Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXCIX


“Masuklah ke dalam kereta, Sachi!”


“Apa kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan?” Zeki kembali bersuara menatapku.


Aku berbalik, kedua kakiku melangkah mendekati kereta dengan sesekali melirik ke arah bayangan hitam yang mengikuti berjalan di belakang. Langkah kakiku terhenti di depan pintu kereta, tangan yang muncul dari arah belakang itu … Membuka pelan pintu kereta itu untukku.


Aku melangkah masuk ke dalam kereta itu, lalu duduk mendekati jendela yang ada di seberang sisinya. Kedua mataku melirik ke arah Zeki yang juga telah masuk dengan sebelah tangannya kembali menutup pintu tersebut. Kereta bergerak perlahan, Zeki masih duduk terdiam di kursi yang berseberangan denganku. Aku menoleh ke kiri, menatap ke luar jendela dengan sedikit helaan napas pelan keluar.


“Kau pasti telah mendengar bukan? Apa yang terjadi pada keluarga kami beberapa bulan yang lalu,” ucapku pelan dengan masih menatap ke luar jendela, “Haru-nii, kehilangan Luana dan juga calon anak mereka. Baik aku, ataupun Izu nii-chan … Kami berdua mati-matian untuk membuatnya sedikit melupakan kejadian itu. Jika saja, itu terjadi di antara ki...”


“Hentikan semua omong kosong yang akan kau katakan itu,” Zeki menghentikan perkataanku, aku sedikit melirik ke arahnya yang juga membuang pandangan ke jendela yang ada di sampingnya, “kau benar, itu semua omong kosong. Tapi, aku sendirilah yang menyetujui rencana ini,” ucapku kembali membuang pandangan darinya.


“Kalian bisa menggunakan Kou untuk menghancurkan suatu Kerajaan, kenapa juga? Kau harus mengikuti semua rencana yang dibuat kakakmu?”


“Hanya para pemimpin mereka yang bersalah, rakyat tidak mengetahui apa pun. Jika aku menggunakan Kou, akan ada banyak yang menjadi korban. Aku menyadarinya, saat naga milik Kaisar menyerang rakyat-rakyat kami yang tidak mengetahui apa pun,” aku tertunduk, menatap kedua tanganku yang telah digenggam di atas paha.


“Maaf,” sambungku kembali dengan sangat perlahan terdengar, “kemarilah,” aku menoleh ke arahnya saat dia mengatakannya.


“Aku di sini saja,” Zeki menyipitkan matanya saat aku membalas tatapannya, “kemarilah,” ucapnya lagi padaku.


“Sudah tidak terhitung, berapa hari aku tidak membersihkan tubuhku. Jadi, aku akan tetap di sini,” aku menoleh kembali ke kanan saat kurasakan sesuatu menyentuh rambutku, “apa yang kau lakukan?” Bisikku dengan menarik kepalaku menjauhinya, lama aku menatapnya yang telah duduk di samping.


“Hanya ingin membantumu.”


“Hanya ingin membantuku?” Aku mengulangi perkataannya saat telapak tangannya telah menyentuh kembali kepalaku.


Zeki sedikit mendorong kepalaku hingga kepalaku itu sedikit tertunduk, “apa yang ka … Sakit,” ucapku saat kurasakan gigitan kuat di leher yang ada di belakang telingaku.


Aku tertunduk dengan telapak tangan menyentuh leherku yang sedikit basah saat gigitan yang aku rasakan itu terlepas. “apa kau lupa? Nama siapa yang ada di lehermu itu?”


“Namamu,” ucapku dengan sedikit mencengkeram leherku, “pinta Kou untuk jangan menyembuhkannya dalam waktu dekat,” ungkap Zeki diikuti kepalanya yang bersandar di pundakku.


__________________


“Zeki, bangunlah,” ucapku dengan sedikit menepuk-nepuk pelan pipinya yang masih tidur bersandar di pundakku.


“Apa kita telah sampai?” Gumamnya, aku melirik ke arahnya saat kurasakan kepalanya telah beranjak di pundakku, “kita telah sampai, aku harus segera pergi … Dan juga, berikan aku uang,” ucapku dengan mengadahkan tangan ke arahnya.


“Uang?”


“Aku harus tampil cantik agar terpilih bukan? Dan, uang yang kami bawa telah menipis jadi aku, aku,” ucapku menghindari pandangannya, “laki-laki mana yang memberikan uang kepada pasangannya agar dia bisa tampil cantik untuk menarik perhatian laki-laki lain,” aku kembali menatapnya saat jari-jemarinya sedikit mencengkeram kedua pipiku.


