Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXLII


Arata menggerakkan kudanya berjalan melewati kami, ikut kugerakkan kudaku berlari cepat menyusul mereka semua. Kuda-kuda milik kami bergerak cepat menyusuri hutan, saat Arata menggerakkan kudanya ke kanan, kami pun melakukan hal yang sama mengikutinya begitu juga sebaliknya.


"Perlambat kuda kalian!" Teriak Haruki, kutarik tali kekang yang mengikat kudaku dengan kedua mataku menatap ke arah kumpulan pasukan yang berdiri di hadapan kami.


"Siapa kalian?!" Salah seorang laki-laki berteriak, laki-laki tersebut membawa kudanya melangkah mendekati kami.


"Kami pasukan yang diperintahkan Kerajaan Leta untuk membantu kalian!" Haruki balas berteriak sembari digerakkannya kuda yang ia tunggangi mendekati laki-laki tersebut.


Laki-laki bertubuh gelap dengan kumis tebal di wajahnya itu membelalakan kedua matanya, "kami telah menunggu kedatangan kalian," ucapnya menggerakkan kudanya berbalik membelakangi kami, "ikuti aku!" Laki-laki tersebut kembali bersuara sebelum ia membawa kuda yang ia tunggangi menjauhi kami.


"Kalian semua, jangan bergerak terlalu jauh satu sama lain," Haruki berbalik sebelum kudanya berjalan mengikuti laki-laki tadi.


Kugerakkan kudaku mengikuti Haruki dengan Arata di sebelah kiriku sedangkan Izumi menunggangi kudanya di samping kananku. Kugerakkan pandangan mataku ke sekitar, para Kesatria yang berada di sekitar mengalihkan pandangannya ke arah kami selama kami berjalan melewati mereka.


Haruki menghentikan kudanya saat laki-laki tadi telah terlebih dahulu menghentikan kuda yang ia tunggangi, "mereka telah berada di sini," ucap laki-laki tadi kepada seorang laki-laki tambun bertubuh gelap yang duduk di sebuah kursi kayu besar penuh ukiran.


"Jadi Leta, hanya mengirimkan kalian sebagai bala bantuan?" Tanya laki-laki bertubuh tambun mengarahkan matanya menatap ke arah kami. "Apa mereka bercanda! Mereka yang mengancam kami untuk menyerang Kerajaan Tao, tapi mereka hanya mengirimkan kalian sebagai bantuan?!" Laki-laki tambun tadi berucap lantang, sebelah tangannya bergerak memukul meja penuh makanan yang ada di hadapannya.


"Pangeran Miron, memintaku untuk menyampaikan hal ini kepadamu," Haruki kembali bersuara, aku sedikit melirik ke arahnya yang bergerak maju membelakangi kami.


"Jika kalian menolak bantuan kami lalu kalah di dalam peperangan, rahasia terbesarmu. Pengkhianatan yang kau lakukan sembunyi-sembunyi dari Kekaisaran, akan ia beritahukan semuanya kepada Kaisar. Jadi, tutup mulutmu dan dengarkan semua yang kami perintahkan! Atau, musnah tak bersisa di tangan Kekaisaran karena sifat tamak yang kau miliki."


"Beraninya ka..." Laki-laki tambun itu kembali terduduk, perkataannya terhenti saat sebuah panah menancap di kursi kayu yang ia duduki, panah yang hampir menancap lehernya jika dia bergerak sedikit saja ke kanan.


"Tutup mulutmu, jangan menentang perintah Tuanku," suara Gritav tiba-tiba terdengar, aku berbalik menatapnya yang telah menggenggam kuat busur panah di tangan kanannya.


"Beraninya kalian!" Teriakan laki-laki terdengar di telinga, aku berbalik menatap laki-laki berkumis yang mengantar kami tadi.


Laki-laki itu mengangkat pedangnya, kudanya berlari cepat mendekati Haruki, "tikus sialan," suara Arata tiba-tiba terdengar, tangan kirinya bergerak cepat melemparkan pisau kecil yang ia genggam ke arah laki-laki tadi.


Laki-laki berkumis tadi jatuh tersungkur dari atas kuda yang ia naiki, jeritan pilu tiba-tiba menyeruak ke udara. Kutatap laki-laki tersebut yang mengangkat sedikit kepalanya, pisau yang Arata lemparkan ... Menancap kuat di mata kanannya, darah mengalir membasahi pipi laki-laki tadi.


