
"Ayah, apa yang terjadi? Kenapa Ayah tiba-tiba memanggilku?" Ucap Egil dengan dua orang Kesatria berjalan di belakangnya.
Pintu ruangan kembali tertutup, Egil dan kedua Kesatria tadi semakin berjalan mendekati kami. Kualihkan pandanganku pada Niel yang menggenggam kedua tangannya dengan pandangan matanya masih tertuju pada anaknya itu.
"Ayah, ada perlu apa Ayah memanggilku?" Ucapnya yang telah berdiri di hadapan Niel.
"Apa aku harus menjelaskannya? Kau pasti sudah tahu kenapa aku melakukannya," ucapnya menjawab perkataan Egil.
"Ayah..."
"Siapa itu Tuan?!" Tukas Niel dengan nada sedikit meninggi.
"Tuan?"
"Jangan mencoba menipuku, Egil. Beraninya kau mengkhianati Ayahmu sendiri?!" Sambung Niel dengan nada bicara lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
"Aku, tidak mengerti apa yang Ayah maksudkan," ucapnya menatap Niel dengan kepala yang bergeleng cepat.
"Apa kau lihat kelima Kesatria yang ada di sana?!" Ucapku, kutatap matanya yang teralihkan padaku.
"Kesatria? Kesat..." Ucapnya terpotong saat kepalanya bergerak menatap kelima Kesatria tadi.
"Kau berkerja sama dengan mereka untuk menjadi mata-mata di Kastil," ucapku lagi padanya.
"Aku..."
"Kau hampir membunuhku hari ini. Kau mengacaukan wilayah yang telah Ayahmu jaga baik-baik," ucapku memotong perkataannya.
"Ayah..."
"Siapa itu Tuan? Katakan padaku, siapa dia?" Tukas Niel dengan suara bergetar menatap Anaknya itu.
"Aku tidak..."
"Apa kau tidak mendengar perkataanku? Katakan padaku, siapa dia?" Ucap Niel kembali, kualihkan pandanganku menatap Egil yang tertunduk dengan telapak tangan menyentuh pipinya. Tamparan yang dilakukan Niel padanya, membuatnya diam sejenak.
"Ayah benar. Aku tidak suka jika Ayah menjadi pemimpin, aku ingin menghancurkan tempat ini," ucapnya masih tertunduk tak bergeming.
"Katakan sekali lagi!" Bentak Niel, kuangkat telapak tanganku menahan tangan Niel yang hendak menampar kembali Egil.
"Egil. Bisakah kau mengatakan padaku, siapa dia?" Tukasku melepaskan genggaman di lengannya Niel, kugerakkan tubuhku membungkuk di dekatnya.
"Untuk apa aku memberitahukan mu?"
"Karena Tuan itu adalah seseorang yang kau kenal?" Ucapku, Egil mengangkat kepalanya menatapku.
"Seperti yang kuduga," ucapku kembali, kuangkat tubuhku beranjak berdiri.
"Mudah saja, pertama kali kami datang, Egil terlihat menaruh curiga padaku, dia berpikir jika aku adalah pasanganmu, bisa dikatakan jika dia ingin mengetahui apa sebenarnya tujuan kami ke sini. Aku benar bukan, Egil?"
"Kedua, saat aku mengatakan tidak, dia berusaha menjalin kerja sama denganku, dengan cara memberikan banyak sekali informasi. Dan dari banyaknya informasi itu, hanya tambang emas saja dan juga kelemahan Niel yang benar adanya... Karena itulah, aku membahasnya malam itu untuk memastikan kebenarannya. Seperti yang sering di dengar, bahkan pohon pun dapat berbicara, dan beruntungnya kau mendengarkan pembicaraan kami, jadi aku bisa memastikan kalau tambang emas tersebut memang ada."
