Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXCIII


“Aku tidak terlalu mengerti apa yang kau katakan. Tolong, katakan lebih jelas, Kakakku!” ujar Izumi dengan sebelah tangannya terangkat mencengkeram pundak Haruki.


“Seperti yang telah aku katakan sebelumnya. Aku, hanya sedang membuka jalan untuk Sachi menjalankan rencananya. Karena, kalau kita hanya menghindar, itu sama saja kita menyia-nyiakan waktu. Jadi, aku memerintahkan Eneas, untuk membubuhkan racun yang dapat membuat siapa yang memakannya itu tertidur pulas di daging yang kita bakar.”


“Jadi karena itu, Eneas bersikeras membantuku menyiapkan makanan tempo hari?”


“Kau menyadarinya dengan cepat, Sa-chan. Seperti yang diharapkan dari ad-”


“Aku mengganti pertanyaanku,” ucap Izumi memotong perkataan Haruki, “kau, membiarkan nyawa kita berada dalam bahaya hanya untuk ini? Apa kau tidak tahu, betapa khawatirnya aku … Memikirkan keadaan Sachi saat kita dikurung. Dan kau mengatakan, kau sengaja melakukan semua ini?!”


“Gunakan akalmu, Izumi!” ucap Haruki mengubah nada bicaranya ketika Izumi membentaknya, “sekarang dan dulu, itu berbeda. Jika dia memang berada dalam bahaya, hutan ini pasti telah beku oleh es. Para penduduk yang ada di luar, mungkin telah berada di dalam perut Kou. Kou, pasti muncul menyelamatkannya,” sambung Haruki yang membuat kami berdua menutup mulut.


“Aku, tidak akan melakukan hal bodoh dengan mengorbankan nyawa adikku sendiri. Lagi pun, dia dibesarkan oleh kita berdua … Apa kau, tidak mempercayai kemampuannya?”


“Ini, bukan masalah mempercayai kemampuannya atau tidak,” timpal Izumi sambil melepaskan cengkeraman tangannya di pundak Haruki, “hanya saja, walau dia sudah dewasa, walau dia nanti telah menjadi seorang ibu, walau nanti dia telah menjadi seorang nenek-nenek … Tetap saja, aku akan selalu mengkhawatirkan dan menjaganya sebagai seorang kakak.”


“Walau kau kakakku, aku tidak akan segan-segan jika kau mempermainkan hidupnya,” sambung Izumi dengan menundukkan pandangannya.


Kepalaku ikut tertunduk dengan kedua tangan terangkat mengusap mata, “air mataku keluar begitu saja saat mendengarkan apa yang kau katakan, nii-chan,” ungkapku, aku tersenyum saat kedua mata kami saling bertatap.


“Akan tetapi, setelah aku pikirkan ulang … Apa yang Haru-nii katakan, benar adanya. Aku merasa sangat kesulitan ketika mencoba untuk menenangkan Kou yang ingin menolongku. Aku, bisa menghancurkan tempat ini dengan Kou. Namun, aku ingin sekali mengenal suku ini.”


“Dan lagi pun, selain harus mencari keberadaan kalian. Aku pun, sedang menunggu kabar dari Lux yang tak kunjung muncul. Aku tidak bisa merasakan keberadaan Lux, itu berarti Vartan dan yang lainnya tidak ada di sini. Kalau aku gegabah dengan hanya mengandalkan kekuatan, aku mungkin akan kehilangan jejak kalian dan juga mereka. Aku dilema dengan memikirkan banyak sekali kemungkinan saat tak mengetahui apa pun.”


“Tapi sekarang berbeda, dengan seperti ini … Aku, bisa lebih fokus untuk mencari Vartan dan yang lainnya. Terima kasih, nii-chan, karena telah sangat mengkhawatirkanku. Bahkan teriakan darimu kemarin, secara tidak langsung memberiku semangat,” sambungku dengan kembali tersenyum menatapnya.


“Lebih dari itu, aku merasa jika suku yang ada di sini lebih dari satu. Walau sekilas mirip, tapi penampilan mereka berbeda. Dan aku rasa, Vartan dan yang lainnya dibawa oleh suku yang lain,” ungkapku sambil menatapi mereka berdua bergantian.


“Jelaskan lebih rinci semuanya kepada kami, Sa-chan!”


