Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXCIII


Kuda yang kami tunggangi berjalan perlahan menuruni jalan setapak, menuju langsung ke dasar jurang, lengan kananku terangkat tanpa sadar menutup hidung saat kuda yang aku tunggangi itu menghentikan langkah kakinya. Bau busuk menyeruak di udara saat kami telah sampai di dasar jurang, menyengat tajam hidungku, membuat kepalaku enggan untuk berpikir jernih.


“Tempat apa ini?” Bisik Lux di samping telingaku, aku sedikit mual saat terdengar suara Lux yang terdengar seakan ingin muntah menyentuh telinga, “apa kau baik-baik saja?” Aku balas berbisik padanya, semakin kuat lenganku tadi menekan hidungku.


“Busuk sekali, menjijikan,” Lux balik berbisik diikuti suara mual yang tak henti-hentinya mengetuk telingaku, “Haruki!” Pandangan mataku beralih pada Izumi yang juga mengangkat sebelah tangannya menutup hidungnya sedangkan sebelah tangannya yang lain menunggangi kudanya bergerak mendekati Haruki.


Haruki menoleh ke arahnya, “ada apa?” Tanyanya kembali menatap ke depan, “kau yakin kita akan...” Ucapan Izumi berhenti, kepalanya bergerak ke samping dengan mengeluarkan banyak sekali air ludah diikuti sebelah tangannya memukul-mukul dadanya saat dia terlihat ingin memuntahkan sesuatu dari atas kudanya.


Haruki menoleh kembali ke arahnya, mengangkat sebelah tangannya menepuk-nepuk punggung Izumi, “apa kau baik-baik saja?” Tanya Haruki kembali dengan tetap memukul-mukul punggung Izumi yang sedikit tertunduk.


Izumi mengangkat kepalanya ke atas, “sialan! Jika aku tahu tempatnya akan sebusuk ini, aku tidak akan makan banyak pagi tadi,” ucapnya kembali mengangkat sebelah tangan menutupi hidungnya.


“Bagaimana dengan kalian? Apa kalian baik-baik saja?” Haruki berbalik menatap aku dan juga Eneas bergantian, “aku baik-baik saja,” ucap Eneas dengan telapak tangan menutup hidung, dia menoleh ke arah kiri, menghindari pandangan kami semua yang menatapnya.


“Bagaimana dengan kalian, Sa-chan, Lux?” Kali ini Haruki mengalihkan pandangannya ke arah kami, “aku baik-baik saja, Lux pun sama baiknya,” aku tersenyum dengan bibir terkatup ke arahnya.


Haruki menghela napas, “maaf, aku memaksa kalian untuk melakukan ini … Kita bisa kembali ke atas,” ucapnya lagi kepada kami.


“Apa yang kau katakan benar adanya, kita tidak akan menang jika memulai peperangan dengan Kaisar jika hanya mengandalkan pasukan manusia. Aku tidak tahu, ada makhluk apa yang hidup di sini … Tapi, laporan yang aku terima dari beberapa Kesatria … Bahwasanya, beberapa Kesatria yang dulu pernah membuang mayat di sini, juga ikut menghilang lalu tak kembali lagi,” sambung Izumi mengangkat kepalanya menatapi sekitar.


“Menghilang?” Izumi menganggukkan kepalanya tanpa menoleh saat aku mengatakannya, “itu rumor yang tersebar di beberapa Kesatria. Karena itu, mereka akan mengeksekusi para tahanan di atas tebing, meletakkan mayatnya di atas gerobak lalu mendorong gerobak tersebut hingga jatuh ke jurang,” ucap Izumi diikuti tangan kanannya yang terangkat ke atas.


“Kenapa Ayah memberikan hukuman tersebut kepada para tahanan, maksudku … Kenapa harus merepotkan diri untuk membuang semua mayat para tahanan ke sini, jika kita bisa langsung mengeksekusinya di tempat dan menguburnya,” Haruki dan Izumi menggerakkan kuda milik mereka mendekatiku, “tidak semudah itu,” ucap Izumi saat dia telah menghentikan langkah kaki kudanya di hadapanku.


“Para tahanan yang dieksekusi, biasanya mereka berasal dari para Kesatria yang ditawan oleh Ayah selama perang. Tanah di Kerajaan Sora, hanya untuk mereka, rakyat Sora. Tawanan yang bukan berasal dari Sora, tidak pantas untuk dikuburkan di tanah kita,” ucap Haruki menimpali perkataan Izumi.


