Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXVI


Langkah kaki kuda kami terhenti di depan jembatan kayu yang menghubungkan sebuah kastil tinggi dengan tempat kami berpijak sekarang. Menoleh aku ke belakang, deretan bangunan yang berdiri sepanjang bukit memenuhi pandangan mataku...


Kuda yang kami tunggangi bergerak maju perlahan, kembali kualihkan pandanganku menatapi kolam kecil yang membentang di bawah jembatan kastil. Kutatap sebuah ekor berduri dengan warna hitam berenang pelan mengitari jembatan yang kami lalui...


Kedua pasang matanya nampak keluar dari bayang-bayang air keruh yang ada di bawah kami. Sepasang mata tersebut kembali tenggelam tatkala kuda yang kami tunggangi telah sampai di sisi lain jembatan.


Suara besi bergesekan yang terdengar mengalihkan tatapanku. Kembali kugerakkan kepalaku menatap pagar besi tinggi yang ada di hadapan kami terangkat ke atas perlahan demi perlahan.


Kuda-kuda yang kami tunggangi kembali berjalan melewati pagar besi yang terbuka tadi. Mataku enggan bergerak menatapi kastil berwarna gelap yang ada di hadapan kami...


Apa kalian pernah melihat sebuah kastil persembunyian para vampir yang sering ada di film-film? Seperti itulah kastil yang ada di hadapanku sekarang ini.


Pintu berdaun dua yang juga berwarna gelap semakin memperdalam nuansa mistis yang mengelilinginya. Langkah kaki kuda kami bergerak semakin mendekati pintu tersebut, ukiran-ukiran bunga mawar yang timbul menyelimuti seluruh pintu tersebut semakin jelas terlihat di pandangan.


Haruki menghentikan langkah kaki kuda miliknya, tampak ikut terlihat Izumi, Eneas maupun Daisuke telah turun dari atas kuda yang mereka tunggangi mengikuti langkah Niel dan anak kecil tadi yang juga telah berjalan semakin mendekati pintu Kastil tersebut.


Kugerakkan tubuhku turun menuruni kuda seraya kedua tanganku menggenggam pakaian yang Haruki kenakan. Kembali kugerakkan tubuhku mundur beberapa langkah memberikan ruang untuk ikut Haruki turun dari atas kuda miliknya itu.


Haruki membalikkan tubuhnya berjalan mengikuti langkah kaki Daisuke yang menunggu kami di depan pintu Kastil, kedua kakiku melangkah cepat mengikuti langkah kaki Haruki yang berjalan di sampingku.


Laki-laki paruh baya yang menyambut kami di gerbang sebelumnya berjalan melewati kami. Laki-laki tersebut mengangkat sebelah tangannya mengetuk-ngetuk pintu tersebut dengan nada yang kembali baru terdengar olehku.


Pintu berdaun dua tersebut bergerak ke dalam perlahan demi perlahan terbelah menjadi dua satu sama lainnya. Mataku tertegun saat pintu tersebut terbuka sepenuhnya, nuansa asri yang ada di hadapan kami benar-benar memanjakan mata.


Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan ketika membangun Kastil ini, tapi sungguh... Kastilnya benar-benar mengagumkan.


Aku pikir, ketika pintu tersebut terbuka... Aku akan langsung menemui sebuah ruangan nan gelap seperti warna gelap yang menyelimuti Kastil. Akan tetapi nyatanya, yang kami temui sekarang adalah sebuah taman beratapkan langit dengan sebuah kolam luas di sudut dinding.


"Selamat datang di Kastil kami, apa kalian terkejut melihatnya?" terdengar suara anak kecil, kualihkan pandanganku menatap anak laki-laki tadi yang sebelah tangannya masih digenggam oleh Niel.


"Beberapa pengawal ku akan mengantarkan kalian ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Mereka akan memanggil kalian kembali saat waktunya makan malam," sambung Niel membalikkan tubuhnya lalu berjalan menjauh.


