Fake Princess

Fake Princess
Chapter DCIII


“Mereka benar-benar pergi,” ucapku pelan dengan menatapi pintu yang telah kembali tertutup.


“Sachi!”


Aku menoleh ke arah Zeki yang tiba-tiba bersuara, “sebenarnya apa yang terjadi padamu? Mendengar perkataan Haruki, membuatku merasa bodoh,” sambungnya dengan menundukkan pandangan.


“Kalaupun aku tahu, aku tidak akan bingung seperti ini,” jawabku, aku sedikit mundur dengan menyandarkan punggung di kepala ranjang.


“Zeki, maaf … Kalau aku belum menjadi istri yang baik untukmu-”


“Apa yang kau maksudkan? Aku sendiri, yang terburu-buru ingin mengikatmu. Aku pun ingin meminta maaf, karena belum menjadi suami yang baik untukmu. Tapi, asal kau tahu … Aku selalu mencoba untuk belajar selama ini, perlahan demi perlahan,” ungkapnya yang menggerakkan tubuhnya beranjak dari ranjang.


“Kau ingin kemana?”


Dia menghentikan langkah dengan berbalik menatapku, “aku ingin membersihkan tubuhku. Kau, tidak menyukai bau tubuhku, bukan?”


“Zeki, sepertinya aku hamil,” ungkapku pelan dengan menundukkan kepala.


“Apa maksudmu?”


“Aku tidak terlalu yakin, karena aku sendiri pun sering terlambat datang bulan sebelumnya, dan setelah kita melakukannya, aku selalu meminum setiap ramuan yang diberikan oleh Tabib Istana … Namun, setelah aku pikirkan kembali-”


“Setelah aku, mengingat-ingat semua gejala yang aku alami … Sepertinya aku hamil,” lanjutku dengan suara yang lebih pelan.


“Kau yakin? Kau tidak mencoba mempermainkanku, bukan?”


Aku mengangkat tangan, mencoba untuk menghentikannya yang hendak mendekat dengan wajah sumringah, “jangan terlalu dekat-dekat denganku. Aku, benar-benar tidak bisa mencium bau tubuhmu itu,” tukasku sembari membuang pandangan ke samping.


“Aku mengerti. Bagaimana jika kita memeriksanya? Bagaimana jika kita memastikannya? Apa di Istana ini memiliki Tabib? Tunggu, kau jangan beranjak dari sana! Aku, akan mencarikan Tabib untukmu. Kau mendengar apa yang aku katakan, bukan? Jangan beranjak sedikit pun dari kasurmu!” Dia mengatakannya dengan gelagapan, sebelum akhirnya berlari keluar dari kamar.


Jika apa yang aku pikirkan itu benar. Aku, harus bahagia atau bersedih? Aku, telah melakukan semua yang kakakku perintahkan. Seharusnya, ini tidak terjadi, bukan?


Aku menggigit kuat bibir diikuti sebelah tangan terangkat mengusap pelan perutku, “aku tidak menginginkanmu sekarang. Aku, aku masih harus mengumpulkan sekutu. Kenapa-”


“Sa-chan,” kepalaku kembali terangkat ketika suara Haruki diikuti deritan dari pintu terdengar di telinga.


“Kau telah menyadarinya?”


“Nii-chan,” air mataku tanpa sadar keluar saat melihatnya, “apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin punya anak secepat ini. Aku, aku masih memiliki janji kepada Ayah untuk mengumpulkan sekutu yang banyak untuknya,” tangisku ketika dia melangkah lalu duduk di dekatku.


“Bantu aku untuk menyingkirkannya nii-chan. Aku, masih ingin ikut kalian berpetualang. Kumohon nii-chan! Kumohon, singkirkan yang ada di dalam perutku ini sebelum Zeki kembali.”


“Aku tidak bisa melakukannya. Di dalam perutmu itu, keponakanku juga … Apa kau lupa?”


“Tapi-”


“Apa kau ingat? Bayi perempuan yang kau bawa pulang ke Il. Apa yang kau rasakan saat itu sampai-sampai kau bersikeras untuk menyelamatkannya?”


Tangisanku semakin pecah, ketika ingatan saat itu kembali, “dengarkan kakakmu ini, Sa-chan,” ucapnya, dia mengangkat wajahku diikuti jari-jari tangannya yang bergerak mengusap mataku.


“Apa kau tahu? Saat itu, aku mengutuk diriku sendiri. Aku marah, karena tidak bisa menyelamatkan anakku sendiri. Aku marah, karena tidak bisa memberikannya kesempatan untuk melihat dunia. Katakan Sa-chan, apa kau bisa menebaknya? Apa kau bisa menebak anakmu nanti akan menjadi seorang Putri yang cantik atau Pangeran yang tampan?”


Haruki tersenyum dengan kembali mengusap mataku saat aku menggeleng pelan membalas tatapannya, “jika kau saja tidak bisa menebaknya, maka kau tidak memiliki hak untuk mengambil kehidupannya. Apa kau lupa? Setiap manusia, memiliki takdirnya masing-masing, kita tidak tahu … Takdir apa yang akan dibawa anakmu nanti.”


“Dan juga, dia tidak akan selamanya berada di dalam perutmu, bukan? Kita bisa menunda perjalanan, karena tanpamu … Mungkin, kita tidak akan bertemu dengan makhluk-makhluk yang menakjubkan lagi tanpamu. Dan aku tidak akan menyukainya-”


“Apa kau tidak marah, nii-chan?”