Zeki menghela napas, dia melepaskan cengkeraman di pipiku saat dia berbalik membelakangiku. Zeki kembali menatap ke arahku dengan sebuah kotak kayu di tangannya, dia sedikit memundurkan tubuhnya dengan meletakkan kotak tadi di tengah-tengah kami, “ambil sebanyak yang kalian butuhkan,” ucapnya ketika membuka kotak kayu tersebut.


Tubuhku sedikit tertegun saat menatap bongkahan batangan emas yang bersusun rapi di dalam kotak tersebut, “aku seperti mendapatkan angin segar setelah melihat banyak sekali benda berkilau di hadapanku. Darling, kau memang yang terbaik … Aku harus membeli pakaian, aku harus membeli kuda kualitas terbaik, aku juga ingin mencicipi semua makanan yang ada di sini,” ucapku dengan mengambil satu per satu batangan emas yang ada di dalam kotak tersebut.


“Terima kasih,” ucapku dengan memasukkan lima batangan emas ke dalam tas milikku, “kau yakin?” Tanyanya yang aku balas dengan anggukan kepala, “Kerajaan kalian sangatlah jauh bukan, kalian akan lebih membutuhkannya dibandingkan aku,” ucapku tersenyum menatapnya, “simpan saja batangan emas itu, gunakan ini untuk membeli semua keperluanmu,” ucapnya yang kembali berbalik menatapku dengan sebuah kantung kulit di tangannya.


Aku tertunduk, menatap kantung kulit yang telah ia letakkan di telapak tanganku itu, “aku merasa seperti memanfaatkanmu hanya untuk uang,” ucapku mencengkeram kantung berisi kepingan uang di dalamnya, “kau menemaniku sejak aku masih belum memiliki apa-apa. Jadi sudah sepantasnya, aku berbagi semua hal yang aku punya saat aku telah memiliki semuanya. Berhati-hatilah, aku menunggumu di sana,” ucapnya meraih lalu menyelipkan rambutku yang sempat terjatuh ke telinga.


“Kau juga, berhati-hatilah,” ucapku beranjak dari tempat duduk, aku melangkah ke luar saat tangan Zeki telah membuka kembali pintu kereta.


Pandangan mataku melirik ke arah Haruki yang telah menunggangi sebuah kuda berwarna cokelat di hadapanku, kuangkat tanganku meraih tangannya yang mengarah kepadaku itu. Kuda yang ia tunggangi berjalan pelan saat aku telah duduk di belakangnya, “apa hubungan kalian baik-baik saja?”


“Maaf, aku tidak bermaksud untuk mempermainkan hubungan yang ada di antara kalian berdua,” ucap Haruki kembali dengan kedua matanya masih menatap lurus ke depan, “aku ingin melihat, sejauh mana Zeki percaya padamu. Walaupun dia menunjukkan jika dia bersungguh-sungguh tertarik padamu, seorang Kakak tetap akan khawatir jika Adik perempuannya jatuh di tangan yang salah. Aku tidak ingin, kau terluka hanya karena cinta. Aku tidak ingin adik-adikku terluka hanya karena itu,” sambungnya dengan sedikit helaan napas yang terdengar darinya.


“Kami baik-baik saja nii-chan, dia telah mengerti saat aku menjelaskannya. Dia bahkan membarikan kita banyak sekali uang untuk memperlancar rencana ini” ucapku menyandarkan kepala di pundaknya, “benarkah? Syukurlah … Aku tahu dia laki-laki yang baik, dia hanya tidak bisa mengendalikan emosinya jika itu berhubungan denganmu. Apa kau ingat? Apa yang dulu pernah aku katakan kepada Izumi?”


“Izumi, kau akan langsung mati di tangan musuh jika hanya mengandalkan kekuatan. Baik Zeki ataupun Izumi, mereka berdua sama. Aku tidak ingin mereka mati sia-sia hanya karena tidak bisa mengendalikan emosi yang mereka miliki. Karena itu Sa-chan, jika kau ingin menyelamatkannya … Kau harus membantunya untuk lebih mengendalikan emosinya sendiri. Aku tidak suka membuang-buang waktu, karena itu … Aku membuat rencana ini."


"Hancurnya Kerajaan Il yang di mana akan sangat membantu Sora, dan juga sekaligus dapat memberikan pelajaran kepada Zeki untuk lebih menekan emosinya, serta … Lagi pun, ini akan menjadi tantangan terakhir dariku, sebelum aku benar-benar melepaskan adik perempuanku padanya,” ucap Haruki lagi disertai tepukan pelan yang menyentuh kepalaku.