Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLV


"Ini sudah mulai sore, tapi makhluk atau Monster itu belum menunjukkan tanda-tanda kemunculannya kembali," ucap Emre, kualihkan pandanganku padanya yang menatap kami di bawah sinar bias mentari yang jatuh di atas tubuhnya.


"Apa kau baik-baik saja?" bisikku pada Eneas, kutepuk pelan kepalanya yang ia baringkan di pahaku.


"Aku baik-baik saja nee-chan, hanya saja... Perutku terasa diaduk-aduk dari tadi," jawabnya dengan nada sangat pelan padaku.


"Jadi sebaiknya ki..."


Perkataan Aydin terpotong, menoleh aku ke arah mereka yang juga berusaha bangkit berdiri. Kapal yang kami pijak kembali bergoyang...


Bergerak aku mendekati samping Kapal mengikuti jejak Haruki, kutatap air laut yang semula terang dan tenang. Berubah menjadi keruh dan riak, aliran airnya semakin tak beraturan membentur satu sama lain...



Kualihkan pandanganku pada susunan tong yang bergerak ke kanan dan kiri bergantian mengikuti goncangan kapal. Ditariknya lenganku oleh Haruki menuju ke tengah Kapal seraya kurangkul tubuh Eneas yang masih terlihat pucat pasi...


Suara jeritan laki-laki memekakkan telinga, menoleh aku ke arah suara. Pandangan mataku diam terpaku menatap tubuh laki-laki tersebut tergantung terbalik di udara...


Sebuah benda raksasa seperti tentakel merayap di tubuhnya sedangkan benda yang lain masih menggenggam erat pergelangan kakinya. Tubuh laki-laki tadi terangkat semakin tinggi diikuti tentakel yang merayap di tubuhnya tadi...


Jeritan meminta pertolongan tak henti-hentinya keluar dari mulutnya. Kualihkan pandanganku pada Aydin yang berteriak lantang memerintah anak buahnya...


Puluhan anak panah terbang melesat menembus tentakel berwarna kemerahan itu, kutatap lubang-lubang berukuran sedang yang tersusun rapi di tentakel itu, mengembang dan mengempis, mengembang dan mengempis terjadi berulang-ulang pada lubang-lubang itu...


Aliran darah keluar layaknya sebuah garis lurus dari anak-anak panah yang menancap di tentakel tadi, dengan cepat tentakel tadi memukul kuat bagian samping kapal...


Kapal layar tadi bergoyang ke samping kanan, ditahannya tubuhku oleh Izumi yang hampir jatuh terjungkal ke depan seraya sebelah tangannya ikut memegang Eneas yang lepas dari genggamanku...


Kualihkan pandanganku pada tubuh pria tadi yang masih tak bergeming, lehernya terbaring miring balas menatapku. Kutatap darah yang keluar dari lubang hidung, telinga dan juga mulutnya yang menganga...


Seorang laki-laki berukuran besar, menendang ke samping tubuh rekannya yang sudah tak bernyawa tadi... Kepalaku kembali menabrak sesuatu, menoleh aku seraya menatap punggung Izumi yang telah berdiri di hadapanku dengan sebuah busur berserta anak panah di genggamannya...


Anak panah Izumi menembus salah satu lubang yang ada di tentakel itu, kembali bergerak tentakel tadi tak tentu arah... Haruki berbalik dan berlari mendorong tubuh kami ke belakang...


Menoleh aku ke samping kanan, kepalaku terasa sakit sekali membentur lantai kapal. Kualihkan pandanganku pada Izumi yang juga jatuh di atas tubuhku, beranjak ia duduk diikuti Haruki yang ikut beranjak berdiri dari atas tubuhnya...


Ditariknya duduk tubuh Eneas yang terbaring di sampingku oleh Izumi, bergerak ia seraya merangkulkan lengannya di kepalaku sembari diangkatnya tubuhku duduk di sampingnya...


