Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDIX


Mataku kembali terbuka, aku telah berusaha untuk memejamkannya namun percuma. Kuangkat lengan kananku ke atas dahi, “Kou,” ucapku pelan memanggil namanya.


“Ada apa My Lord?”


Aku menurunkan kembali lenganku tadi, lalu berbaring menyamping ke kiri, “aku tahu, jika kau nanti tidak akan melakukan kontrak paksa lagi kedepannya, setelah mengetahui apa yang tertulis di buku itu. Tapi, aku ingin kau tetap melakukannya Kou,” gumamku seraya kutatap jari-jemariku yang mengetuk kasur.


“Kou, apa kau masih mendengarku?” Aku kembali memanggilnya saat dia tiba-tiba menghening.


“My Lord, aku ingin melindungimu … Bukan ingin mencelakaimu. Andai saja dulu, aku mengetahui risiko dari kontrak itu, aku tidak akan melakukannya ... Karena itu, aku tidak akan melakukannya lagi, aku akan langsung membunuh mereka jika mereka tidak ingin mendengarkanmu.”


“Tapi Kou, aku membutuhkan mereka,” aku kembali berbisik, “kita membutuhkan mereka sebagai tambahan pasukan,” sambungku dengan kembali berbaring telentang.


“Aku tetap tidak akan melakukannya. Perduli kosong dengan makhluk tidak berguna seperti itu, jika kita berdua mati, My Lord … Tidak ada jaminan, jika mereka kelak tidak akan menyakiti manusia. Karena itu, daripada berharap akan kontrak paksa … Bukankah lebih baik, jika mereka sendiri yang memutuskan untuk mengikutimu. Aku tidak ingin, menjadi penyebab kematian Tuanku sendiri,” ucapnya yang terlintas di kepalaku.


“Kadang kala, kau terdengar sangat dewasa sekali Kou.”


“Aku terlahir, berkat harapanmu. Aku besar dengan semua kasih sayang dan juga pengetahuan, yang engkau berikan. Karena itu My Lord, kita akan bisa melewatinya … Tanpa mengorbankan hidupmu. Serahkan semuanya padaku,” ucapnya yang kembali terlintas di pikiran.


“Bahkan kedua kakakku tidak mengetahuinya, jika Zeki mengetahui kebenarannya … Dia pasti akan langsung membunuh Haruki,” gumamku dengan menghela napas, “astaga, sebenarnya apa yang akan mereka lakukan besok,” sambungku seraya kembali memejamkan mata.


____________________


Aku beranjak duduk di samping ranjang, kedua kakiku bergerak bergantian mengetuk-ngetuk lantai kayu yang ada di bawah, “kenapa aku dilarang untuk keluar? Sebenarnya apa yang mereka lakukan?” Aku menggigit ujung ibu jariku diikuti kedua mataku yang melirik ke kanan dan ke kiri bergantian.


“Sachi … Sachi.”


Aku beranjak berdiri dengan mengangkat kepala ke atas, “Lux,” ucapku menggerakkan kepala berusaha mencarinya.


“Aku di bawah pintu, bantu aku,” ucap suaranya kembali terdengar. “Di bawah pintu?” Tukasku mengulangi perkataannya.


Aku melirik ke tempat yang ia maksudkan, kedua kakiku melangkah cepat mendekati pintu kamar, “apa yang kau lakukan?” Tanyaku saat aku telah berjongkok di depan pintu, berusaha untuk menarik tubuhnya.


“Celah lubang yang ada di kamar ini cuma ada di pintu,” ucapnya saat tubuhnya telah sedikit menjauh terlepas dari pintu itu, “apa sayapku baik-baik saja?”


“Sayapmu baik-baik saja,” jawabku ketika dia masih berbaring dengan membentangkan sayapnya.


Lux menghela napas dengan beranjak duduk, “syukurlah,” ucapnya kembali beranjak berdiri lalu terbang di hadapanku.


“Sachi, aku ingin menyampaikan kabar yang diberikan Haruki padamu,” ucap Lux dengan jari telunjuk mengarah padaku.


“Apa? Katakan,” ucapku beranjak, lalu berjalan kembali mendekati ranjang.


“Semuanya telah berakhir.”


Aku berbalik menatapnya, “berakhir? Secepat itu?” Tanyaku padanya, Lux terbang mendekat dengan menganggukkan kepalanya.


“Bagaimana bisa?” Aku kembali bertanya. “Entahlah, Haruki hanya memberikan beberapa perintah kepada beberapa orang, lalu semuanya selesai,” ucap Lux dengan menggaruk belakang lehernya.


“Lalu? Apa aku sudah boleh keluar?”


