengangkat kakinya yang berada di atas pahaku.
"Luka gores jika tak segera ditangani akan menimbulkan infeksi," ungkapku seraya mengambil sedikit obat herbal yang dibuatkan Lux sebelumnya, kubalurkan obat tersebut ke luka yang ada di kakinya Danurdara.
Kuambil pedangku yang ada di samping Danurdara, kuarahkan pedang tersebut hingga merobek lengan pakaianku. Kulilitkan sobekan pakaianku tadi menutupi luka yang ada di kaki Danurdara.
"Sa-chan, kami menyisakan satu makhluk untukmu," ucap Haruki menendang makhluk kerdil yang tangannya telah mereka ikat ke belakang, tersungkur makhluk itu akibat tendangan dari Haruki.
"Makhluk apa kalian?" tanyaku, kuturunkan kaki Danurdara dari atas pahaku seraya beranjak aku mendekatinya. Tampak terlihat bola mata berwarna hitam yang ada padanya membesar.
"Aku mengerti bahasa kalian, aku tanyakan sekali lagi, makhluk apa kalian?"
"Kurcaci?" tanyaku lagi, tampak makhluk tersebut meringis mencoba memberontak. Berdesis ia seraya memperlihatkan gigi-giginya yang berwarna hitam.
"My..."
Kupukul dengan kuat wajahnya, teriakannya sendiri langsung terhenti saat itu juga. Kutarik jenggot hitamnya yang menggimbal itu, tubuhnya yang tersungkur sebelumnya beranjak karena tarikan tanganku di jenggotnya.
"My Lord?" ucapku lagi tersenyum menatapnya.
"Sebagai informasi untukmu, akupun dipanggil dengan sebutan My Lord oleh seekor Naga es agung."
"Jangan membuang waktuku, hanya katakan dimana inti sihir itu berada?"
"Aku tidak akan memberitahukannya kepada manusia rendahan seperti kalian," ucapnya tersenyum mencibir.
"Dia tidak bisa diajak berkomunikasi," ucapku menatap Haruki.
"Kalau begitu, tidak ada gunanya membiarkan dia hidup," berdiri Haruki dibelakangnya, diangkatnya pedang yang tergantung di pinggangnya lalu ditancapkannya pedang tersebut menembus kepala Kurcaci yang duduk di hadapannya.
Bola matanya yang menatapku sebelumnya, bergerak naik ke atas. Mulutnya terbuka menganga di hadapanku, jatuh tersungkur tubuh Kurcaci yang sudah tak bernyawa itu.
"Apa Izu nii-chan masih belum selesai menguburkan mayat para perempuan tadi?" ucapku tertunduk, kuusap kedua mataku yang sudah mulai kelelahan.
"Mereka masih belum selesai..."
"Aku akan membantu mereka, sekaligus membuang mayat makhluk menjijikan ini," sambung Haruki berbalik berjalan seraya menarik mayat Kurcaci tadi menggunakan tangan kirinya.
"Ka-kau bi-bisa ba-bahasa me-mereka, Sa-sachi?" ucap Danurdara.
"Aku bisa," ucapku tersenyum menatapnya.
"Ka-kau he-hebat se-sekali, ti-tidak a-ada ya-yang ti-tidak bi-bisa ka-kau la-lakukan."
"Masih banyak yang tidak bisa aku lakukan, karena itulah kedua kakakku selalu ada disampingku."
____________
"Sampai kapan kita akan terus berjalan?"
"Tapi aku lapar," gerutunya pelan.
"Aku juga lapar, kita semua juga lapar. Apalagi mereka yang bertarung, berapa banyak tenaga yang sudah mereka habiskan," cibir Julissa menanggapi celotehan dari Luana.
"Tapi mau bagaimana..."
"Berisik!" teriakku, berbalik mereka diam menatapku.
"Aku, aku yang lebih merasakan lelah diantara kalian. Otakku lelah berpikir, tubuhku lelah bergerak dan bertarung, hatiku lelah mengkhawatirkan kalian..."
"Tidak bisakah kalian berhenti mengeluh, akupun ingin pulang kerumah. Aku ingin bertemu dengan Ayahku lagi, aku ingin makan malam bersamanya lagi," tangisku, duduk aku berjongkok seraya menutup kepalaku menggunakan kedua lengan.
"Mereka yang terjebak di dalam hutan ini juga merasakan hal yang sama. Akupun juga ingin menyelamatkan mereka, aku tidak ingin lagi melihat mayat-mayat mereka yang tidak bersalah..."
"Aku menye..."
"Sachi!" teriak Haruki, berjongkok ia dihadapanku. Diletakkannya telapak tangannya menyentuh kedua pipiku.
"Nii-chan..." tangisanku semakin keras dari sebelumnya, kugenggam telapak tangannya yang memegang pipiku.
"Aku takut... bertanggung jawab akan nyawa seseorang membuatku takut nii-chan."
"Lihat aku! Lihat kakakmu ini! Apa kau sama sekali tidak peduli padaku? atau pada Izumi?"
"Kau lelah bukan? kita akan beristirahat, tenangkan dirimu," ucapnya lagi, beranjak ia berdiri seraya menundukkan tubuhnya. Diarahkan dan diangkatnya kedua lengannya menggendongku...
"Aku sudah mengatakannya bukan? Aku hanya peduli pada nyawa kedua adikku. Jika kalian terlalu membebani mereka, enyahlah dari hadapanku," ucap Haruki berbalik seraya berjalan menjauhi mereka.
"Harusnya kalian bersyukur, kakak dan adikku menerima kalian dengan tangan terbuka. Apa kalian pikir, kalian dapat bertahan hidup sampai sekarang jika bergabung dengan kelompok lain?" sambung Izumi diikuti suara langkah kaki yang mengiringi langkah Haruki.
"Terlalu banyak celotehan, tanpa dapat memberikan timbal balik apapun. Semua yang disini juga para bangsawan, jangan memaksa ingin diperlakukan istimewa. Itu menjijikan," ikut juga terdengar suara Zeki yang semakin samar terdengar.
Berjalan Haruki membawaku ke sebuah pohon besar, diturunkannya tubuhku bersandar di batang pohon tersebut. Berjongkok Haruki di hadapanku diikuti Izumi yang berdiri disampingnya dengan sebuah obor terbuat dari dahan kayu yang dililitkan kain.
"Apa kau lapar? aku akan mencarikan makanan untukmu?" ucap Izumi ikut berjongkok dihadapanku.
"Aku baik-baik saja, hanya saja aku mungkin sedikit kelelahan sehingga tidak bisa mengontrol emosiku..."
"Maaf," ucapku lagi kepada mereka.
"Sachi," ucap Julissa berdiri tertunduk dihadapanku, tampak terlihat yang lainnya ikut berdiri dibelakangnya.
"Aku ingin minta maaf, aku janji tidak akan mengeluhkan apapun lagi, aku janji tidak akan menyusahkanmu lagi. Jadi kumohon, jangan meninggalkanku sendirian disini. Aku takut..." ucapnya dengan suara bergetar.
"Aku tidak akan meninggalkan temanku di tempat berbahaya seperti ini begitu saja. Kemarilah..." ucapku menatapnya, berjalan dan duduk ia disampingku.
"Kau ingin pulang bukan?" ucapku, mengangguk pelan ia seraya menatapku.
"Aku berjanji akan membawamu pulang Julissa, aku berjanji akan membawamu kembali berkumpul dengan seluruh keluargamu," sambungku seraya memeluk kuat tubuhnya.