Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXLII


"Tanganmu nii-chan," ucapku seraya meraih lengan Izumi yang mengeluarkan darah.


"Ini hanya luka kecil, kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya," balasnya seraya menyentuh pipiku.


"My Lord."


"Kou," ucapku menoleh ke arahnya.


"Maaf, aku tidak mengenali panggilan yang kau lakukan selama ini," ucapku lagi seraya menatapnya yang berjalan mendekati.


Haruki membantuku beranjak berdiri, melangkah aku mendekatinya secara perlahan. Menunduk aku menatapi rerumputan yang telah terselimuti kepingan es di bawah kakiku... Kualihkan pandanganku kembali padanya sembari kupeluk dengan erat leher Naga putih kesayanganku itu.


Kuusap beberapa kali lehernya seraya kucium pipinya yang terasa dingin. Menoleh aku ke belakang, tampak mereka semua yang berdiri di belakang Haruki dan Izumi diam membisu.


Kutatap lapangan berumput tempat kami berpijak sebelumnya telah menjadi daratan es. Pandangan mataku terjatuh pada Zeki dan juga Julissa yang terlihat memiliki ribuan pertanyaan yang ingin mereka lontarkan padaku...


"Ikuti aku Kou," ucapku seraya kembali melangkahkan kaki secara perlahan mendekati Raja dengan Kou yang ikut berjalan di belakangku.


"Putri Takaoka Sachi, Putri kedua Kerajaan Sora. Memberikan hormat," ucapku seraya membungkukkan tubuh di hadapannya.


"Berdirilah," jawabnya dengan suara sedikit bergetar.


"Perkenalkan juga, Kou. Naga es milikku," ucapku lagi seraya kembali beranjak berdiri, mundur aku beberapa langkah sembari meletakkan telapak tanganku pada leher Kou yang juga telah berdiri di sampingku.


"Dialah, yang membantu kita keluar dari hutan enam tahun yang lalu," sambungku seraya mengalihkan pandangan pada Julissa dan Zeki yang juga menatapku.


"Apa kau ingin menyentuhnya Julissa?"


"Ka-kau tidak bercanda bukan?"


"Tentu saja tidak, kemarilah! Dia hanya berbahaya pada mereka yang berniat mencelakaiku atau mereka yang tidak dia kenal sebelumnya. Kau temanku, Kou sudah pasti mengenalmu," ucapku seraya mengarahkan telapak tanganku padanya.


Maju ia beberapa langkah secara perlahan, diletakkannya telapak tangannya tadi di atas telapak tanganku. Kuraih dan kuarahkan telapak tangan temanku itu menyusuri kulit Kou...


"Dingin," ucap Julissa seraya meletakkan telapak tangannya yang lain padanya.


"Menakjubkan bukan?" ungkapku, mengangguk Julissa membalas perkataanku.


"Apa aku juga dapat menyentuhnya?"


"Tentu," balasku seraya mengalihkan pandangan pada Pangeran Miron yang tampak kagum menatapi Kou.


Kualihkan pandanganku ke tempat dimana Izumi menusuk tubuh Kou sebelumnya, bekas lukanya telah menghilang. Itu hanya luka kecil, jadi wajar saja jika akan sembuh secepat itu...


"Jadi dia yang bernama Kou?"


"Kau benar, apa kau ingin mencoba menungganginya?" ucapku seraya menatap ke arah Zeki yang telah berdiri di sampingku.


"Menungganginya?"


"Nii-chan, bolehkah?" ucapku lagi seraya mengalihkan pandangan pada dua kakakku itu.


"Tentu, hanya saja jangan terlalu lama. Kau baru saja sembuh," ucap Haruki yang tengah membalutkan sebuah kain panjang di lengannya Izumi.


"Aku mengerti."


"Kemarilah," ucapku seraya menarik lengan Zeki, berjalan ia mengikuti langkah kakiku.


"Bisakah kalian menjauh sedikit, aku tidak ingin jika tubuh Kou melukai kalian," ungkapku pada Julissa dan yang lainnya yang masih mengelus tubuh Kou.


Mundur mereka beberapa langkah menjauh, kutatap Kou yang merendahkan tubuhnya. Kulepaskan genggaman tanganku di lengan Zeki seraya kugerakkan kedua kakiku memanjat tubuhnya. Menoleh kembali aku ke arah Zeki seraya kutepuk-tepuk pelan punggung Kou yang berada di belakang tubuhku...


Melangkah Zeki seraya melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan, duduk ia di belakangku. Kuarahkan telapak tanganku kembali mengusap leher Kou...


"Berpeganglah yang erat Zeki, aku takut batinmu tidak kuat menerima semua yang terjadi hari ini," ucap Izumi dengan nada menyindir padanya.


"Terima kasih yang banyak untukmu Kakak ipar karena telah mengkhawatirkanku."


Tubuh Kou menukik terbang ke atas, kurasakan genggaman tangan Zeki di gaun yang aku kenakan. Kuarahkan pandanganku pada pemandangan yang ada di bawah kami...


"Rasanya sangat berbeda sekali dengan menunggangi kuda bukan?" ucapku padanya.


