
Kubuka kembali kedua mataku, warna hitam masih menyelimuti seluruh pandanganku. Beranjak aku duduk dengan sisa-sisa tenaga yang masih menempel ditubuhku...
Kuarahkan telapak tanganku ke sebelah kanan tubuhku, terasa ujung jariku menyentuh suatu udara hangat yang berhembus. Kuarahkan lebih dekat telapak tanganku tadi hingga menyentuh... Aku tidak tahu, mungkin hidung...
Ayah kah? Haruki? Izumi atau mungkin Tsubaru? Aku ingin bisa melihat mereka lagi, Tuhan... Aku ingin melihat siapa yang berada disampingku ini...
"Kau sudah bangun?"
"Izu nii-chan."
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" ucapnya, terasa sesuatu menyentuh dahiku
"Syukurlah, sudah tidak panas lagi." sambungnya diiringi hilangnya sentuhan di dahiku
"Yang Mulia, aku telah membawakan apa yang kau perintahkan." terdengar suara diiringi ketukan pintu
"Bawa dia ke dalam Tsutomu!"
Terdengar suara pintu yang terbuka, berselang terdengar kembali suara pintu tertutup. Ikut terdengar suara langkah kaki mendekati...
"Yang Mulia." terdengar suara wanita yang berbicara
"Bantu mandikan dia, berhati-hatilah untuk tidak membuatnya terluka. Aku akan menunggu diluar." ucap Izumi pada seseorang yang aku tidak tahu siapa
"Laksanakan, Yang Mulia." sambung wanita tersebut
"Apa kau bisa berdiri? Aku akan membantumu." terdengar suara Izumi diiringi sentuhan di pundakku
Aku terdiam kaku, kakiku tak dapat digerakkan. Bahkan untuk digeserkan sedikit saja terasa mustahil untukku...
Apa lagi ini, Tuhan... Apa kakiku juga...
"Bagaimana ini nii-chan, aku tidak bisa merasakan kedua kakiku." ucapku dengan suara bergetar, tetesan air terasa menyentuh kedua pipiku
"Apa yang kau maksud?"
"Bagaimana? Apa kau merasakannya?"
"Apa yang sedang kau lakukan, nii-chan?" ucapku membalas semua pertanyaannya
"Aku memijat-mijat kedua jempol kakimu, apa kau merasakannya?" sambungnya
"Aku tidak bisa merasakan apapun. Apa ini nii-chan? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Tenanglah, kumohon tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja..." ucapnya, terasa lengannya merangkul seraya menepuk-nepuk pelan punggungku
"Bisakah kau mengganti pakaiannya, aku akan menggendongnya ke kamar mandi." sambung Izumi
"Laksanakan, Yang Mulia." Ucap perempuan tadi
Rangkulan erat ditubuhku terlepas, ikut terdengar suara langkah kaki menjauh. Suara pintu terbuka kembali mengetuk telingaku yang juga diikuti suara pintu tertutup tak lama berselang. Kembali terdengar di telingaku suara langkah kaki mendekati...
"Putri," ucap wanita tersebut
"Handukku disimpan di dalam lemari yang ada didalam kamar mandi, kau bisa mencarinya disana." ucapku memotong perkataanya
________________
"Apa airnya terlalu dingin untukmu, Putri?" ucap wanita tersebut diiringi pijatan-pijatan kecil di kulit kepalaku
"Hanya setengah bagian tubuhku yang merasakannya, jadi tidak masalah." ucapku, kurapatkan kedua telapak tanganku seraya meraih air yang menyentuh tubuhku
"Putri, handukmu." ucap wanita itu kembali, kuangkat kedua lenganku. Terasa handuk yang ia sebutkan melilit seluruh tubuhku...
Berjalan kembali ia menjauh diiringi suara pintu yang terbuka. Tak lama, terdengar kembali suara langkah yang mendekati, kupegang dengan erat handuk yang melilit tubuhku tadi...
"Aku akan menggendongmu kembali." terdengar kembali suara Izumi, kubalas perkataannya tersebut dengan anggukan kepala dariku
Terasa tubuhku terangkat ke atas, genggaman tanganku di handuk yang aku kenakan semakin kuat. Kuarahkan telapak tanganku yang lain memegang bagian bawah handukku yang basah...
"Apa kau mau langsung duduk di kasur atau..."
"Langsung di kasur saja, nii-chan. Untuk apa aku duduk di depan meja rias kalau aku sendiri tidak bisa melihat apapun."
"Aku mengerti." terdengar kembali suaranya yang sedikit bergetar
Tubuhku kembali menyentuh sesuatu yang empuk, kembali kurasakan suatu tepukan pelan menyentuh rambutku yang basah...
