
Tubuhku terhentak ke depan saat telapak tangan kananku ditarik ke arahnya, kualihkan pandangan mataku menatap telapak tanganku tadi yang tengah diusapnya menggunakan jari telunjuknya membentuk sebuah kata per kata...
"Ji-ka kau pu-nya pi-sau ke-na-pa ti-dak me-ngguna-kan-nya le-bih ce-pat..."
"Aahh maksudmu pisau kecil yang ada di tanganku ini?" lanjutku berbisik pelan padanya seraya kuangkat pisau kecil tadi ke arahnya.
"Aku lupa jika aku memilikinya," ucapku lagi padanya.
Kugerakkan tubuhku bersandar di dinding sembari pandangan mataku masih tertuju pada laki-laki penjaga yang masih lelap tertidur. Kutundukkan kepalaku seraya kugigit kuat bibirku...
Rasa sakit di pundakku kembali teringat, rasa sakitnya bahkan terasa lebih menyakitkan dibandingkan sebelumnya. Kuangkat kembali kepalaku seraya kugerakkan kepalaku kembali bersandar pada dinding...
"My Lord," kembali terdengar suara Kou yang mengetuk pikiranku.
"Ada apa Kou?" ungkapku pelan membalas perkataannya.
"Aku merasakan keberadaan Lux yang semakin mende..."
"Sachi," perkataan Kou terhenti, kuarahkan kepalaku bergerak mencari dimana sumber suara itu terdengar.
"Syukurlah, syukurlah aku bisa merasakan sihir Kou," kembali terdengar suara Lux, pandangan mataku terjatuh padanya yang tengah terbang melintasi jeruji besi untuk udara yang ada di samping kanan atas penjara.
"Lux, apa..."
"Mereka akan segera sampai kesini, mereka hanya sedang membabat habis musuh yang ada di sini," ucap Lux memotong perkataanku, masih kutatap dia yang terbang semakin mendekati.
"Ada penyusup, bawa dua tahanan itu pergi dari sini!" terdengar teriakan laki-laki memekakkan ruangan sekitar.
"Lux, naik lebih tinggi ke atas. Jangan turun sebelum keadaan aman!" perintahku pada Lux, kuarahkan pandanganku menatapnya yang telah kembali terbang kembali semakin mendekati langit-langit lalu menghilang bersamaan dengan gelapnya langit-langit tersebut.
Kualihkan pandanganku ke arah laki-laki penjaga tadi yang telah berdiri dengan kedua tangannya menggenggam gembok yang mengikat rantai pada pintu penjara kayu yang digunakan untuk mengurung kami.
Tanganku yang telah kuarahkan ke belakang telah siap memegang pisau kecil tadi, kugerakkan mataku melirik ke arah perempuan tadi yang juga ikut mengarahkan kedua lengannya ke belakang.
Laki-laki penjaga tadi menjatuhkan gembok berserta rantai yang mengikat pintu ke lantai. Dibukanya pintu kayu tersebut seraya melangkah ia maju mendekati kami...
Masih kutatap laki-laki tadi yang berjalan semakin mendekati, kutatap dia yang tiba-tiba tertunduk saat sebuah kantung berukuran sangat kecil dengan ikatannya yang terbuka jatuh mengenai dahinya...
Laki-laki penjaga tadi jatuh berlutut, beberapa kali ia menepuk-nepuk dadanya diselingi suara batuk yang tak henti-hentinya keluar darinya. Aku beranjak berdiri seraya kulangkahkan kakiku berjalan melewatinya.
Kualihkan pandanganku menatap Lux yang juga telah terbang di sampingku. Langkah kakiku terhenti tiba-tiba saat terdengar suara pukulan beberapa kali terdengar...
Kugerakkan kepalaku berbalik seraya berusaha menatap apa yang terjadi. Mataku tertegun menatap kepala laki-laki penjaga tadi telah berada di bawah kaki perempuan tadi.
Perempuan tadi mengangkat kakinya dari atas kepala penjaga tadi, bergerak ia sedikit meminggirkan tubuhnya beberapa langkah ke samping. Kualihkan pandanganku menatapi kaki kanannya yang telah terangkat sedikit ke atas...
Digerakkannya kakinya tadi membalikkan tubuh penjaga tersebut, kualihkan pandanganku menatapi wajah penjaga tadi yang penuh akan darah. Perempuan tersebut kembali melangkahkan kakinya mendekati penjaga tadi seraya diterjangnya kepala penjaga tadi hingga menoleh ke samping diikuti suara benda patah yang terdengar.
"Apa yang kau lakukan?" ucapku padanya, seraya kulangkahkan kakiku melangkah mendekatinya.
"Memastikan dia mati ataupun tidak," ungkapnya membalas perkataanku.
"Memastikan?"
"Eh? Suara laki-laki?" sambungku lagi padanya sembari kuhentikan kakiku menatapnya.
"Yang mengatakan aku perempuan siapa?"
"Tapi, rambutmu? Wajahmu? Dan juga tubuhmu?" ungkapku lagi padanya seraya kuarahkan pandanganku menatapnya yang juga telah menatapku.
"Apa kau iri? Apa kau iri, karena aku lebih menawan dibandingkan denganmu yang perempuan asli," ungkapnya seraya mengarahkan langkah kakinya berjalan semakin mendekati.
"Aku? Iri? Padamu? Apa kau bercanda?!" sambungku sembari kulangkahkan kakiku ikut berjalan mendekatinya.
"Apa kau tahu siapa aku?" ungkapnya dengan nada dingin padaku.
"Aku tidak tahu, dan aku tidak peduli," sambungku lagi padanya.
"Sa-chan," terdengar suara Haruki mengusik telingaku, kuarahkan pandanganku ke samping menatapnya yang telah berdiri di depan penjara kayu dengan Izumi, Daisuke dan juga Eneas di belakangnya.
Haruki dan Izumi mempercepat langkah kakinya berlari mendekatiku diikuti dengan Daisuke berserta Eneas yang berjalan di belakang mereka.
"Apa kau baik-baik saja? Apa mereka melakukan sesuatu padamu?" ucapnya diikuti dengan pelukan kuat yang ia lakukan.
"Aku baik-baik saja Haru-nii," ungkapku menjawab perkataannya pelan, kurasakan sisa-sisa darah masih tercium dari pakaian yang ia kenakan.
"Bagaimana dengan lukamu? Atau demam yang kau rasakan?" ucap Izumi diikuti usapan pelan yang menyentuh rambutku.
"Sepertinya lukaku kembali terbuka. Nii-chan, bisakah kita pergi dari sini secepatnya," ungkapku lagi pada mereka.
"Aku mengerti, kami telah mendapatkan tempat tinggal yang lain untuk kita tempati," ucap Haruki diikuti pelukannya yang terlepas pada tubuhku.
"Kita akan langsung mengobati luka di pundakmu setelah kita sampai di sana," sambung Haruki lagi seraya menatapku.
"Tapi sebelum itu, siapa dia?" ungkap Izumi, kualihkan pandanganku menatapnya yang telah mengarahkan pandangannya menatap ke arah sampingku.