
Apa Haruki telah kehilangan pikirannya? Bagaimana caranya aku memimpin empat ribu pasukan sekaligus?
Tersenyum gemetar aku dihadapan para Kesatria Kerajaan Paloma, berkali-kali kuusap telapak tanganku yang penuh keringat di punggung pakaian yang aku kenakan...
Ribuan pasang mata itu menatapku, dadaku sendiri seakan menyesak oleh tekanan yang mengelilingi sekitar. Kutarik napasku sedalam mungkin lalu kembali kuembuskan secara perlahan, kutatap mereka seraya membungkuk aku dihadapan mereka...
"Perkenalkan, namaku Sakura. Akulah yang akan memimpin kalian menjaga gerbang utama," ucapku gemetar.
"Apa yang mereka lakukan?"
"Bagaimana bisa kita dipimpin oleh perempuan?"
"Penghinaan macam apa ini?!" teriak mereka satu persatu.
Beranjak kembali aku berdiri, kututup sebelah telingaku menggunakan telapak tanganku. Kuangkat kedua tanganku seraya kugerakkan hingga menampar kedua pipiku sendiri, mereka semua terdiam... Kembali kutatap para laki-laki tersebut satu persatu.
"Tutup mulut kalian semua," ucapku menatap dingin mereka semua.
"Jika kalian punya banyak tenaga untuk mengeluh, sebaiknya bawakan aku senjata apapun yang kalian punya selain pedang dan juga panah. Dan aku ingin, kalian semua juga membawakan aku banyak sekali kendi beserta minyak yang sangat mudah terbakar," ucapku lagi pada mereka.
"Apa yang ingin kau perbuat?" ucap Savon menarik dan mencengkeram lenganku.
"Jika musuh sampai mendekati gerbang dan membukanya... Maka habislah kita semua. Aku akan membuat musuh tidak akan mendekat kepada kita sedikitpun dan lepaskan tanganmu dariku, aku adalah pemimpin kalian saat ini," ungkapku balas menatapnya, dilepaskannya cengkeraman yang ia lakukan padaku.
"Apa yang tengah kalian tunggu? Bagi kelompok menjadi dua, satu kelompok mendapatkan peralatan yang aku perlukan lalu bawa ke gerbang utama sedangkan kelompok lainnya ikuti aku!" teriakku menatap mereka.
Berbalik dan berjalan aku meninggalkan mereka, kulangkahkan kakiku mendekati seekor kuda. Menoleh kembali aku kearah Savon seraya kulambaikan tanganku padanya untuk mendekat.
Melangkah ia mendekatiku, kuarahkan tali kekang yang terikat di kuda tadi padanya. Lama ia menatapku tanpa mengucapkan sepatah katapun...
"Aku belum pernah menunggangi seekor kuda sebelumnya dan juga jarak antara gerbang utama dengan Istana sangat jauh. Jadi aku ingin kau menuntunku dengan kuda ini," ucapku tersenyum menatapnya, kugoyang-goyangkan tali kekang yang masih aku genggam tadi dihadapannya.
"Berhenti bercanda," ucapnya dengan nada sinis padaku.
"Apa aku terlihat bercanda? Kita tidak punya banyak waktu, cepatlah ambil tali ini!" ungkapku lagi padanya.
Diraihnya tali kekang yang aku pegang sebelumnya, berbalik aku seraya kulangkahkan kakiku menaiki kuda tersebut. Berjalan Savon dengan menarik kuda yang aku tunggangi itu...
Kuda yang aku tunggangi itu berjalan pelan, menoleh aku ke belakang seraya kutatap ribuan Kesatria yang mengikuti. Kembali kualihkan pandanganku ke depan, orang-orang yang berkerumun di depan gerbang sebelumnya tampak berdesak-desakan menyingkir dari jalan...
Aku masih menatap lurus kedepan seraya mencoba mengabaikan semua pandangan-pandangan yang mereka lontarkan kepadaku. Langkah kaki kuda itu terhenti tepat didepan gerbang yang terbuat dari kayu itu, kuangkat kakiku menuruni kuda...