“Aku pikir, dia akan menjadi anak yang kuat. Karena dia sangatlah tangguh berada di dalam perut Ibunya yang tidak bisa diam,” Haruki tertawa kecil dengan tangannya yang bergerak mengusap perutku, “Paman menantikan kehadiranmu, jadilah adik yang baik untuk kakakmu nanti,” sambung Haruki, dia kembali tersenyum sambil memindahkan tangannya mengusap kepalaku.


“Kau akan menghancurkan kebahagiaan seorang calon Ayah, jika dia melihatmu seperti ini. Cepat hapus air matamu, sebelum dia datang,” ungkap Haruki dengan beranjak lalu berjalan meninggalkanku.


Aku melakukan apa yang ia pinta, tubuhku semakin bersandar di ranjang dengan masih menatapnya yang berdiri di samping pintu. “Kau tidak perlu khawatir, aku memerintahkan Izumi untuk menarik jauh Vartan agar tak memiliki kesempatan untuk mendekatimu.”


“Aku tidak peduli dengannya-”


“Aku tahu, tapi akan sedikit merepotkan jika Zeki cemburu padanya. Istrinya menggoda laki-laki lain, entah apa yang akan ia lakukan. Aku sungguh penasaran, apa aku harus memberitahukannya?”


“Nii-chan!”


“Aku tahu. Dia datang, berpura-puralah lemah di hadapannya. Kau, ingin memastikan kesungguhannya menjadi seorang Ayah, bukan? Setelah kau memastikannya, maka aku akan melakukan apa yang kau perintahkan sebelumnya.”


Tubuhku tertegun saat Haruki tersenyum ke arahku, “istriku sedang berbaring di sana. Katakan, apa benar dia-”


“Zeki!” tukas Haruki menghentikan perkataannya.


Laki-laki tua yang berada di sampingnya, berjalan mendekatiku. Aku melirik ke arah Zeki yang menatapku dengan cemas. “Apa kau, tidak makan dengan baik akhir-akhir ini?” Aku menganggukkan kepala, menjawab pertanyaan laki-laki itu saat dia melepaskan genggaman tangannya di lenganku.


“Denyut di pergelangan tangannya terasa lemah, keberuntungan yang besar dia tidak kehilangan bayinya. Pastikan dengan baik apa yang dia makan, saya akan menuliskan ramuan yang dapat kalian beli nanti untuknya,” ucap Laki-laki paruh baya yang menjadi Tabib itu, dia beranjak dengan melangkahkan kakinya mendekati pintu.


“Aku akan mengantarmu kembali, Tabib Agung,” ucap Haruki, dia melambaikan tangannya sebelum tersenyum dengan menutup kembali pintu.


“Zeki?” tukasku mengalihkan pandangan ke arahnya, saat suara isakan terdengar pelan dari arahnya berdiri.


“Maafkan aku, aku … Tidak bisa mengendalikan diri,” ucapnya, dia membuang pandangannya dengan sesekali kedua tangannya itu bergerak menyeka mata.


“Aku merasa ini seperti mimpi, hingga aku berharap tidak perlu bangun kembali. Beberapa kali aku mengulang kehidupan, kehidupan kali ini … Terasa sangat sempurna untukku. Sangat sempurna, hingga aku merasa sangat takut kehilangan semuanya.”


“Sebenarnya apa yang kau bicarakan ini, Zeki!” sambungnya, dengan menampar pipinya sendiri menggunakan kedua tangan.


Kugigit kuat bibirku diikuti tanganku yang bergerak menggenggam erat bantal yang ada di sampingku. Aku menarik napas dengan mengangkat kembali pandangan menatapnya, “aku lapar. Aku ingin memakan ikan bakar dan meminum air kelapa. Jadi Ayah, hapus air matamu, dan berikan aku makanan yang aku inginkan agar cepat tumbuh besar.”


Zeki menarik napas sebelum langkah kakinya itu bergerak mendekati, “apa hanya itu yang kau inginkan?” tanyanya sambil berlutut di samping ranjang dengan meraih lalu menggenggam erat tanganku.


“Apa kau yakin, ingin mengabulkan semua keinginanku?”


Zeki menganggukkan kepalanya membalas tatapanku, “jika benar seperti itu, menjauhlah sedikit dariku! Aku sudah katakan, bukan? Bau tubuhmu menusuk hidungku. Entah kenapa, setiap melihat wajahmu itu, aku selalu diliputi rasa kesal. Saking kesalnya aku dengan diriku sendiri … Aku membencimu, tapi aku tidak ingin kau menjauh.”


“Jadi seperti ini yang dikatakan Kabhir tempo dulu. Seorang suami akan diuji kesabarannya saat istrinya mengandung. Baiklah, sepuluh ikan bakar dan satu tong air kelapa, bukan?” tukasnya yang kembali beranjak berdiri.


“Kau ingin ke mana?”


“Aku ingin menyiapkan semua yang kau inginkan.”


“Kau ingin membeli semua itu?”


“Tentu, menurutmu apa yang akan aku lakukan di malam hari seperti ini.”


“Apa kau memiliki uang untuk membelinya?”


Zeki menghentikan langkahnya tanpa menjawab pertanyaanku, “kau pergi ke sini dengan tidak membawa uang sama sekali, bukan?


“Sudah kuduga,” sambungku dengan kembali membaringkan tubuh, “tidak perlu memaksakan dirimu. Memakan udara yang ada di dalam kamar, sudah lebih dari cukup untukku merasa kenyang,” ucapku pelan sambil berbaring menyamping dengan memejamkan perlahan mata.