
Percikan api menyala terang di obor yang dipegang Zeki, diarahkannya oleh Zeki obor tadi pada obor yang juga dipegang oleh Adinata. Kuperhatikan keadaan sekitar, semuanya luluh lantak dengan beberapa pohon yang tumbang...
Diraihnya lenganku oleh Zeki, digenggamnya telapak tanganku olehnya. Melangkah kami mengikuti langkah kaki Danurdara dan juga Haruki yang berjalan di depan kami...
Kujatuhkan pandanganku ke atas tanah yang kami injak, darah dari ular raksasa tadi masih tampak segar membentuk garis lurus panjang di atas tanah.
Danurdara membawa kami ke sebuah pohon besar dengan daun yang rimbun. Kulangkahkan kakiku mendekati pohon tersebut seraya kuletakkan telapak tanganku menyentuhnya...
"Aku tidak menyangka matamu jeli sekali Danur," ucapku, kembali kutatap pohon yang ada di hadapanku itu.
"Ini pohon Kamper bukan?" ucap Haruki ikut menyentuh pohon tersebut.
"Kalian juga mengetahuinya?" balik Adinata bertanya.
"Pohon ini juga tumbuh di Kerajaan kami," balas Haruki.
"Lalu kenapa dengan pohon ini?" lanjut Zeki.
"Pohon Kamper dapat menghasilkan kapur barus, ular sensitif dengan wewangian. Wangi dari kapur barus sendiri dapat membuat ular terganggu."
"Kapur barus?" ungkap Haruki.
"Aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti. Ketika kita pulang, kita akan memproduksinya secara besar-besaran, nii-chan."
"Kenapa tidak langsung menjelaskannya langsung disini?"
"Bagaimana mungkin aku membagikan rahasia dagang kami pada Kerajaan lain," berbalik aku menatap Adinata seraya tersenyum menatapnya.
"Apa yang harus kita lakukan pada pohon ini?" ucap Zeki.
"Rakyat kami sering membakarnya secara langsung," ucap Adinata menatap ke arah Danurdara, mengangguk Danurdara membalas perkataan kakaknya.
"Kita akan menebang bagian cabang ranting pohonnya untuk memudahkan proses pembakaran," sambung Haruki menanggapi perkataan Adinata.
_______________
Kutatap Zeki dan Izumi yang memanjat dahan pohon, pedang yang ada di kedua tangan mereka tampak menari-nari memotong sedikit demi sedikit dahan pohon tersebut.
Haruki, Adinata, Danurdara dan juga Arion tampak memungut dahan-dahan pohon yang jatuh ke atas tanah. Turun Zeki dan Izumi dari atas pohon seraya berjalan mendekati mereka berempat.
Akupun ikut melangkahkan kaki mendekati mereka, berjongkok aku seraya meletakkan tabung kayu berisi anak-anak panah yang dibuatkan Zeki sebelumnya.
Kuarahkan kembali tanganku seraya memetik daun-daun dari dahan yang ditebang tadi satu persatu. Kuraih satu anak panahku dari tabung kayu tersebut, kugosok-gosokkan daun yang aku ambil tadi ke mata anak panah yang aku pegang.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Zeki.
"Aku tidak tahu, hanya sedang menggosokkan daun-daun ini di anak panahku," ucapku tanpa menoleh ke arahnya.
"Hal itulah yang aku tanyakan, kenapa kau melakukannya?" tanyanya lagi.
"Hanya mencoba memindahkan bau yang ada di daunnya di anak panahku. Siapa tahu bukan, ketika aku mengarahkan anak panah ini pada ular itu, ularnya akan pusing karena menciumnya," jawabku santai.
"A-akupun i-ingin me-melakukan ha-hal ya-yang sa-sama," ucap Danurdara ikut duduk berjongkok disampingku, diambilnya beberapa helai daun seraya digosokkannya pada anak panahnya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini?" Ucap Zeki menatapi dahan-dahan pohon yang tersusun rapi di hadapannya.