Aku melangkahkan kaki dengan cepat keluar dari kamar saat Lux menganggukkan kepalanya. Langkah kakiku berlari cepat menyusuri rumah yang menjadi tempat tinggal sementara Zeki. Aku menghentikan langkah, kudorong ke samping pintu yang ada di hadapanku itu hingga ia terbuka.


“Di mana? Di mana mereka semua Lux,” ucapku menoleh ke arah Lux yang terbang di samping.


“Mungkin mereka semua sudah berkumpul di ruang pertemuan di ista-”


Langkah kakiku terhenti, kutatap Kesatria yang telah mati terkapar di hadapanku itu. Kepalanya yang terbelah menjadi dua, memperlihatkan jelas isi di dalamnya, “siapa yang melakukan ini?”


Aku kembali melangkah, kadang kala aku melompat melewati beberapa tumpuk mayat yang menggelimpang tak tentu arah. Aku menghentikan kembali langkah, kedua mataku membesar menatap sosok laki-laki bertubuh besar yang membelakangiku itu. Aku sedikit memundurkan langkah ke belakang saat sosok itu berbalik menatapku.


“Daisuke,” ucapku memanggilnya, langkah kakiku kembali berjalan maju mendekati laki-laki tadi.


“Apa yang kau lakukan di sini, Putri? Di sini berbahaya,” ucapnya yang telah berbalik, kuarahkan pandanganku ke arah tombak besar yang ia genggam di tangan kanannya.


“Aku dengar jika semuanya telah selesai,” ucapku menghentikan langkah di hadapannya.


“Benarkah? Aku terlalu hanyut menghabisi mereka semua, hingga tidak menyadarinya,” ucap Daisuke, dia kembali menoleh ke belakang, ke arah banyak sekali mayat Kesatria musuh yang bergelimpangan di tanah.


“Apa kau menghabisi mereka sendirian?” Tanyaku dengan mengangkat jari telunjuk ke arah samping.


“Mereka mati karena mereka lemah,” ucapnya yang telah berbalik melangkahkan kakinya meninggalkanku.


“Daisuke!” Dia lagi-lagi menghentikan langkah kakinya, “untuk kejadian tempo dulu, ma-"


“Kau seorang Putri, jangan meminta maaf pada Kesatria rendahan seperti kami. Itu bukan kesalahan kalian, semuanya murni kesalahan kami yang lengah mengawasi kalian berempat,” ucapnya kembali melanjutkan langkah.


Aku menghela napas sebelum melanjutkan langkah mengikutinya, “Daisuke,” ucapku, dia menoleh ke samping saat aku telah berjalan di sampingnya.


“Apa Haru-nii, meminta kalian datang?”


“Yang Mulia, meminta kami semua untuk pulang.”


“Ayah?”


Daisuke menganggukkan kepalanya, “karena pengkhianat itu telah pergi dari Sora, jadi Yang Mulia meminta kami semua untuk pulang,” ucapnya sambil tetap menatap lurus ke depan.


“Semua?”


“Aku, berserta enam wakil kapten yang lainnya.”


“Ayah meminta kalian untuk berkumpul lagi?”


“Lagi?” Dia menoleh ke arahku dengan sedikit mengerutkan keningnya, “maksudku, ketika acara pemakaman kami. Kalian juga dipinta pulang bukan?”


“Saat itu, hanya aku yang pulang. Sepuluh wakil kapten tidak akan berkumpul bersamaan, karena keberadaan mereka sangatlah rahasia.”


“Lalu, mengapa Ayah meminta kalian untuk pulang berkumpul?”


“Menunjukkan kepada Kekaisaran dan Kerajaan yang lain, untuk jangan meremehkan Sora,” ucapnya dengan melirik ke arahku.


“Dan juga Putri, ke arah mana Istananya?” ucapnya kembali. “Ikuti aku, Daisuke,” ungkapku berbelok ke samping kanan.


Lagi-lagi, langkah kakiku melamban saat aku berjalan melewati mayat-mayat Kesatria yang bergelimpangan di sepanjang tanah, “apa ini juga perbuatanmu?”


“Mungkin salah satu dari wakil kaptenku. Lihatlah,” ucapnya dengan mengangkat jari telunjuk ke arah salah satu mayat, “tiga lubang yang ada di lehernya. Itu pasti pekerjaan Sano, dia sangat suka menyiksa lawannya sebelum akhirnya dia membunuhnya,” ucap Daisuke dengan melirik ke arah mayat-mayat yang ada di dekat kami.


“Sano? Wakil kapten? Apa … Apa semua wakil kapten yang kau maksudkan tadi ada di sini?”


“Kemungkinan, mereka semua telah bersama dengan para Pangeran sekarang di Istana,” ungkap Daisuke menjawab pertanyaanku.