"Kami memang sedikit, tapi kami para Kesatria terpilih. Para Kesatria lemah yang melindungimu, bukanlah tandingan kami, Raja," ucap Haruki menatap laki-laki tambun itu kembali.


"Apa yang sebenarnya diinginkan Pangeran Miron? Kenapa dia menginginkan Kerajaan kecil seperti kami menyerang Kerajaan besar seperti Tao?!" Laki-laki tambun itu menundukkan kepalanya, sebelah tangannya bergerak mencengkeram lengan kursi yang ia duduki.


"Kerajaan Tao, adalah Kerajaan kedua terkaya setelah Sora. Jika Kerajaan Leta dapat menaklukan mereka, maka mereka juga akan dengan sangat mudah menaklukan Sora untuk kedepannya. Pangeran Miron, menginginkan Leta menjadi Kerajaan terkuat setelah Kekaisaran," ucap Haruki menjawab perkataan laki-laki tersebut.


"Dan jika, kalian berhasil melaksanakan perintah Pangeran Miron. Kerajaan kalian, juga akan tumbuh menjadi salah satu Kerajaan besar yang ada di dunia," Haruki kembali melanjutkan perkataannya.


"Bukan hanya itu, benteng Kerajaan mereka bahkan disebut-sebut menjadi salah satu benteng yang mustahil untuk dirobohkan. Pangeran Miron, hanya menginginkan kami mati di tangan Tao," sambung laki-laki itu kembali, sebelah tangannya bergerak mengusap keningnya.


"Tunggu dulu," ucapku, kuangkat sebelah telapak tanganku ke depan. "Jangan katakan, kita akan menyerang Kerajaan besar dengan hanya menggunakan puluhan ribu pasukan?" Tanyaku, kualihkan pandanganku kepada Haruki yang menganggukkan kepalanya ke arahku.


Apa dia telah kehilangan akalnya?


Bagaimana caranya menembus benteng pertahanan musuh hanya dengan puluhan ribu pasukan, dan juga...


Aku sedikit melirik ke arah laki-laki berkumis yang telah berbaring di tanah tak sadarkan diri. Melihat kondisinya yang seperti itu, sudah bisa dipastikan jika pisau yang menancap di matanya tadi tak lain adalah pisau beracun.


Dan yang lebih gilanya, pasukan lemah seperti itu diperintahkan untuk merobohkan suatu Kerajaan besar? Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Kakakku itu.


"Nii-chan, bukankah ini bunuh diri?" Ucapku dengan sedikit pasrah ke padanya.


"Kita hanya menyerang satu Kerajaan, apa susahnya itu?" Tukasnya santai menatapku.


Sialan, mudah sekali dia mengatakannya.


"Nii-chan, tapi ... Maksudku, mereka bahkan tak memiliki senjata perang yang layak. Aku bahkan tidak melihat senjata-senjata besar yang seringkali digunakan untuk menghancurkan suatu benteng."


"Sa-chan!"


"Aku menginginkan Kerajaan Tao. Kita, harus menaklukan Kerajaan tersebut sebelum mereka tumbuh menjadi Kerajaan yang lebih kuat dibandingkan sekarang. Nasib Sora, nasib Ayah ... Nasib rakyat kita kedepannya, bergantung kepada tindakan yang akan kita lakukan."


"Aku, merencanakan semuanya sudah sejak lama. Tugasmu, membawa seluruh pasukan melewati gerbang benteng. Aku tahu, kau dapat melakukannya," sambung Haruki, lirikan yang ia lakukan benar-benar membuat tubuhku bergidik.


Benteng, pertahanan kuat, puluhan ribu pasukan.


Ini gila, tapi yang dikatakan Haruki benar adanya. Tao, akan menjadi ancaman besar untuk Ayahku jika kami tak segera menaklukan mereka.


Apa yang harus aku lakukan? Berpikirlah otakku, berpikirlah lebih keras.


Aku menghela napas kuat, kepalaku tertunduk menatapi jubah yang menutupi kepala Cia, "Arata!" Tukasku memanggil namanya, "katakan, di Kerajaan mana kau menjadi pimpinan penjahat?"


"Kerajaan Tao," ucapnya pelan menjawab perkataanku, "berapa banyak penjahat yang berada di bawah pimpinanmu?" Tanyaku kembali padanya.


"Seratus, aku memimpin seratus penjahat di sana," dia kembali menjawab perkataanku, "benarkah? Bisakah kau membantuku? Aku ingin, kau memerintahkan mereka untuk melakukan ini," ucapku kembali padanya, kugerakkan bibirku membisikkan sesuatu di telinganya.