______________
"Apa kau ingin duduk di Taman?" ucap Izumi menggendong tubuhku kembali
"Kau sendiri bukan yang mengatakan jika sinar matahari pagi sangat bagus untuk tubuh." Sambungnya
"Kau benar, bawa aku ke Taman nii-chan." ucapku seraya kugenggam kuat pakaian yang ia kenakan
"Aku tidak peduli bagaimana cara kalian mendapatkannya, hanya bawakan aku buku sebanyak apapun yang dapat kalian temukan. Kalau perlu, cari di Kerajaan-kerajaan lain!" terdengar teriakan Haruki diiringi suara pecahan barang yang dilempar
"Apa itu Haru nii-chan?" ucapku pada Izumi
"Bisakah aku menemuinya, Izu nii?" lanjutku
"Aku akan membawamu bertemu dengannya."
"Bisakah kau mengetuk pintu yang ada di hadapanmu?" sambung Izumi
"Aku mengerti." ucapku, kuarahkan telapak tanganku yang aku genggam sebelumnya seraya kuketuk-ketukan pada benda keras yang ada di hadapanku
"Haruki, buka pintunya!" teriak Izumi berulang kali, terdengar suara pintu terbuka di sebelah kananku
"Apa yang kau lakukan, Iz..."
"Kenapa kau membawanya kesini?" sambung Haruki
"Dia ingin bertemu denganmu, hanya ikuti kami berdua ke Taman sebentar." ucap Izumi kembali
Terdengar suara langkah kaki mengiringiku, langkah kaki-kaki tersebut berhenti setelah beberapa saat terdengar. Diturunkannya tubuhku oleh Izumi di suatu alas yang sedikit keras menurutku...
"Apa kau disana, Haru nii-chan?" ucapku seraya mengarahkan tanganku ke arah depan
"Aku disini." ucapnya, tanganku terasa ditarik pelan ke sebelah kanan tubuhku
"Apa kau berisitirahat yang cukup, nii-chan? Jangan terlalu memaksakan diri, matamu akan rusak jika kau terlalu banyak membaca tanpa istirahat."
"Aku mengerti. Apa kau lapar? Ingin makan sesuatu?" ucapnya, terasa sesuatu hangat nan lembut menyentuh telapak tanganku
"Aku tidak lapar nii-chan. Aku hanya mengkhawatirkanmu." ucapku, kuarahkan telapak tanganku hingga menyentuh telinganya
"Aku lebih mengkhawatirkanmu, kau tahu." ucapnya, terasa sesuatu menggenggam telapak tanganku yang tak sengaja menyentuh telinganya tadi
"Aku tak bisa berjalan nii-chan, kakiku tak bisa digerakkan sama sekali. Maafkan aku nii-chan, aku tidak bisa menepati janji yang kita buat."
"Apa maksudmu, Sa-chan?"
"Izumi..." sambung Haruki
"Apa Ayah mengetahuinya?" lanjut Haruki, terasa genggaman tangannya padaku semakin kuat
"Ayah belum mengetahuinya." terdengar suara Izumi dari sebelah kiri tubuhku
"Yang Mulia, para Kesatria yang kau perintahkan sebelumnya telah kembali."
"Aku mengerti, Tatsuya." ungkap Haruki membalas perkataan suara laki-laki tadi
"Tunggu sebentar lagi, Sa-chan. Aku akan melakukan apapun untuk menyembuhkanmu." ucapnya lagi, kembali terasa tepukan pelan di kepalaku
"Rawat dia baik-baik Izumi..."
"Ikuti aku, Tatsuya!" sambung Haruki, terdengar suara langkah kaki menjauh dari pendengaranku
"Izu nii-chan, bisakah aku merebahkan kepalaku di pundakmu?" tukasku
"Tentu." ucapnya, kurasakan sesuatu meraih dan menarik pelan kepalaku
"Nii-chan, seseorang pernah mengatakan padaku jika mata hijau yang aku punya ialah sebuah kutukan. Awalnya aku sama sekali tidak mempercayainya, akan tetapi ketika aku memikirkannya kembali... Aku pikir apa yang ia katakan..."
"Apa kau akan membenci dan menjauhiku nii-chan, jika apa yang ia katakan benar adanya?"
"Matamu... sama hijaunya seperti mata Ibu. Apa kau pikir, aku akan membenci mata yang sama seperti yang ibuku punya?"
"Jikapun benar itu kutukan, maka mata abu-abu yang aku miliki pun merupakan sebuah kutukan..."
"Dan yang lebih gilanya, Ayah kita sendiri bahkan jatuh cinta dengan dua perempuan yang memiliki mata kutukan seperti kita berdua." ucapnya lagi, kembali kurasakan beberapa kali tepukan pelan di atas kepalaku