“Ayah tidak akan melakukan hal remeh seperti itu,” ungkapku membalas perkataan mereka, “Ayah, hanya berlaku baik pada kita anaknya. Sora tidak akan besar, jika Ayah adalah Raja yang lemah lembut kepada musuh. Walaupun, ada beberapa tahanan yang aku lepaskan diam-diam untuk menjadi mata-mata yang aku pekerjakan. Kalian ingat bukan? Dulu, aku pernah mengatakan jika aku ingin sekali membunuh Ayah ketika besar,” ucap Haruki yang dibalas anggukan kepala olehku dan juga Izumi.


"Saat itu, aku menganggap bahwa Ayah dengan teganya membunuh Ibu. Jadi aku memutuskan untuk memanfaatkam para tawanan perang untuk membantu rencanaku itu. Aku tidak akan membenci Ayah sejauh itu, jika aku tahu jika Ayah bersikap seperti itu hanya ingin menutup lukanya dari kita,” sambung Haruki lagi, kuda yang ia tunggangi bergerak melangkahkan kakinya meninggalkan kami.


“Lupakan sejenak tentang permbicaraan ini, apa kalian telah siap untuk berburu,” ucapnya membelakangi kami, tangan kanannya bergerak mengangkat tinggi pedang yang sebelumnya menempel di pinggangnya.


Lux berhenti di samping Haruki, masih kutatap sayap kecilnya itu yang mengepak pelan menerbangkan tubuhnya, “ini buruk, persiapkan diri kalian,” ucap Lux kembali menolehkan wajahnya kepada Haruki yang ada di sampingnya.


“Lewat sini,” sambung Lux terbang ke kiri melewati Haruki, Haruki menggerakkan kudanya menyusul Lux, diikuti kami bertiga yang mengikutinya dari belakang. Kudaku melangkah sangat pelan menyusuri jalan berbatu yang yang ada di sekitar kami itu, genggaman tanganku di tali kekang semakin menguat tatkala kedua mataku terjatuh ke arah tumpukan tengkorak yang berserakan di sekitar bebatuan yang ada.


Sebenarnya tempat apa ini? Makhluk apa yang sebenarnya hidup di sini?


Semakin rimbunnya pepohonan, semakin minim juga cahaya yang ada di sekitar, “aku yang akan memimpin jalan,” ucap Izumi, kami berhenti, mengalihkan pandangan menatapnya yang tengah meraih sebuah tali di samping kuda yang ia tunggangi.


“Aku akan menuntun kalian,” sambung Izumi kembali, dia melilitkan tali tadi di lengan kirinya lalu memberikan ujung tali yang sebelumnya ia buka kepada Haruki, “jangan lepaskan tangan kalian dari tali ini,’ ucap Izumi lagi, dia menggerakkan tangannya hingga tali tersebut sedikit menjuntai panjang ke tanah.


“Sa-chan, Eneas,” ucap Haruki saat Izumi telah membawa kudanya berjalan di depan kami.


Kugerakkan kudaku mendekati tali tadi, kuraih dan kugenggam dengan kuat tali tersebut yang semakin menegang saat Izumi semakin berjalan masuk ke dalam hutan membawa kudanya. Kudaku berjalan pelan, mengikuti arah tali itu membawaku, “apa kalian baik-baik saja?” Suara Haruki terdengar dari arah belakang, “mereka semua baik-baik saja,” ucap Izumi saat matanya yang bersinar itu menoleh ke arah belakang.


“Izumi, berhati-hatilah,” sambung Haruki kembali terdengar, “khawatirkan diri kalian sendiri. Kedua mataku masih bisa melihat dengan sangat jelas walau segelap apa pun tempat ini,” ungkap Izumi terdengar menimpali perkataan Haruki.


“Karena itulah, kami mengandalkanmu, Adikku.”


“Aku seperti mendapat berkah, mendengar kata-kata tersebut darimu,” Izumi kembali membuka suaranya yang diikuti suara tawa kecil dari arah belakang.


“Lux, apa kau baik-baik saja?”


“Diamlah,” suara Lux terdengar sedikit meninggi saat Izumi mengatakannya dengan sedikit tertawa, “apa yang terjadi Lux?” Aku ikut menanyakan keadaannya.


“Dia menabrak pohon,” Izumi kembali terdengar menahan tawa menjawab pertanyaanku, “diamlah Izumi, ini karena aku tidak bisa melihat apa pun sepertimu.”


“Kau hanya harus duduk di pund…” Izumi menghentikan suaranya saat suara raungan terdengar kuat memecah keheningan sekitar.