“Jadi nii-chan, saat aku dan Izu-nii dikejar, yang mengejar kami menggunakan ikatan kepala, tak seperti para penduduk di luar. Kita beruntung, setidaknya suku yang menangkap kita, termasuk suku yang sedikit bisa menerima pendatang. Namun, dari beberapa yang aku baca … Sebuah suku di pedalaman, sulit untuk menerima adanya pendatang, bahkan mereka tidak akan segan-segan untuk memakan daging dan isi kepala dari pendatang itu sendiri.”


“Jadi kemungkinan terburuk dari semua itu, mereka sudah tak bisa diselamatkan?” Aku menganggukkan kepala saat Haruki menimpali perkataanku.


“Lalu, apa ada yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan mereka? Setidaknya, apa ada yang dapat aku lakukan untuk menyelamatkan mereka?”


“Tentu saja, kakak dan sahabatku … Aku tidak tenang sebelum melihat langsung keadaan mereka,” ungkapnya, aku kembali tersenyum saat dia menjawab perkataanku.


“Aku, memiliki ide untuk menyelamatkan mereka.”


Lucio mengangkat wajahnya ketika aku mengatakannya, “tapi sebelum itu, jawab pertanyaanku ini! Apa kalian berdua, pernah terjun ke dalam peperangan?”


“Tidak pernah rupanya,” sahutku saat Fabian ataupun Lucio, diam tanpa menjawab pertanyaanku.


“Hanya berikan saja aku perintah, aku … Akan melaksanakannya dengan baik.”


“Kau yakin?”


“Aku bersumpah, atas nama keluargaku,” ungkapnya, aku lagi-lagi mengeluarkan senyuman membalas tatapannya.


“Baiklah. Dari yang pernah aku baca, para penduduk antar suku … Sulit bergaul antara satu suku dengan suku yang lainnya. Mungkin memang ada yang berteman, tapi itu sangat jarang … Bahkan sangat jarang, karena kebanyakan mereka akan saling bermusuhan.”


“Kita, akan memanfaatkan situasi tersebut untuk mengambinghitamkan mereka. Tentu saja, untuk memperlancar semuanya, kita harus membantu mereka membuat senjata yang belum pernah mereka lihat, kita harus mengajarkan mereka caranya membuat jebakan yang bagus. Kita harus menukarkan pengetahuan kita, untuk membuat penduduk suku ini tak terkalahkan.”


“Kepala suku ini pun, terlihat bukan orang jahat. Buktinya, dia membebaskanku dan juga kalian. Dan juga, siapa yang akan menolak jika mendapatkan sesuatu yang baru untuk kekuatan wilayah yang ia pimpin.”


“Apa kau yakin?”


Aku menoleh ke arah Izumi yang berbicara, “kenapa, tidak langsung membuktikannya. Aku pun, sudah lama sekali rasanya tidak memimpin peperangan. Bagaimana Haru-nii? Tidak ada yang salah dari yang aku ucapkan, bukan?” tanyaku dengan mengalihkan tatapan ke arah Haruki.


“Tidak ada yang salah, dan aku pun yakin ini akan berhasil. Akan tetapi, buang pikiran kalian jika mereka masih hidup!”


Perkataan Haruki yang ia keluarkan, membuat Fabian dan juga Lucio membelalakkan kedua matanya. “Lebih baik, berpikir jika mereka sudah mati. Kalau pun nanti kita menemukan mereka yang masih hidup, maka bersyukurlah. Itu lebih baik, dibanding kalian memberikan harapan pada diri sendiri.”


“Aku tidak ingin, jika harapan kalian tersebut akan menjadi pedang bermata dua saat berperang. Sekali musuh menebas salah satu anggota tubuh kalian. Anggota tubuh kalian tersebut tak akan bisa kembali seperti semula, begitu pun dengan nyawa.”


“Setidaknya, penjelasanku sudah lebih dari cukup untuk kalian memahaminya, bukan?” Baik Lucio dan Fabian, menganggukkan kepala beberapa kali, menanggapi perkataan Haruki.


“Baiklah, semuanya telah selesai, bukan? Aku ingin melanjutkan tidur, esok pagi … Baru kita akan mencoba merundingkan ini semua kepada mereka,” tukasku, aku berbaring menyamping memunggungi mereka, sebelum mataku kembali terpejam seperti sebelumnya.