"Apa diantara kalian terdapat ahli strategi? Jika ada, ikuti aku," ucapku seraya menoleh kearah mereka.
Melangkah aku mendekati tangga yang bersatu dengan benteng yang ada di gerbang, kulangkahkan kakiku menaiki tangga yang terbuat dari batu tersebut...
Melangkah kembali aku mendekati pembatas yang dibangun di atas benteng tersebut, kuarahkan pandanganku pada hamparan gelap yang ada dibalik gerbang...
"Mendekatlah," ucapku pelan seraya tertunduk.
"Bagaimana menurut kalian tentang Kerajaan ini? Apa kalian sangat-sangat mencintainya hingga kalian rela mengorbankan hidup kalian untuknya?" tanyaku, kutatap mereka satu persatu yang telah berdiri dihadapanku.
"Apa itu pertanyaan yang harus wajib kami jawab?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku bertanya karena aku ingin mengetahui jawabannya bukan? Jadi, apa jawaban kalian untuk pertanyaanku tadi," ucapku lagi pada mereka.
"Ini tempat lahir kami, ini tempat kami tumbuh. Hidup dan mati kami, semuanya untuk melindungi Kerajaan, karena itulah kami memilih untuk menjadi Kesatria," ucap Savon menatapku.
"Baiklah, aku akan memikirkan rencana apa yang akan kita lakukan setelah Kesatria yang lainnya datang," ungkapku lagi seraya kuangkat kepalaku ke atas.
Lama kami terdiam satu sama lain, kulirik mereka yang juga masih menatapku. Berselang, terdengar suara riuh dari bawah... Berjalan salah satu Kesatria yang ada di depanku tadi untuk melihat sumber suara.
"Mereka yang ditugaskan untuk membawa senjata telah datang," ucap laki-laki tadi seraya menoleh menatapku.
Melangkah aku mendekatinya diikuti Kesatria yang lain, sebuah ketapel raksasa, berpuluh-puluh kendi berukuran kecil serta satu buah tong kayu ada dihadapan mereka...
"Apa hanya itu yang bisa kalian dapatkan?" ucapku menatap mereka yang berbaris di bawah.
"Hanya ini," teriak salah satu dari mereka.
"Apa yang ingin kalian lakukan?!"
"Biarkan kami keluar dari sini!"
"Lihat apa kau perempuan sialan, cepat buka gerbangnya!"
"Buka gerbangnya sialan, atau kami sendirilah yang akan menghancurkannya!" teriak para warga satu persatu menatapku.
"Diam!" balasku berteriak ikut kurasakan rasa perih dan kering menjalar di kerongkonganku.
"Membuka gerbang berarti kalian membunuh diri sendiri. Apa kalian tidak tahu berapa banyak pasukan yang akan menghabisi kita semua?!" teriakku lagi.
"Karena itu, kami akan meminta ampun pada mereka dan mengatakan jika kami hanyalah pendatang. Cepat buka gerbangnya perempuan menjijikan!"
"Tutup mulutmu!" balasku berteriak padanya, kutatap dengan tajam laki-laki yang berbicara tadi.
"Apa kau pikir mereka akan percaya jika kalian mengatakan hal tersebut."
"Cuih, apa kau pikir kami semua akan mendengarkan perkataanmu?" teriak laki-laki yang lainnya, kuraih busur dan anak panah yang ada di punggungku... Kuarahkan anak panah tersebut padanya...
Terbang melesat anak panah tersebut menembus dinding kayu yang ada tepat disamping telinga kanannya. Diam ia membeku diikuti suara senyap di sekitarku, kuturunkan kembali dari pandanganku busur panah yang aku genggam sebelumnya...
"Tutup mulutmu, sialan! Jika kau mengeluarkan suara lagi dari mulutmu yang menjijikan itu, aku pastikan anak panah selanjutnya akan langsung tertancap di kepalamu," ucapku menatapnya, terduduk ia menatapku dengan diam tanpa suara sedikitpun keluar.