Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXCVII


"Apa yang harus kita lakukan? Itu, buaya bukan?" Ungkap seorang laki-laki dari atas kuda yang ia tunggangi.


"Kita hanya harus mencari jalan lain untuk menghindarinya," ucap Izumi menggerakkan kuda miliknya ke kanan menembus rerumputan yang ada di sekitar.


"Izumi," ucap Haruki menoleh ke arahnya.


"Izu nii-chan benar. Kita akan menghabiskan banyak sekali tenaga jika menghadapinya," ungkapku ikut menggerakkan kuda mengikuti Izumi yang telah berjalan sedikit menjauh.


Aku menoleh ke belakang, tampak kulihat mereka mulai menggerakkan kuda masing-masing berjalan mengikuti. Kedua mataku kembali menatap buaya tersebut yang samar terlihat dari kejauhan... Tampak juga terlihat, sepasang mata muncul dari dalam sungai diikuti moncong penuh taring yang mengapung di permukaan sungai itu.


"Kita hanya harus mengikuti arus sungai bukan?" Ucap Izumi menggerakkan kudanya sembari matanya masih menatapi buaya yang ada di pinggir sungai tadi.


"Aku pikir jarak antara kita dan hewan itu sudah jauh, dan juga... Kita masih bisa melihat sungai itu dari sini," ungkap Izumi kembali sembari menatap lurus ke depan.


_________________


"Aku sudah lelah berurusan dengan hutan ini," ucap seorang laki-laki yang menggerakkan pedang di tangannya memotong tanaman yang menghalangi jalan kami.


"Lihatlah ke sana?" Ucap laki-laki lainnya dengan sebelah tangannya menunjuk ke arah sesuatu.


"Memangnya apa yang kau lihat?"


"Kau bodoh! Bagaimana bisa kami yang ada di bawah dapat melihat sesuatu seperti yang kau lihat," ucap laki-laki yang lain sembari menendang pohon yang dinaiki oleh laki-laki sebelumnya.


"Maaf," ucap laki-laki itu kembali, ia bergerak menuruni pohon yang ia naiki sebelumnya.


"Apa yang kau lihat?" Ucap Jabari pada laki-laki tadi.


"Pantai, aku melihat pantai," ucapnya kembali menunjuk ke arah yang ia tunjuk sebelumnya.


"Bukan hanya pantai, aku juga melihat sebuah kapal besar dengan bendera hitam berlambangkan..." Ucap laki-laki itu mengarahkan pandangannya ke atas.


"Dua pedang yang saling bersilang," ucap Haruki menimpali perkataan laki-laki tersebut yang sempat terhenti.


"Benar, pedang yang saling bersilang," sambung laki-laki itu mengangguk membalas perkataan Haruki padanya.


"Jika benar, itu berarti Aydin... Cepatlah, jangan membuang-buang waktu," ucap Haruki menggerakkan kuda miliknya berlari cepat ke arah yang ditunjuk oleh laki-laki sebelumnya.


Aku ikut menggerakkan kuda milikku saat Izumi berteriak memanggil namaku untuk mengikutinya. Semakin lama kuda berlari, semakin jelas terdengar suara deburan ombak di telinga...


Kuda milikku terhenti, kugerakkan kembali kuda yang aku tunggangi itu berjalan pelan menyusuri pasir pantai yang menghampar di hadapan. Kapal besar yang diselimuti warna hitam itu, tampak gagah terombang-ambing oleh ombak yang datang.


"Lux!" Teriak Haruki, kurasakan rambutku yang tertutupi jubah bergerak pelan.


Ku tatap Lux yang terbang menjauh, jika dilihat dari kejauhan... Lux terlihat seperti serangga biasa, jadi kupikir... Itulah kenapa, mereka tidak menggubris Lux yang terbang di hadapan mereka sebelumnya.


Lama... Lama kami menatapi kapal tersebut dari bibir pantai. Kapal tersebut tiba-tiba bergerak, berlayar perlahan mendekati bibir pantai. Aku ikut menggerakkan kuda milikku mendekatinya sebelum papan kayu panjang jatuh menjulur ke luar dari atas kapal itu...


Bayangan manusia berdiri di pinggir kapal, bayangan-bayangan itu berjalan pelan menuruni papan kayu yang telah terbentang di samping kereta. Laki-laki berkulit cokelat dengan rambut acak-acakan tergerai tampak berjalan mendekati kami...


Aydin berdiri dengan tersenyum menatapi kami, kedua tangannya bersilang di dada sembari pandangan matanya menatapi kami satu-persatu bergantian. Aydin berdiri menyamping dengan sebelah tangannya mengarah pada kapal tersebut.


Haruki menggerakkan kuda miliknya menaiki kapal saat beberapa perompak yang wajahnya sudah tak asing melangkah ke samping seakan memberikan jalan untuk kami lewati. Aku ikut menggerakkan kudaku mendekati kapal, Aydin berjalan mendekatiku saat kudaku menaiki papan yang menjembatani antara pantai dan juga kapal.


"Bagaimana keadaanmu, Putri?" Ucapnya berjalan dengan tersenyum menatapku.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu, Aydin?" Ungkapku balas menatapnya, Aydin diam menatapku dengan sebelah telapak tangannya menutupi mulut.


"Ada apa?" Ungkapku kembali padanya.


"Apa kau mengkhawatirkanku? Bagaimana, jika menikah saja denganku? Jadi, kekhawatiran mu itu, akan segera terhapuskan," ucap Aydin tersenyum menatapku.


"Berhenti bercanda, Aydin," ucap Izumi menunggangi kudanya melewati kami, Aydin sedikit maju hampir terjatuh oleh tendangan yang dilakukan Izumi.


"Apa kau juga menganggap perkataanku ini candaan?" Ungkap Aydin kembali menatapku, digerakkannya sebelah tangannya mengusap-usap punggungnya.


"Bukankah, itu memang candaan?"


"Aku bahkan belum menikah lagi sekarang, karena ingin sekali memberikan posisi itu kepadamu, Putri," ucapnya kembali berjalan dengan kedua tangannya menyentuh bagian belakang kepalanya.


"Terima kasih. Tapi kau, tidak perlu melakukannya," ucapku mengalihkan pandangan darinya.


"Kau hanya belum terlalu mengenalku. Jika saja, aku dan laki-laki itu memiliki waktu yang sama dalam mengenalmu. Aku yakin, kau akan lebih memilih jatuh cinta kepadaku," ucapnya kembali dengan sesekali bersiul menatapku.


"Kau percaya diri sekali," ucapku menatapnya, Aydin tersenyum membalas perkataanku.


"Bagaimana? Apa kau telah jatuh cinta padaku sekarang?" Ungkapnya dengan mengedipkan sebelah matanya ke arahku.


"Aydin, apa kau mengundang seseorang?" Terdengar suara Izumi yang sudah lebih dulu menaiki kapal.


"Tamu tak diundang. Benar-benar mengacaukan semua rencanaku," ucap Aydin berjalan cepat menyusul Izumi, telapak tangannya bergerak memegang pinggang dengan helaan napas yang terus-menerus keluar darinya.


Kudaku menghentikan langkah kakinya, aku tertegun saat kudaku itu menginjakkan kakinya di dek kapal. Tubuhku bergerak menuruni kuda, laki-laki yang berbicara pada Haruki itu menoleh dan tersenyum menatapku.


"Aku menunggu kedatanganmu, Darling," ucapnya melangkahkan kaki berjalan mendekatiku.