Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXXIV


Berdiri aku di atas bukit dengan sebuah tenda yang terbuat dari empat batang kayu yang diselimuti selembar kain sebagai atapnya. Kuarahkan pandangan mataku pada selembar kulit berisi batu-batuan berbagai ukuran yang di hamparkan di atas meja yang ada di hadapan...


Kulirik Lintang dan Dirga yang berdiri di samping kanan dan kiri tubuhku lengkap dengan puluhan Kesatria lainnya yang berdiri mengelilingi tenda tempat kami bernaung...


Kuarahkan pandanganku pada ratusan ribu pasukan yang telah berdiri di posisi mereka masing-masing sesuai dengan apa yang aku perintahkan. Senjata raksasa seperti ketapel dan juga pelontar tombak telah berbaris rapi di sekeliling mereka, ikut pula berbaris puluhan tong kayu berisi senjata rahasia yang telah aku persiapkan untuk musuh...


Kuarahkan pandanganku pada Zeki, Izumi, dan juga Aydin yang tengah menunggangi kuda milik mereka di hadapan puluhan ribu pasukan pejalan kaki yang berdiri di belakang mereka, tombak yang digenggam mereka bertiga tampak bersilap kilau dari kejauhan...


Kualihkan pandanganku pada Adinata yang tengah berdiri di atas kereta perang dengan tiga orang Kesatria berada di depan, sebelah kanan dan kiri tubuhnya... Sedangkan Haruki, duduk diam di atas kudanya dengan ribuan pasukan berkuda yang berbaris rapi di belakangnya sedangkan separuh dari pasukannya yang lain berdiri merata di sekitar pasukan pejalan kaki untuk semua kemungkinan yang akan terjadi...


Danurdara ikut berbaris bersama pasukannya memenuhi bukit, busur-busur panah telah siap digenggaman mereka masing-masing. Tong-tong kayu berisi minyak telah dipenuhi oleh anak panah yang siap ditembakkan oleh mereka...


Dari atas bukit aku dapat melihat semuanya, aku menjadi mata mereka mengawasi musuh, aku menjadi otak mereka untuk menghalau serangan musuh. Jantungku berdetak semakin tak beraturan, kualihkan pandanganku pada keringat yang telah membanjiri telapak tanganku...


Pandangan mataku teralihkan pada lembaran-lembaran kain yang mengayun di udara, lambang tiga kelopak bunga tampak terlukis di lembaran-lembaran kain tersebut. Kedua mataku menyipit berusaha memandang mereka yang jauh disana...


Titik-titik hitam muncul bersamaan dengan bendera tadi, semakin banyak dan semakin banyak mendekati kami. Kuarahkan pandanganku pada senjata-senjata raksasa terbuat dari kayu yang semakin jelas terlihat di tengah-tengah banyaknya titik-titik hitam tadi.


Berbalik aku berjalan melewati meja yang ada di hadapanku, langkah kakiku bergerak ke depan dengan Lintang dan juga Dirga yang masing mengikuti dari belakangku...


Kuletakkan telapak tanganku menyentuh dahi seraya berusaha menahan silau yang dipancarkan mentari. Pasukan musuh berbaris dengan perisai membentuk dinding di hadapan mereka...


"Kita harus menghukum pemberontak! Atas nama Kekaisaran, kita akan menghancurkan Balawijaya!" terdengar teriakan diikuti suara gemuruh ribuan orang yang mengikutinya.


"Dirga, sampaikan kepada penyampai pesan. Rencana dirubah, perintahkan Zeki, Izumi, dan juga Aydin untuk memporak-porandakan pertahanan musuh. Dan perintahkan Adinata untuk menunggu perintah selanjutnya dariku," ucapku seraya menatap lurus ke depan, melirik aku ke arah Dirga yang berjalan melewati.


Dirga membisikkan sesuatu pada seorang Kesatria berkuda, digerakkannya kudanya tadi dengan cepat oleh Kesatria tadi semakin menjauhi kami. Kembali berbalik berlari Dirga menuju ke arahku...


"Apa kau yakin mereka dapat melakukannya?" ucap Lintang, menoleh aku menatapnya yang juga balas menatapku.