"Kita akan menjebak Ular tersebut..."
"Kita akan membuatkan lubang yang sangat dangkal lalu meletakkan dahan-dahan ini di atasnya. Beberapa dari kita akan memancing Ular tersebut kesini, saat dia sudah semakin mendekat... Kita akan membakar dahan-dahan ini untuk mengecohnya," sambung Haruki.
"Dan saat itulah kita akan menyerangnya?" Sambung Adinata, mengangguk Haruki menatapnya.
"Baiklah, aku saja yang menjadi umpan untuk Ular itu," ucap Zeki kembali berjongkok.
_____________
"Apa kau pernah menembakkan panah api sebelumnya Danur?" Tanyaku seraya menoleh ke arahnya.
"Be-belum per-pernah."
"Nyawa mereka bergantung pada berhasil atau tidaknya kita menembakkan api ini kesana," ucapku seraya menatap lubang berisi penuh dahan-dahan pohon yang ada lumayan jauh di hadapan kami.
Kualihkan pandanganku pada Haruki dan Adinata yang juga bersembunyi di balik-balik pohon yang ada di hadapan kami. Menoleh aku ke arah suara bergemuruh yang menuju ke arah kami...
Terlihat Zeki dan Izumi berlari dengan kecepatan penuh diiringi robohnya beberapa pohon yang ada di belakangnya. Ular tersebut semakin mendekati mereka berdua, jarak diantara mereka semakin mendekat dan semakin mendekat...
"Sachi, Danur... Sekarang!" Teriak Haruki menoleh ke arah kami.
Kubakar anak panah yang berbalut potongan kain dari pakaian-pakaian kami ke sebuah obor kecil yang ada diantara aku dan Danur. Kuarahkan anak panah itu ke gundukan dahan-dahan yang sudah disiapkan, kulepaskan dengan kuat anak panahku kesana... Percikan-percikan api mengenai dedaunan pada dahan tersebut.
Danurdara mengikuti langkah yang aku lakukan, bergantian kami menembakkan anak panah. Api yang ada di lubang itu semakin membesar, asap hitam mengepul bersatu dengan gelapnya langit malam...
Berlari aku ke salah satu pohon seraya memanjatnya, merangkak aku di salah satu dahan pohon yang cukup besar. Duduk aku disana seraya menatap Izumi dan Zeki yang berlari ke kanan dan ke kiri mengambil pedang mereka...
Kuraih kembali busur dan anak panah yang kugantungkan di punggung, kuarahkan kembali anak panahku pada Ular raksasa tersebut. Sinar bulan membantuku untuk dapat melihat jelas mereka...
Anak panahku meluncur dengan cepat menembus mata kiri ular tersebut, dipukul-pukul ekornya ke sembarang arah. Beberapa pohon tumbang terkena cambukan dari ekornya...
Kepulan asap semakin menebal beriringan dengan semakin cepat dan tidak terarahnya gerakan dari ekornya. Kutatap Zeki yang mengendap-endap mendekati Ular tersebut dengan sebuah pedang yang ada di punggungnya...
Beberapa kali tubuhnya jatuh bangun menghindari ekor Ular tersebut, meloncat ia dengan cepat ke atas ekor Ular yang terdiam beberapa saat di atas tanah...
"Apa dia sudah kehilangan akalnya?" Ucapku menatapnya, kutembakkan kembali anak panahku mengincar matanya yang lain namun meleset.
Dipeluknya ekor Ular tersebut oleh Zeki seraya satu tangannya yang lain berusaha meraih pedang yang ada di punggungnya. Ditebasnya ujung ekor Ular tersebut hingga terputus dalam satu kali ayunan. Berbalik Ular tersebut seraya mengangkat ekornya mendekati wajahnya...