____________________


Kugerakkan telapak tanganku meraih sisir yang ada pada meja kecil di samping ranjang sembari pandangan mataku kembali menatap setiap sudut ruangan, hanya sebuah kursi, meja kecil di samping ranjang, dan ranjang yang aku duduki sekarang yang hanya memenuhi kamar luas ini...


"Makan malam telah siap, Yang Mulia sekarang menunggu kalian di ruang makan," terdengar suara laki-laki diikuti suara ketukan pintu dari arah luar.


Kupercepat tanganku tadi menggerakkan sisir pada rambutku, beberapa helai rambut cokelatku yang rontok terlihat jatuh memenuhi gaun putih yang aku kenakan. Kugerakkan kedua kakiku beranjak berdiri ke samping ranjang seraya kugerakkan telapak tanganku menepuk-nepuk gaunku agar rambut yang menempel padanya terlepas.


Kugerakkan kedua kakiku meraih sandal yang tergeletak rapi di samping bawah ranjang. Kembali kugerakkan tubuhku berbalik berjalan mendekati pintu kamar lalu membukanya dengan cepat...


"Selamat malam," jawabku seraya kugerakkan tubuhku berbalik mencari sumber suara.


"Tebakanku benar," ucapnya kembali, kuarahkan pandanganku menatap anak kecil yang bersama Niel tadi siang.


"Tebakan?" ungkapku sembari kugerakkan tubuhku berjalan melewatinya.


"Aku sudah menebak jika kau seorang perempuan," lanjutnya ikut melangkahkan kakinya di sampingku.


"Lalu? Apakah bermasalah jika aku perempuan?" sambungku menurunkan kepala menatapnya.


"Apa kau ke sini untuk hidup bersama Ayahku?"


"Ayahmu? Hidup bersama?" ungkapku kembali menatapnya, mengangguk dia beberapa kali menjawab perkataanku.


"Bukan itu yang aku maksudkan... Ayahmu? Siapa dia? Apa kami akan menemui Ayah kalian ketika perjamuan?" ucapku lagi padanya.


"Ayah kalian? Tapi, Ayahku hanya satu," ungkapnya lagi menatapku dengan tatapan mata kebingungan.


"Maksudku, Ayahmu dan juga Niel," ucapku lagi padanya.


"Tapi Niel, Yang Mulia Niel... Adalah Ayahku," ucapnya membalas perkataanku.


"Eh? Kau sedang mencoba menipuku? Maksudku, dia terlihat sedikit lebih muda dari Kakakku Izumi."


"Tapi, tahun ini... Ayah berusia dua puluh delapan tahun," ucapnya kembali menatapku.


"Apa kau tertipu pada kecantikan yang ia miliki? Kau pasti tercengang bukan, Ayahku lebih mengagumkan dibandingkan kalian yang perempuan asli," sambungnya kembali.


"Sekarang, aku mempercayai kalau kalian adalah ayah dan anak," ungkapku mempercepat langkah kaki meninggalkannya.


"Aku akan memberikan kalian informasi apapun tentang kota ini. Informasi yang bahkan Ayahku sendiri tidak mengetahuinya," suara anak laki-laki tersebut menghentikan langkah kakiku, kugerakkan kembali tubuhku berbalik menatapnya.


"Apa maksudmu?" ucapku seraya kugerakkan kedua kakiku bergerak mendekatinya.


"Tidak seperti Ayah, aku punya banyak sekali kenalan di kota. Aku dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang aku inginkan termasuk tentang serbuk yang kalian cari," ungkapnya menatapku yang telah berdiri di hadapannya.


"Lalu, apa yang harus kami lakukan untukmu? Aku tahu, kau tidak akan mungkin memberikannya secara percuma. Aku benar bukan?" ucapku sembari kugerakkan tubuhku sedikit membungkuk menatapnya.


"Mudah saja, kau hanya harus..."