
Aku kembali berjalan mundur menyandarkan diri di gerobak saat kami semua dihentikan oleh tiga Kesatria yang berdiri di depan gerbang, tanganku bergerak menarik pakaian yang aku kenakan lalu mengipaskan pakaianku tersebut hingga angin sedikit berembus menyentuh tubuh diikuti pandangan mataku yang masih menatap Haruki yang tengah berbicara dengan salah seorang Kesatria.
“Kami semua laki-laki!”
Tubuhku tertegun, aku kembali berdiri tegap saat bentakan Haruki kepada Kesatria itu terdengar, “bagaimana, kami bisa mempercayainya!”
“Wajahnya sekilas memang terlihat seperti perempuan, tapi coba kau lihat! Benda bulat yang ada lehernya!” Aku melirik ke arah Izumi yang balas membentak dengan menunjuk ke arah Haruki.
“Apa kau, ingin aku untuk membuka semua pakaianku di sini untuk membuktikannya?!” Suara Haruki kembali meninggi diikuti kedua tangannya bergerak memegang ujung pakaian yang ia kenakan.
“Lalu bagaimana dengan mereka berdua?!” Kesatria itu kembali membentak Haruki dengan jari telunjuknya yang mengarah kepadaku dan Ryuzaki bergantian.
Aku berdeham pelan, mencoba untuk mengubah sedikit intonasi suaraku, “apa kau tidak bisa melihat? Apa kau melihat benjolan yang ada di sini? Apa kau melihatnya?!” Aku balas membentak Kesatria tadi dengan menepuk-nepukkan tangan ke arah dadaku.
“Kami saudara kembar, apa aku juga harus memperlihatkan tubuhku kepadamu?” sahut Ryuzaki menimpali perkataanku.
Haruki melangkah maju mendekati Kesatria tadi, “apa kau, ingin meraba tubuhku untuk memastikan? Wajahku memanglah memukau, tapi aku,” ungkap Haruki, dia mengangkat telapak tangan Kesatria tadi ke arah pundaknya.
Kesatria tadi seketika berjalan mundur dengan menarik tangannya dari Haruki, “buka gerbangnya!” Dia kembali meninggikan suaranya sambil menatap ke arah dua Kesatria yang berdiri di depan gerbang.
Haruki berbalik, lalu melangkahkan kakinya menjauhi Kesatria tersebut. Dia tersenyum sejenak sebelum kembali berbalik membelakangi gerobak yang ia bawa. Aku turut mendorong gerobak bersama Eneas mengikuti Haruki yang telah terlebih dahulu melewati gerbang Kerajaan itu. Gerobak yang Haruki bawa terus melaju menyusuri jalan dengan beberapa laki-laki yang hilir-mudik berjalan melewati kami.
Haruki menghentikan gerobak miliknya, kutatap dia yang telah berjalan mendekati sebuah rumah kecil yang ada di samping jalan. Haruki mengetuk pintu rumah tersebut hingga terdengar suara seorang laki-laki di dalamnya. Pintu rumah itu terbuka diikuti seorang laki-laki yang berjalan keluar, Haruki memberikan sebuah kantung kulit di atas telapak tangan laki-laki itu yang mengarah kepadanya sebelum laki-laki tersebut berjalan menjauh meninggalkan kami semua.
“Bawa semua tong-tong tersebut masuk! Lalu letakkan gerobak-gerobak tersebut ke belakang rumah!” tukas Haruki yang kembali berjalan mendekati gerobak miliknya.
“Siapa laki-laki tadi?”
“Dia penjaga yang menjaga rumah ini. Para nelayan biasanya menyewa rumah ini untuk mereka gunakan menginap selama menjual ikan,” timpal Haruki, dia memeluk salah satu tong kayu lalu mengangkat tong tersebut dari atas gerobak ke punggung Izumi yang telah berjongkok di dekatnya.
Izumi kembali beranjak berdiri dengan mengangkat tong yang ada di punggungnya itu masuk ke dalam rumah. Haruki kembali mengangkat satu tong lalu meletakkannya di atas punggung Ryuzaki yang juga telah berjongkok di dekatnya. Mereka melakukan hal itu berulang-ulang, hingga semua gerobak bersih dari tong yang sebelumnya memenuhinya.