Izumi melompat ke atas punggung Ular tersebut, ditancapkannya pedangnya di atas punggung Ular itu seraya ditusuk-tusuknya berulang kali di punggung Ular itu hingga membentuk suatu garis lurus berlubang dengan darah dari Ular tersebut yang mengalir...
Menggeliat Ular tersebut beberapa kali, jatuh terpelanting Izumi dan Zeki dari atas tubuhnya. Kulirik Haruki yang mundur beberapa langkah, digerakkan kedua kakinya berlari dengan kecepatan penuh mendekati Ular tersebut.
Melompat Haruki seraya dipeluknya dengan kuat leher Ular itu, ditancapkannya pedang yang ada di punggungnya ke leher Ular tersebut. Ular tersebut mengangkat tinggi lehernya, dilepaskannya pelukannya yang ada di leher Ular itu seraya memegang kuat pedang yang masih tertancap di leher makhluk itu dengan kedua tangannya...
Ditariknya kebawah pedang yang masih tertancap tadi hingga ikut meluncur tubuhnya mengikuti turunnya pedang. Darah dari Ular itu merembes membasahi wajah dan dada Haruki, jatuh Haruki di depan tubuhnya...
Ular itu membuka mulutnya lebar-lebar seraya diarahkannya mulutnya tadi hendak menelan Haruki. Adinata berlari dan berdiri di hadapan Haruki yang masih terduduk, ditancapkannya pedang yang ada ditangannya ke bagian bawah mulut Ular tersebut...
Ular tersebut kembali menggeliat diikuti sebuah anak panah menembus mata kanannya. Kualihkan pandanganku pada Danurdara yang berdiri tak terlalu jauh dari Ular tersebut dengan busur berada di genggamannya...
Beranjak Haruki seraya berlari mengikuti jejak Adinata, kutatap Zeki yang berlari ke arah Izumi yang berdiri di dekat Ular tersebut dengan kedua telapak tangannya bertindih satu sama lain di depan tubuhnya...
Danurdara sendiri masih menghujani Ular tersebut dengan sisa-sisa panah yang ada di punggungnya. Langkah kaki Zeki semakin cepat mendekati Izumi, melompat ia ke telapak tangan Izumi dengan salah satu kakinya...
Tumpuannya di telapak tangan Izumi membuat lompatannya semakin tinggi dari sebelumnya. Dipeluknya punggung Ular raksasa itu oleh Zeki seraya diraihnya pedang yang ada di punggungnya, ditancapkannya pedang tersebut ke punggung makhluk melata itu...
Dicabut lalu ditancapkannya lagi berulang kali pedang tersebut oleh Zeki seraya berusaha ia memanjat mendekati kepala Ular itu. Diangkatnya tinggi-tinggi oleh Zeki pedang yang ada di tangannya seraya ditancapkannya bertubi-tubi di kepala makhluk hitam itu...
Darah mengucur keluar dari lubang luka yang dihasilkan Zeki, terhentak Ular tersebut lama di udara lalu jatuh membentur tanah dengan suara yang sangat keras. Terpelanting tubuh Zeki beberapa langkah ke depan, berbaring ia seraya menutup matanya menggunakan lengan kanannya yang dipenuhi darah...
Ular tersebut berhenti bergerak dengan anak panah yang menusuk kedua matanya, mulutnya yang lebar menganga itu tak lagi dapat digerakkannya. Terduduk Izumi, Haruki dan Adinata dari tempat mereka berdiri... Kutatap mereka berempat yang tampak menengadah keatas dengan dada kembang kempis seraya berusaha mengatur nafas...
Kutatap mereka berlima dengan mata berkaca, kualihkan pandanganku pada asap hitam yang semakin lama semakin memudar. Wangi khas dari pohon Kamper yang kami bakar memenuhi udara sekitar, menunduk aku seraya menutup wajahku menggunakan kedua telapak tangan...
Terima kasih... Terima kasih Tuhan, mereka semua baik-baik saja.