"Ketiga, dia pernah tak sengaja mengatakan kalau Egil menjadikan banyak sekali pencuri di pasar sebagai bawahannya, dan sekumpulan orang-orang yang menyerangku dahulu dan malam ini dari kelompok yang sama, aku mengetahui hal itu saat kulihat ukiran gagang pisau dari mereka yang menyerangku dan Eneas!" Ucapku mengalihkan pandangan kepada Eneas, Eneas berjalan mendekati dengan sebelah tangannya merogoh bagian dalam tas nya.
"Ini nee-chan, kami mendapatkannya langsung dari kamarnya," ucapnya menyerahkan sebilah pisau padaku.
Kugerakkan telapak tanganku meraih pisau yang ada di Eneas sedangkan sebelah tanganku yang lain merogoh ke dalam tas yang aku kenakan. Kuangkat kedua pisau tersebut ke arah Egil yang masih diam membisu.
"Mereka memiliki ukiran yang sama bukan? Ukiran seekor buaya di gagangnya. Dan juga, nii-chan... Berikan pedang tadi padaku," ucapku mengalihkan pandangan pada Izumi, Izumi berjalan mendekat dengan sebilah pedang yang aku dapatkan dari penjahat yang menyerang kami di hutan.
"Pedang yang dipegang Kakakku, juga memiliki ukiran yang sama. Apa kau pikir, kau dapat mengelabui ku?" Ucapku kembali menatap Egil.
"Jika kau pikir aku akan mempercayai semua yang kau katakan, maka kau melakukan kesalahan besar. Aku, hanya mempercayai keluargaku... Selain mereka, aku tidak akan terlalu mempercayai siapapun," sambungku lagi padanya.
"Darimana kau mendapatkan pisau tersebut? Bagaimana kau bisa mendapatkannya?"
"Kau bodoh sekali, apa kau ingat saat kau datang menjemput Ayahmu di kamarku tempo hari? Lux menjemputmu bukan? Dan Lux juga yang telah mengambil pisau tersebut dari atas meja di kamarmu... Dia membawa pisau tersebut terbang dan melemparnya di rerumputan yang ada di depan kamarmu, tentu saja keesokan harinya, Adikku Eneas yang memungutnya," ucapku tersenyum menatapnya.
"Katakan Egil, apa kunci penjara bawah tanah ada hubungannya dengan ini?" Ungkapku kembali sembari kusilangkan kedua lengan di dada.
"Katakan padaku! Aku akan menganggap semuanya tidak pernah terjadi, dan akan kupastikan... Aku akan membantumu," ucapku, lama ia menatapku dengan matanya yang memerah.
"Egil," ucap Niel berjongkok di hadapan anaknya.
"Aku tidak tahu, apa yang menyebabkan kau tidak menyukai aku memimpin tempat ini..."
"Tapi, kau pasti telah mendengar bukan? Jika Ayahmu ini membangun tempat ini, karena Kerajaanku dikhianati oleh seseorang. Kumohon, jangan membuat luka yang sama pada Ayahmu ini," ucapnya lagi seraya diarahkannya kedua telapak tangannya menyentuh pipi Egil.
"Ayah... Maafkan Egil," tangisannya terlepas.
"Egil terpaksa melakukannya. Paman itu berkata, jika dia akan membunuh Ayah... Dia juga berkata, akan menghancurkan tempat ini."
"Aku tidak ingin kehilangan Ayah, maupun teman-temanku. Jadi... Jadi," ucapnya lagi sesenggukan di pelukannya Niel.
"Tidak apa-apa, Ayahmu akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja, jadi ceritakan semuanya pada Ayahmu ini," ucap Niel menepuk-nepuk punggung anaknya itu.
"Paman itu mengatakan, jika dia memintaku untuk menjadi mata-mata, agar... agar dia tidak tertangkap olehmu. Karena jika dia tertangkap... Rajanya, akan membakar habis tempat ini."
"Bagaimana bisa dia membakar habis wilayah kita. Kau dibohongi olehnya," ucap Niel kembali menatapi Egil.
"Tidak Ayah, kau tidak melihatnya... Aku melihatnya sendiri, monster hitam bermata merah di belakangnya. Aku melihatnya," ucap Egil sembari menggenggam pakaian yang dikenakan Niel.