
Aku menatap bayanganku sendiri yang terpantul dari cermin yang ada di hadapanku. Kutatap, semua riasan yang sebelumnya melekat, kini telah menghilang. Ya, Ibu dan bibi Alida membantuku untuk menanggalkan semua riasan itu. Apa ini kenyataan? Atau salah satu dari mimpiku? Karena aku, masih belum bisa mempercayai, jika sudah menikah dengan Zeki sekarang.
Sachi Be- Bechir. Oh Astaga, rasanya sulit sekali untuk mengucapkannya.
Aku beranjak berdiri sambil menghela napas, menatapi kamar yang telah menyimpan semua suka dan dukaku. Tubuhku berbalik, melangkah mendekati pintu kamar lalu membukanya. “Tsu nii-chan?” tukasku saat pandangan mataku terjatuh kepadanya yang berdiri di samping pintu.
“Kenapa tidak mengetuk pintu? Aku bahkan tidak sadar jika Tsu nii-chan ada di depan kamar,” ungkapku yang masih menatapinya.
Aku melepasakan genggaman tanganku di gagang pintu setelah kembali menutupnya, dengan tatapan masih mengarah kepada Tsubaru yang belum mengeluarkan sepatah kata pun. “Putri, dapatkah aku meminta permohonan?”
Alisku mengerut menatapnya, “permohonan? Permohonan apa?”
Tsubaru mengangkat wajahnya menatapku, “walau nanti Putri, maksudku Ratu … Meninggalkan Sora. Apa aku, masih diizinkan untuk menjadi pengawalmu?”
Aku tersenyum membalas tatapannya, “Tsubaru, sudah seperti keluarga untukku. Mana mungkin, aku meninggalkannya,” ucapku, aku sedikit mengangkat kepala ke atas dengan helaan napas yang pelan keluar, “Tsu nii-chan, terima kasih, karena telah merawatku. Terima kasih, karena menjadi orang pertama yang percaya padaku. Aku, tidak bisa seperti sekarang, jika bukan tanpamu, nii-chan,” ucapku, Tsubaru menundukkan kepalanya diikuti anggukan pelan yang ia lakukan.
Aku mengangguk sebelum melangkah melewatinya. Aku terus berjalan dengan sesekali melirik ke arahnya yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar. Semakin aku berjalan maju, semakin tak karuan juga degup jantungku bergerak. Aku menarik napas dalam, saat langkahku berhenti di depan sebuah pintu dengan banyak sekali hiasan dan beberapa kelopak bunga yang diikat menggantung seperti sebuah gorden di pintu tersebut.
Aku melangkah maju dengan melirik ke arah kanan dan juga kiri. Tanganku terangkat sambil mengetuk pelan pintu tersebut, “Zeki, apa kau di dalam?” gumamku sembari tetap mengetuk pintu itu.
Aku menarik napas dalam dengan beberapa kali menepuk-nepuk dadaku sendiri yang sedari tadi sesak. Tanganku yang penuh akan keringat, terangkat membuka dengan perlahan pintu itu. Kepalaku masuk ke dalam sela-sela pintu, mencoba untuk memastikan kamar, “aman, dia tidak ada di sini,” gumamku kembali seraya melenggang masuk lalu menutup kembali pintu.
Jika kalian bingung apa yang terjadi, Haruki … Tidak menceritakan perjanjiannya dengan Zeki kepada Ayah mengenai syarat kedua. Jadi jika kami berdua tidak bersama dalam satu kamar setelah menikah, entah apa yang akan dipikirkan oleh Ayah dan Ibu.
Aku menarik napas dalam, lalu melangkah semakin masuk ke dalam kamar. Bibirku menganga, menatap banyak sekali kelopak bunga mawar yang berhamburan di atas ranjang. Ketika aku menjatuhkan pandangan ke samping pun, lilin-lilin menyala tampak ikut memenuhi kamar ini.
Aku duduk di samping ranjang dengan tatapan kosong ke depan, kubaringkan tubuhku menyamping di atas ranjang tersebut. Kembali, helaan napas keluar saat jari-jemariku memainkan kelopak-kelopak bunga yang ada di dekatku itu. “Kau telah datang?” Kedua mataku membelalak saat suaranya terdengar.
