Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXX


"Tambahkan lagi airnya," ucap perempuan itu duduk di dalam sebuah kotak kayu yang aku pinta buatkan pada para perompak, kualihkan pandanganku pada para perompak yang tampak mengambil air laut dengan menggunakan sebuah ember diikatkan tali.


"Apakah sudah cukup?" Ucap seorang laki-laki dengan sebuah ember kayu di tangannya.


"Tambahkan sedikit lagi airnya," ucapku mengulangi perkataan perempuan tadi, laki-laki yang menatapku tadi menganggukkan kepalanya padaku.


"Aku telah melakukannya, sekarang beritahu aku... Apa yang harus aku lakukan untuknya?" Ucapku melangkahkan kaki mendekatinya, kualihkan pandangan mataku padanya yang mendongakkan kepalanya menatapku.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan, yang dapat melakukannya hanya si aanjing itu. Jika kau dapat memerintahkan aanjing yang melakukan hal itu kepada adikmu untuk membebaskan jiwanya, maka adikmu akan segera bangun," ucapnya mengambil sedikit air yang ada di dalam kotak menggunakan tangannya lalu menuangkannya kembali.


"Dan di mana aku dapat menemukannya?"


"Tentu saja di tempat yang banyak manusia. Akan tetapi, aku mempunyai rencana untuk menangkapnya," ucap perempuan itu melirik ke arahku.


"Rencana?"


"Karena bangsa kami tidak bisa hidup di daratan. Kami membutuhkan bantuan kalian untuk menghancurkannya... Kau bisa menyelamatkan Adikmu, aku bisa membalaskan dendam bangsa kami. Sama-sama menguntungkan bukan?" Ucapnya menoleh menatapku.


"Asal kau tahu, aku tidak mempercayai semua yang kau katakan."


"Aku pun, tak mempercayai manusia seperti kalian. Terlebih lagi, dia yang mengerti apa yang kami ucapkan sepertimu," ungkapnya meletakkan wajahnya di atas papan kayu yang mengelilingi kotak.


________________________


"Sachi, apa kau yakin ingin melakukannya?" Ucap Lux yang telah duduk di atas tubuh Eneas.


"Apa aku mempunyai pilihan Lux," ucapku mengangkat sebelah tangan Eneas lalu meletakkannya menempel di atas dahiku.


"Enam tahun aku merawatnya. Enam tahun sudah dia menjadi Adikku, bahkan kau lihat... Aku bahkan bisa melihat jakunnya yang telah tumbuh. Bagaimana mungkin, aku menelantarkannya," ucapku lagi, kuturunkan tangan Eneas yang menyentuh dahiku sembari kugenggam kuat di atas pahaku.


"Apa ada yang bisa aku lakukan? Aku akan melakukan apapun agar dia kembali," ungkap Lux dengan suara bergetar, kepalanya berbalik ke arah Eneas.


"Aku meminta Yoona untuk menjaga Cia. Selama aku pergi, bantu aku menjaganya... Usahakan tubuhnya tidak kedinginan, aku mempercayai dia padamu Lux," ucapku meletakkan tangan Eneas yang aku genggam tadi ke atas kasur.


"Aku mengerti, pastikan kau membawanya pulang, Sachi. Pastikan kau membawa keluargaku pulang," sambung Lux berbalik menatapku.


"Dan juga, berhati-hatilah. Pastikan kau kembali dengan keadaan baik-baik saja," ungkap Lux kembali saat aku beranjak berdiri dari ranjangnya Eneas.


"Aku mengerti. Aku akan membawa adik kita kembali, aku berjanji padamu Lux," ucapku berbalik melangkah meninggalkan mereka.


Kubuka pintu kamar tersebut, aku melangkah ke luar lalu berbalik menutupnya kembali. Kutarik napasku sedalam mungkin sembari kuembuskan kembali dengan sangat perlahan.


"Sachi," suara perempuan kembali terdengar, aku berbalik menatap Yoona yang telah berdiri menatapku.


"Aku berjanji akan menjaga mereka."


"Terima kasih, Yoona. Terima kasih," ucapku sembari melangkah pergi meninggalkannya.


Langkah kakiku semakin cepat melangkah, ku lirik jendela di dinding kapal yang tampak membeku. Kalian benar, aku meminta Kou berjaga-jaga di luar. Walaupun sedikit menghabiskan tenagaku, akan tetapi aku tak ingin jika ada korban selanjutnya saat aku pergi nanti.


"Kau telah siap?" Ucap perempuan setengah ikan tersebut menatapku dari dalam kotak kayu yang mengurung dirinya.


