
Aku mengikuti langkah Haruki yang berjalan menyusuri taman Istana, “bagaimana keadaannya?” Haruki mengeluarkan suara yang membuat Izumi menoleh ke arahnya.
“Dia baik-baik saja,” jawab Izumi yang sedikit melirik ke arahku.
“Alvaro,” ucapku bersuara, kakiku melangkah lalu jongkok di dekatnya yang duduk di kursi roda kayu buatan kami.
“Apa kau menyukai kursi yang kami buat?” tanyaku hingga dia menoleh ke arahku.
Alvaro menganggukkan kepalanya menatapku, “berkat kursi ini, aku bisa kembali melihat matahari langsung di luar Istana. Terima kasih, Sachi,” ungkapnya, aku tersenyum menatapnya sembari menggenggam erat tangan kanannya.
“Alvaro, semua sudah siap. Kita akan segera meninggalkan tempat ini, kami pun telah menyiapkan perahu untuk kau gunakan.”
Alvaro menganggukkan pelan kepalanya menimpali perkataan Haruki, “Izumi, sudah memberitahukan aku tentang ini. Terima kasih banyak, atas semua kebaikan kalian,” ungkapnya yang membalas tatapan Haruki.
“Tidak perlu berterima kasih, kau teman kami,” sambung Izumi yang berdiri di belakangnya, Alvaro tertunduk saat Izumi menepuk pelan pundaknya itu.
________________.
Aku berjalan beriringan dengan banyak sekali Kesatria menuruni bukit, langkah kakiku terhenti di hadapan banyak sekali perahu yang berbaris. Kualihkan pandanganku ke arah Alvaro yang telah duduk di atas kursi roda yang diletakkan di atas perahu, “naiklah!” Aku menoleh ke belakang saat tepukan di pundak disertai suara Izumi terdengar.
Aku melangkahkan kaki menaiki perahu lalu duduk di atasnya, pandangan mataku berbelok ke arah sebagian Kesatria yang telah menceburkan dirinya ke dalam sungai. Aku mengangkat tanganku menggenggam samping perahu saat perahu itu mulai bergerak, sesekali kedua mataku kembali melirik ke arah para Kesatria yang berenang di sekitar perahu yang aku naiki.
“Apa kau lelah?” Aku menatap Izumi yang duduk di depanku, “sedikit,” jawabku singkat dengan kembali membuang pandangan ke samping.
Aku menatap aliran sungai yang juga bergerak seiring bergeraknya perahu yang ada di sekitar. Pandangan mataku beralih ke arah, beberapa perahu yang membawa para penduduk … Perahu itu bergerak mendekat, bergabung bersama perahu-perahu kami membelah sungai.
Aku beranjak berdiri saat air sungai berakhir, digantikan dengan lumpur hitam yang membentang. Kedua kakiku melangkah menuruni perahu tersebut hingga kakiku itu langsung terbenam ke dalam lumpur hitam yang ada di bawah perahu. Aku melirik ke belakang, kutatap salah seseorang Kesatria menggendong Alvaro ke punggungnya sedangkan salah seorang Kesatria yang lain mengangkat kursi roda yang sebelumnya dinaiki Alvaro.
Pandangan mataku beralih ke arah penduduk yang juga telah berdiri di tengah-tengah lumpur. “Setelah kita menaiki jurang yang ada di sana, kita semua akan keluar dari sini. Jadi, saling menjaga agar tidak ada yang terluka. Apa kalian mengerti?!”
Teriakan riuh serempak menimpali perintah Haruki. Aku berbalik melangkahkan kaki melewati lumpur, langkahku kembali terhenti ketika Ryuzaki dan yang lainnya berlari mendekati kami, “Sachi!” panggil Ryuzaki saat langkahnya berhenti di depanku.
“Aku baik-baik saja, Ryu. Bagaimana keadaan kalian?” tanyaku, aku menatap padanya yang juga telah melangkahkan kakinya di sampingku.
“Kalian telah bersiap-siap. Apa kalian mengetahui jika kami akan datang?”
“Aku merasakan sihirmu mendekat. Jadi, aku memerintahkan mereka semua untuk segera bersiap menjemput kalian … Tapi, ada apa dengan banyak orang itu?” Dia setengah berbisik dengan melirik ke arahku.
“Aku akan menceritakannya nanti. Ryu, aku lapar, aku haus … Apa kau menyimpan sesuatu?” bisikku sambil merangkulkan lenganku di lengannya.
“Putri!”