Aku mengangkat kembali tubuhku sambil menoleh ke belakang, “apa yang kau lakukan? Cepat pakai kembali pakaianmu!” bentakku sembari melempar bantal yang ada di atas ranjang ke arahnya.
Kepalaku tertunduk, berusaha untuk tak melihatnya yang tengah berdiri dengan sebuah handuk kecil yang melilit di pinggangnya, “seharusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu? Lagi pun, aku baru saja mandi, apa ada yang salah?”
“Aku tidak bisa menemukan pakaian yang akan aku kenakan. Isteriku, dapatkah kau membantuku mencarikannya?”
“Zeki?” tukasku memanggilnya, aku berbalik ke belakang saat panggilanku itu tak kunjung dibalas. “Apa terjadi sesuatu?” sambungku ketika dia masih menundukkan kepala tanpa menjawab perkataanku.
Zeki meraih lipatan kain yang ada di tanganku, “tidak terjadi apa pun,” ucapnya sambil berjalan kembali mendekati pintu.
Aku menatapnya penuh heran ketika dia telah berjalan melewati pintu itu. Kedua kakiku berjalan kembali mendekati ranjang saat sebelumnya telah menutup lagi pintu lemari. Kepalaku kembali bergerak saat suara derit pintu kembali terdengar, kutatap Zeki yang berjalan mendekati lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang tanpa mengeluarkan suara apa pun.
Dia berbaring menyamping dengan salah satu lengannya menjadi bantal. Apa terjadi sesuatu padanya? Apa dia baik-baik saja? Aku menggigit kuat bibirku sendiri sebelum berbaring menyamping, menatap punggungnya yang masih mengarah padaku. Tubuhku kembali bergerak, menatap langit-langit kamar yang ada di hadapanku itu.
“Sachi,” aku menoleh ke arahnya yang masih berbaring membelakangi.
“Apa menikah denganku membuatmu tidak nyaman?”
“Apa yang kau maksudkan?” Aku balas bertanya, dia masih tak bergeming, masih membaringkan tubuhnya ke samping.
“Aku hanya merasa, jika kau semakin menjaga jarak dariku walau kita sudah menikah. Mungkinkah, ini hanya perasaanku saja?” tanyanya sambil membalikkan tubuhnya menatapku.
“Apa perbuatanku membuatmu tidak nyaman? Jika iya, maaf … Aku, benar-benar belum mengerti, seperti apa seorang isteri yang baik itu,” balasku sembari berbaring menyamping membalas tatapannya.
“Sama sepertimu, aku pun masihlah belum mengerti, bagaimana caranya menjadi suami yang baik. Bahkan sampai sekarang pun, aku masihlah belum percaya jika kita sudah menikah,” ungkapnya, dia sedikit beranjak hingga semakin berbaring mendekatiku.
Aku merangkulnya saat dia memelukku sambil membenamkan wajahnya di pundakku. “Aku menghormati perjanjian di antara kami, jadi aku tidak akan melakukan apa pun sebelum ini semua berakhir,” gumamnya, aku melirik ke arahnya yang telah memejamkan matanya.
“Apa kau yakin baik-baik saja?”
Zeki mengangkat tatapannya itu ke arahku, “apa aku, terlihat baik-baik saja sekarang di matamu? Aku, ingin melakukannya,” ucapnya sambil membenamkan kembali wajahnya di pundakku.
“Aku, ingin menjadikanmu isteriku sepenuhnya, Sachi Bechir,” sambungnya bergumam tanpa mengangkat wajahnya dari pundakku.
Tubuh Zeki sedikit beranjak, diikuti jari-jemarinya yang bergerak mengelus telingaku. Aku mencoba menepis tangannya saat tubuhku mulai terasa aneh ketika tatapannya itu semakin dalam menatapku. “Apa kau tidak menyukainya?”
Aku membuang pandangan dari tatapannya, “aku tidak tahu. Tubuhku terasa aneh saat kau melakukannya,” jawabku, Zeki tersenyum sebelum dia mengecup kelopak mata sebelah kiriku.