Aku berjalan mendekatinya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Langkah kakiku terhenti di samping kotak kayu yang ada perempuan tersebut di dalamnya. Perempuan itu menggerakkan sebelah tangannya mendekati tubuhnya yang dipenuhi sisik keemasan, lalu menarik salah satu sisik tersebut hingga terlepas dari tubuhnya.


Aku meraih sisik tersebut, kuangkat salah satu jariku yang mengapit sisik tadi. Tampak lendir diikuti bau amis yang menyengat memenuhi jariku tadi...


"Tunggu apalagi, cepatlah! Aku tak bisa membawamu ke dalam lautan pada malam hari, karena di bawah sangatlah gelap. Jika kita membuang-buang..."


"Aku mengerti," ucapku memotong perkataanya.


Aku sedikit mendongak ke atas, sinar bias kemerahan pagi tampak memenuhi langit. Kepalaku kembali tertunduk menatapi sisik tadi, dengan perlahan... Tanganku yang memegang sisik tadi bergerak mendekati mulutku.


Kugigit dengan pelan sisik tadi, kugerakkan tanganku yang memegang sisik tadi sedikit ke atas sembari gigiku masih menggigitnya dengan sangat kuat...


Ya Tuhan, bagaimana caranya aku memakan sisik ini? Teksturnya alot sekali, dan juga bau amisnya... Benar-benar mengaduk isi perutku.


"Kau tidak bisa memakannya?"


Ku tatap perempuan setengah ikan itu, kuangkat sebelah tanganku yang lain memegang sisik tadi. Kugerakkan kedua tanganku itu melipat sisik tersebut hingga ukurannya mengecil dibanding sebelumnya...


Kugerakkan sisik itu kembali memasuki mulutku, rahang ku bergerak cepat berusaha meluumat sisik yang ada di mulutku. Aku melirik ke atas saat kurasakan aroma amis khas ikan memenuhi rongga mulutku.


"Kau telah menelannya?" Ucapnya lagi yang di balas dengan anggukan kepala olehku.


"Baiklah, persiapan telah selesai. Bawa aku kembali ke laut," ucapnya mengarahkan kedua tangannya ke arahku.


"Kalian, bantu aku menggendongnya. Lalu lemparkan tubuhnya ke laut," ucapku menoleh ke arah dua orang Kesatria Yadgar.


"My Lord," suara Kou kembali terngiang di kepalaku, aku mendongak ke atas menatap bayangan besar yang terbang di atas kami.


"Kau tidak harus melakukannya."


"Katakan Kou, apa kau dapat menyembuhkan Eneas? Apa kau dapat mengembalikan jiwanya? Maafkan aku Kou, kau pasti paham benar... Bagaimana aku menyayanginya," ucapku menurunkan kembali pandangan, aku berbalik melangkah mengikuti jejak dua orang Kesatria tadi yang telah membawa perempuan tadi berjalan di atas kepingan es di atas laut.


"Yang Mulia," ucap dua orang Kesatria tadi yang telah menurunkan perempuan tadi ke dalam laut.


"Aku akan baik-baik saja. Bantu aku untuk menjaga mereka, dan sampaikan maaf dariku untuk mereka jika nanti mereka kembali," ucapku menarik napas dalam lalu melompat masuk ke dalam laut.


Aku membuka sedikit demi sedikit kedua mataku, aneh... Tak ada rasa perih seperti sebelumnya. Ku tatap perempuan tadi yang menggerakkan ekornya di hadapanku, dia menatapku lalu membuka lebar mulutnya, dengan sedikit berselang mengembuskan beberapa buih air dari mulutnya.


Aku mencoba membuka mulut seperti yang ia lakukan, kuhirup air yang ada di sekitar menggunakan mulutku. Kurasakan, air memenuhi dadaku... Dengan segera, kuembuskan kembali air yang aku hirup tadi diikuti rasa asin yang memenuhi rongga mulutku.


"Bagaimana? Kau dapat bernapas bukan?"


"Kenapa diam saja? Kau pun dapat berbicara di dalam air sama sepertiku," ucapnya kembali, ia menggerakkan tubuhnya berenang ke arahku.


"Berbicaralah. Di depan kita, akan banyak sekali rintangan. Laut ini, lebih berbahaya dibandingkan kelihatannya. Jika kau tersesat dan tak ingin berbicara, aku tak bisa menyelamatkanmu," bisiknya di samping telingaku.


"Tutup mulutmu! Aku tak sebodoh yang kau kira," balasku berbisik di telinganya.


"Bagus, bagus. Kita bisa pergi sekarang," ucapnya berbalik lalu berenang menjauh.


"Tapi aku serius dengan apa yang aku katakan. Jika kau tak berhati-hati, lautan ini akan menelan mu hidup-hidup. Jadi pastikan, jangan berenang terlalu jauh dariku," ucapnya kembali menoleh lalu tersenyum menatapku.