Aku berjalan masuk mengikuti Haruki yang telah terlebih dahulu masuk ke dalam sana, tak ada apa pun di rumah ini … Bahkan, satu ruangan pun tak ada, begitu pun lantainya yang hanya beralaskan tanah, yang ada hanyalah tong-tong yang sebelumnya kami bawa tersusun di sudut ruangan. Aku turut melangkah mendekati Haruki yang telah membuka salah satu tong, Haruki memasukkan tangannya ke dalam tong itu lalu menarik keluar seekor ikan besar dari dalam tong tersebut.
"Kita harus melakukan sesuatu dengan ikan-ikan ini, sebelum mereka semua membusuk," gumam Haruki pelan terdengar.
“Apa kau ingin kubantu, nii-chan?”
“Hanya bersihkan saja pedangnya menggunakan kain,” ungkap Haruki yang kembali membuka tong di hadapannya.
“Kain?”
Alisku mengerut sebelum aku mengangkat sedikit pakaianku. Aku menggerakkan kedua tanganku membuka ikatan dari lilitan kain yang melilit perutku. Sebelum pergi, Haruki memintaku untuk menyamar sebagai laki-laki … Jadi aku, bukan hanya melilit dadaku menggunakan kain, namun juga ikut melilit perutku dengan kain tebal agar mereka benar-benar terlihat rata.
Merepotkan sekali, dadaku sesak sepanjang perjalanan. Aku bahkan merasa sangat bersyukur, karena tidak mati saat menarik gerobak.
Kuangkat kain yang ada di tanganku itu mengusap pedang yang telah aku pegang di tanganku yang lainnya, “nii-chan,” ucapku yang sambil tetap membersihkan pedang tersebut.
“Kenapa para Kesatria itu melarang perempuan untuk datang?” sambungku lagi, aku membuka pedang tersebut, meletakkan sabuk yang melindunginya sebelum mengelap kembali bagian dalamnya.
“Membawa perempuan masuk tidak dilarang jika ada laki-laki yang mendampinginya, namun … Ingatlah nama yang ada di belakang telingamu. Saat di Paloma, aku menggunakan nama Zeki, karena Zeki sendiri dulu bukanlah siapa-siapa. Walau namanya menunjukkan kebangsawanan, kemungkinan mereka akan melihatku sebagai Pangeran yang Kerajaannya telah hancur.”
“Tapi sekarang dan dulu sangatlah berbeda, Zeki adalah Raja … Raja, walau tak saling mengenal langsung, mereka akan mengenal nama satu sama lain, karena mereka pasti mengirim pengintai untuk mematai-matai Kerajaan yang berpotensi menjadi musuh mereka. Jadi, memberitahukan jika kau adalah tunangan dari Raja Zeki Bechir, sangatlah berbahaya,” jawabnya yang kembali menarik sebuah pedang dari dalam mulut ikan yang ada di tangannya.
“Nii-chan, kau pernah bertanya, bukan? Apa aku pernah merasakan, merasa tak asing pada seseorang yang baru beberapa kali aku temui?” tukasku, aku sedikit beranjak dengan meraih kembali pedang yang ia letakkan di tanah.
Aku menghela napas saat kembali duduk, “aku, merasakan hal yang sama saat aku dan Zeki bertemu di hari pertunangan kami,” ucapku sambil menggerakkan tangan mengelap pedang yang baru saja aku ambil.
“Apakah ini takdir? Apakah hubungan kami dahulu, sama seperti hubungan yang kami rasakan sekarang? Aku terlalu takut untuk mengetahui semuanya,” sambungku sembari melepaskan pedang yang ada di tanganku itu dari sarungnya.
“Jadi kau ingin menyerah dengan hubungan kalian, sama seperti yang kau katakan di Yadgar?” tanya Haruki, dia berjalan mendekat dengan mengangkat seekor ikan besar di tangannya.
“Kami telah menyusun semua gerobak di belakang rumah.”
Aku menutup mulutku saat suara Izumi terdengar dari luar diikuti dia yang berjalan masuk dengan Eneas dan Ryuzaki yang berjalan di belakangnya. “Baguslah, jika telah selesai, ambil dua ekor ikan di dalam tong yang berwarna gelap, lalu keluarkan pedang yang ada di dalamnya,” timpal Haruki saat dia kembali duduk berjongkok di dekatku.
“Sa-chan, dia tidak melarangmu, bukan? Maksudku, dia tidak memintamu untuk menjauhi orang itu, bukan? Jika jawabannya adalah dia tidak melakukannya, maka apa yang kau takutkan itu … Tidaklah benar,” ungkapnya yang mengukir senyum menatapku.