Aku menoleh ke kanan, ke arahnya yang berdiri menatapku, “aku baik-baik saja, Tsubaru. Persiapkan semuanya, kita akan pergi dari sini. Lalu bantu aku, untuk mengawasi mereka yang ada di belakang,” ucapku yang dibalas anggukan kepala olehnya.
“Kau pun Arata, bantu kami!”
“Laksanakan, Hime-sama,” jawab Arata yang juga menganggukkan kepalanya menatapku.
“Apa kau ingin aku menumbuhkan pohon berbuah?”
“Apa terjadi sesuatu pada kalian? Aku, merasakan kehadiran Kakek walau hanya sejenak,” ungkap Ryuzaki seraya membuang pandangannya ke depan.
“Kakek hanya memeriksa keadaan kami sebelum dia pulang kembali,” jawabku yang ikut membuang pandangan ke depan, “Ryu, entah kenapa … Setelah melihatmu hari ini membuatku sedikit lega.”
“Karena aku adalah adikmu, itu sudah lebih dari cukup untuk kau merasakannya.”
“Kau benar. Rasanya aku ingin sekali bersembunyi di balik punggungmu yang gagah ini.”
Aku melepaskan rangkulanku di tangannya saat Ryuzaki berjalan membelakangi lalu berjongkok, “naiklah!” perintahnya tanpa menoleh.
“Kita akan menaiki sebuah tebing yang sedikit curam, apa kau lupa?”
“Tidak masalah, naiklah!”
Aku tersenyum mendengar jawabannya, kakiku melangkah sedikit maju lalu kuarahkan kedua tanganku merangkul lehernya, “beruntungnya aku, memiliki saudara yang dapat diandalkan,” bisikku, rangkulanku menguat saat dia telah kembali beranjak berdiri dengan menggendongku di punggungnya.
“Kau jangan terlalu memanjakan kakakmu itu, Ryu.”
Kepalaku dengan cepat menoleh ke arah Izumi yang entah sejak kapan telah berjalan di samping kami, “katakan saja, kau ingin menggendong adikmu yang manis ini. Aku benar bukan, nii-chan?”
Izumi mendecakkan lidahnya, “jangan membuat punggungku sakit dengan menggendong tubuh beratmu.”
“Benarkah? Nii-chan, gendong aku!”
“Tutup mulutmu! Atau aku akan melemparkanmu ke dalam lumpur.” Aku tertegun sejenak dengan melirik ke arah Ryuzaki saat suara tawa terdengar pelan darinya. Aku kembali melirik ke arah Izumi, bibirku tersenyum saat dia juga telah tersenyum dengan melirik ke arahku.
_______________.
“Bagaimana dengan punggungmu, Ryu? Apa ada tulangmu yang bergeser karena menggendongnya?”
Aku melirik ke arah Izumi saat Ryuzaki menurunkanku dari gendongannya, “nii-chan, jangan menyesal jika aku melakukan sesuatu yang tidak terduga kepadamu,” ucapku yang berjalan mendekatinya.
Aku beranjak naik ke atas punggung kudaku yang ada di sampingnya. “Apa yang bisa kau lakukan?” tukasnya kembali yang juga telah naik ke atas kuda miliknya.
“Jangan meremehkanku.”
“Kalian berdua hentikan!”
“Tatsuya, aku sudah memberitahukanmu apa yang harus kalian lakukan bukan? Mulai dari sini, kami … Akan melanjutkan perjalanan kami. Dan kalian, dapat pulang kembali ke Sora. Aku, akan memberikan kabar kepada Ayah, jadi kalian tidak perlu khawatir.”
Aku menoleh ke belakang ketika suara Haruki terdengar beruntun menyentuh telinga, “tapi, Yang Mulia,” timpal Tatsuya membalas perkataan Haruki yang berkuda di sampingnya.
“Kalian hanya diperintahkan untuk mengawal kami sampai ke Ardenis. Jadi, tugas kalian telah selesai. Lagi pun, mereka semua lebih penting … Bagaimana pun caranya, kalian semua harus membawa mereka pergi dari sini sejauh mungkin sebelum Kekaisaran mencium perihal apa yang terjadi di sini. Dan tanamkan hal ini kepada kalian, jangan sampai ada yang mengetahui jika mereka berasal dari Ardenis.”
“Karena mulai saat ini, kecuali untuk kita … Ardenis sendiri, telah musnah,” sambungnya, aku masih melirik ke arah Haruki yang telah menunggangi kudanya melewati kami.