"Apa Ayahmu mengetahui keberadaannya?"


"Apa masih banyak lagi hal yang tidak aku ketahui tentangmu Sachi?"


"Kou adalah rahasia terbesarku. Kau telah mengetahui semua tentangku Zeki," ucapku seraya menatap lurus ke depan.


"Karena itu, kau memutuskan untuk memberontak pada Kekaisaran?"


"Apa kau lihat ekspresi yang ditunjukkan Ayahnya Julissa saat dia menceritakan tentang keluarganya?"


"Ayahku memiliki ekspresi yang sama persis sepertinya. Katakan Zeki, bagaimana caranya aku dapat bertahan melihat Ayahku menampilkan ketakutan yang sama berulang-kali," sambungku seraya tetap menatap lurus ke depan, ikut kurasakan tepukan pelan menyentuh kepalaku berulang-ulang.


________________


Duduk aku di pagar batu yang ada di lantai dua Istana, kutatap bulan purnama yang terlihat hidup malam ini. Angin malam bergerak membelah dan menerbangkan setiap helai rambutku...


"Kau di sini? Kami mencarimu kemana-mana," terdengar suara laki-laki dari arah samping, menoleh aku menatap kedua kakakku yang tengah berjalan mendekati.


"Nii-chan," ucapku seraya membalikkan tubuh, kusandarkan tubuhku di pagar batu yang ada di balkon.


"Apa ada yang ingin kau katakan kepada kami?" ucap Haruki berdiri di samping kananku.


"Kami berdua ingin sekali mendengarnya," sambung Izumi yang juga ikut berdiri di samping kiri tubuhku.


"Maaf, karena telah membuat kalian khawatir," ucapku tertunduk.


"Sa-chan, tidak bisakah kau menutup matamu pada penderitaan orang lain sekejap saja?"


"Tidak bisakah kau hanya memikirkan perasaan kami berdua saja?" ucapnya lagi seraya meletakkan wajahnya di pundakku.


"Apa kau tahu, betapa putus-asanya aku mencarimu beberapa hari ini..."


"Bagaimana caranya kami menatap wajah Ayah lagi jika kami kehilanganmu..."


"Bagaimana caranya kami pulang tanpa membawamu bersama kami..."


"Bagaimana caranya, aku meminta maaf pada Tsubaru karena gagal menjaga Putri yang ia jaga selama ini."


"Aku telah mengatakannya bukan? Aku benar-benar tidak sanggup kehilangan siapapun lagi Sachi..." sambung Izumi menimpali perkataan Haruki.


"Ibu menitipkanmu padaku, bagaimana caranya aku bertemu dengannya lagi kelak jika aku tidak dapat menepati janjiku padanya..."


"Aku tidak ingin mengulangi mimpi buruk itu. Rasanya menyakitkan kau tahu," ucapnya lagi seraya ikut meletakkan wajahnya di pundakku.


"Maafkan aku nii-chan, aku tidak memikirkan perasaan kalian berdua. Aku benar-benar menyesal, aku tidak akan mengulanginya..."


"Berada sendirian di hutan sangat menakutkan untukku, aku tidak ingin mengulanginya lagi. Aku menyesal," ucapku kembali dengan nada pelan seraya kututup seluruh wajahku menggunakan telapak tangan.


"Jika kau mengulanginya lagi, aku tidak akan segan-segan mengirimkan surat kepada Dante berisikan pernyataan jika kau bersedia menikah dengannya."


"Aku setuju denganmu," sambung Izumi menimpali perkataan Haruki, sesekali terdengar tawanya yang mengetuk telingaku dengan pelan.


"Apa Zeki membicarakan sesuatu padamu?"


"Membicarakan apa? Kami tidak menceritakan apa-apa, lebih tepatnya dia tidak berbicara sedikitpun," ucapku menjawab perkataan Izumi.


"Mungkin dia memang tidak ingin membicarakannya denganmu, tapi yang sebenarnya terjadi..."


"Saat kami mengetahui kau menghilang, dia langsung memanggil berapa puluh?" sambung Izumi mengangkat kepalanya seraya digerakkannya kembali kepalanya menatap Haruki.


"Sekitar seratus," ucap Haruki menimpali perkataan Izumi, diangkatnya kembali kepalanya seraya berdiri ia di sampingku.


"Sekitar seratus Kesatria yang menjaga perbatasan lalu mengeksekusi mereka langsung di tempat karena kami kehilangan jejakmu..."


"Berbicaralah dengannya lagi nanti, sebelum kita melanjutkan perjalanan," ucap Izumi kembali, kutatap wajahnya yang diarahkannya ke atas.


"Kau juga harus menenangkan Lux beserta Eneas, telingaku sampai berdenging mendengar tangisan mereka berdua," ungkap Haruki padaku.


"Nii-chan, kalian mengetahui tentang mataku bukan?" ucapku tertunduk.


"Aku tahu, tapi aku tidak akan memberitahukannya padamu. Tidak, sebelum kau sendiri lebih bisa mengontrol emosi dan juga hatimu," jawab Haruki seraya membalikkan tubuhnya menatapi sinar rembulan yang menggantung di belakangku.