"Kau jangan meremehkan manusia tidak takut mati seperti mereka, apa kau pikir kumpulan manusia itu dapat membuat mereka gemetar ketakutan?" ungkapku, seraya kualihkan pandanganku kembali ke arah Zeki yang menggerakkan kudanya menghadap pasukan yang ada di belakangnya.


"Kami bertiga, hanyalah seorang asing untuk kalian. Tapi kami berdiri disini untuk melindungi harga diri kalian, untuk melindungi kebahagiaan kalian..."


"Apa kalian akan lari ketakutan hanya karena gertakan lemah mereka!"


"Tidak!"


"Tidak!" teriak puluhan ribu pasukan pejalan kaki itu kembali.


"Kita akan mengusir mereka dari Kerajaan kalian, kita akan menguliti mereka hidup-hidup dan kita akan mendapatkan banyak uang dari kepala-kepala mereka yang kita potong!" Teriak Zeki kembali seraya diangkatnya tombak yang ada di tangannya ke udara, balasan teriakan riuh dari para pasukan membuatku bergidik terdiam.


Zeki kembali menggerakkan kudanya berbalik menatap musuh, kuarahkan pandanganku ke arah musuh yang telah menyiapkan panah untuk mereka arahkan kepada kami. Kulangkahkan kakiku berlari semakin maju ke depan...


"Segera isi ketapel itu menggunakan durian, dan lontarkan durian itu kepada mereka. Pastikan kalian mengincar para pemanah mereka, lakukan sekarang!" Teriakku pada mereka, menoleh para Kesatria padaku seraya kembali berbalik mereka bergegas mengambil bungkusan buah durian yang ada di dalam tong kayu.


"Angkat perisai kalian! Lindungi nyawa kalian dan rekan di samping kalian, apapun yang terjadi!" Teriakan dariku semakin kuat, tertunduk aku seraya beberapa kali menahan batuk karenanya.


Kualihkan pandanganku menatap bungkusan-bungkusan daun berisi daging buah durian yang telah halus semakin cepat berpindah ke arah ketapel.


Pandangan mataku jatuh ke arah pasukan Haruki yang bertugas menjaga pasukan pejalan kaki, perisai-perisai yang ada di samping kuda mereka telah berpindah ke masing-masing tangan mereka...


Ribuan anak panah terbang mendekati mereka, berteriak Haruki memerintahkan pasukannya untuk mengangkat perisai mereka. Perisai kayu milik para pasukan bersusun rapi layaknya sebuah atap yang melindungi mereka...


Ribuan anak panah tadi jatuh tertancap di atas perisai-perisai kayu tadi. Bergantian mereka mengangkat perisai-perisai tadi perlahan...


"Sekarang!" teriakku keras.


Kuarahkan pandanganku pada bungkusan daun yang terbang semakin mendekati pasukan musuh. Jatuh bungkusan tadi di atas kumpulan para pemanah pasukan musuh... Kutatap daging buah durian tadi yang menempel di tubuh-tubuh mereka...


Jatuh beberapa dari mereka ke tanah, beberapa yang lain tampak menutup hidung mereka, bahkan beberapa dari mereka langsung tertunduk dengan mengeluarkan isi perut mereka...


Kualihkan pandanganku pada Zeki, Izumi dan juga Aydin yang telah menunggangi kuda mereka dengan kecepatan penuh. Kutatap para pasukan pejalan kaki yang ikut berlari di belakang mereka, pasukan musuh bergerak merapat dengan susunan perisai membentuk dinding diikuti tombak-tombak yang mencuat di sekitar dinding perisai tadi...


Kuda yang ditunggangi Zeki semakin mendekati dinding perisai yang diselingi tombak mencuat yang dibuat oleh pasukan musuh tadi. Zeki membungkukkan tubuhnya ke depan, langkah kaki kudanya semakin cepat dari sebelumnya...


Kuda yang ditunggangi Zeki melompat tinggi melewati pasukan musuh, ikut kuarahkan pandanganku pada Izumi dan juga Aydin yang mengikuti langkahnya.


"Kau lihat itu bukan? Ketiga orang itu, tidak akan mengecewakanku," ucapku seraya kembali kuarahkan pandanganku menatap Lintang yang berdiri di sampingku.