Keadaan menghening, tak ada goncangan seperti sebelumnya. Beranjak satu persatu awak kapal yang ada di sekeliling, kutatap beberapa dari mereka yang terlihat menutup wajah melihat jasad rekannya yang tertimbun di balik tiang kapal tadi...


Tubuhku tertegun, kurasakan sesuatu melingkari pinggangku. Kualihkan pandanganku pada benda lunak nan lengket berwarna merah tersebut...


"Nii-chan!" teriakku saat benda tadi menarik tubuhku ke belakang.


Menoleh Haruki dan Izumi ke belakang, kutatap kedua bola mata mereka membesar menatapku. Izumi jatuh ke depan mencoba menangkap tubuhku tapi tak berhasil...


Kutatap kedua Kakakku yang masih berusaha menembakkan anak panah mereka ke arahku, berkali-kali terdengar teriakan-teriakan mereka memanggil namaku. Bayangan mereka semakin mengecil dan semakin mengecil terlihat...


Cengkeraman tentakel tadi semakin kuat membelit tubuhku, tulang-tulang ditubuhku seakan remuk perlahan karenanya...


"Kou," ucapku pelan disertai batukan yang menyertai.


Ditariknya tubuhku ke bawah, air laut yang asin menyentuh ujung bibirku. Kutatap wujud makhluk yang menarik tubuhku tadi... Diangkatnya tubuhku ke atas lalu ditariknya kembali ke dalam lautan, dilakukannya hal itu berulang dan berulang...


Telingaku berdenging, mataku terasa perih tak beraturan, dan perutku terasa sangat mual karenanya. Kutatap langit biru yang ada di hadapanku seraya kugigit dengan kuat bibirku menahan sakit yang tak kunjung hilang di telingaku...


Kutatap benda putih yang terbang mendekati, dicengkeramnya tubuhku olehnya. Pandangan mataku teralihkan pada putih lehernya yang melewati...


Lilitan di pinggangku meregang, kutatap wajah putihnya yang telah berubah warna menjadi merah. Tetesan-tetesan berwarna merah itu jatuh di wajahku lalu mengalir melewati pipiku...


"Kau baik-baik saja Sa-chan?" suara pelan itu terdengar sedikit bergetar, kurasakan cengkeraman di tubuhku tadi berganti dengan rangkulan.


"Telinganya," ucapnya lagi pelan, kutatap Haruki dan juga Izumi yang telah duduk di samping kanan dan kiri tubuhku. Wajah pucat pasi kembali mereka ukir, kurasakan sapuan pelan menyentuh telingaku yang tak henti-hentinya berdenging...


Haruki mengangkat tubuhku duduk bersandar di pundaknya, kutatap Izumi yang tengah mengarahkan jari jemarinya di leherku. Dibukanya jubah yang masih melekat di tubuhku oleh Izumi seraya ikut kurasakan telapak tangan menyentuh dahiku lalu bergerak telapak tangan tadi ke atas kepalaku.


Kualihkan pandanganku pada Kou yang terbang pelan di hadapan kami, dibukanya lebar mulutnya seraya terbang ia mengelilingi kapal yang kami naiki... Air laut yang ada di hadapan kami telah berubah menjadi kepingan es olehnya...


Mendarat Kou di atas es yang ia buat sebelumnya, berbalik ia menatapku dengan matanya yang merah menyala dari sebelum-sebelumnya. Asap putih tak henti-hentinya keluar dari rongga mulutnya...


Maju ia pelan mendekati, digerakkannya lehernya yang panjang tadi ke sampingku. Kurasakan hawa dingin menyentuh dan menembus telingaku, diangkatnya kepalanya kembali seraya lama ia menatapku... Digerakkannya kembali kepalanya ke sisi sebelah tubuhku, kurasakan kembali hawa dingin nan menyejukkan itu memenuhi lubang telingaku.