Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXXXVII


“Kau mau membawaku ke mana?” Tanyaku dengan menatap ke arah Hutan yang kami masuki.


“Membawamu ke sungai sesuai perintah, aku akan mengubah apa yang harus kau lakukan nanti,” ungkapnya, diikuti berhentinya kuda yang kami tunggangi.


“Turunlah!” Dia kembali bersuara, “kau, ingin turun dengan sendirinya atau aku harus menjatuhkanmu dari kuda ini?” Tukas dia sekali lagi saat aku melirik tajam di belakangnya.


Aku mendecakkan lidah lalu beranjak turun dari atas kuda berwarna hitam itu, aku berjalan mundur sedikit ke belakang saat dia membungkukkan tubuh, berusaha meraih sebuah tombak yang digantung di samping badan kuda itu, “ambillah!” Ujarnya dengan melemparkan tombak tadi hingga tombak tersebut jatuh di hadapanku.


Aku membungkukkan tubuh, meraih lalu menggenggam kuat tombak tersebut, “di depan sana, terdapat sungai. Tangkap sepuluh ikan dari sungai menggunakan tombak itu, jika telah selesai … Bawa ikan-ikan tersebut padaku, baru aku akan mengantarkanmu lagi ke perkampungan,” ucapnya dengan melirik ke arahku dari atas kuda miliknya.


“Apakah ini sebuah jebakan?”


“Entahlah, kenapa tidak mencobanya sendiri untuk memastikan,” ungkapnya yang mengangkat kembali wajahnya menghindari tatapanku.


Aku berbalik, lalu melangkahkan kaki mengikuti arah yang ia tunjukkan. Semakin aku berjalan maju, semakin jelas pula terdengar suara arus air dari arah depan. Langkah kakiku terhenti, kepalaku menunduk diikuti telapak tanganku yang memijat-mijat belakang leherku.


Kedua kakiku kembali melangkah menginjak air sungai yang hanya sebatas mata kaki, “bagaimana caranya, aku mendapatkan ikan di sungai yang sangat dangkal ini,” gumamku dengan tetap menatap ke arah air sungai jernih yang mengalir melewati kaki.


Aku duduk dengan meletakkan tombak yang aku genggam tadi ke dalam air sungai, “terserahlah, aku lelah,” bisikku pelan dengan membaringkan tubuh di dasar sungai yang berisi bebatuan kecil itu.


“Berendam seperti ini, memanglah yang terbaik,” aku kembali berbisik dengan menatap ke arah langit yang kian cerah dibanding sebelumnya.


Kuangkat lengan kananku ke atas dahi, suara air yang mengalir di telinga, benar-benar seperti udara segar untuk pikiranku. “Apa yang kau lakukan?!” Aku beranjak duduk lalu menoleh ke belakang saat suara teriakan laki-laki tiba-tiba terdengar.


“Aku tidak menemukan ikan apa pun di sini,” ungkapku mendongakkan kepala, menatapnya yang tengah menunduk melihatku dari atas kudanya.


“Jika kau berbaring seperti itu, kau memang tidak akan menemukan apa pun,” cibirnya dengan melompat turun dari atas kuda yang ia tunggangi, “pergilah ke sana! Dan bawa sebanyak mungkin ikan!” Perintahnya lagi dengan mengangkat jari tangannya menunjuk ke arah hilir sungai.


Lidahku kembali berdecak, aku bangkit berdiri dengan menggenggam tongkat yang sebelumnya dia berikan padaku. Tubuhku berbalik membelakanginya sebelum berjalan ke arah yang ia tunjuk, “apa di sini benar-benar ada ikannya?” Gerutuku dengan mengarahkan pandangan menyusuri setiap jengkal sungai.


“Apa dia bercanda?” Tukasku kembali, aku berjongkok saat bayangan ikan kecil berenang menjauh dari kakiku.


“Bagaimana caranya aku menangkap ikan-ikan kecil itu dengan tombak yang ia pinjamkan? Apa dia, meremehkanku?” Sambungku dengan melirik ke arah kanan.


Aku berbalik, melangkahkan kaki mendekati tepi sungai. Kedua kakiku terus berjalan hingga suara aliran sungai yang ada di belakang, semakin tak terdengar lagi di telinga, “Kou, apa kau mendengarku?” Bisikku pelan dengan terus melangkahkan kaki berjalan.


“Apa kau membutuhkan sesuatu, My Lord?”


“Tuntun aku, ke tempat di mana Lux berada. Kau bisa merasakannya, bukan?” Aku kembali berbisik dengan menggenggam erat tombak yang ada di tanganku.


“Baiklah, ikuti arah yang akan aku beri tahukan padamu,” tukas suaranya yang terngiang di kepalaku.


Aku terus berjalan mengikuti arah yang Kou tunjukkan, tombak yang ada di tanganku berkali-kali aku gerakkan menancap di tanah, hanya untuk memastikan ada atau tidaknya jebakan yang tersebar di sekitar. Semakin lama aku berjalan, semakin sedikit pula pepohonan yang tumbuh.


Langkah kakiku bergerak semakin cepat dari sebelumnya saat aku telah meninggalkan hutan. Aku berlari menyusuri hamparan pasir yang sebelumnya aku lalui, langkahku semakin terasa berat saat pasir-pasir yang ada malah menempel di sepatu yang aku kenakan. “Haruskah aku menjemputmu, My Lord?” Tukas Kou saat kedua kakiku berhenti bergerak.


Aku bersandar pada tombak yang aku tancapkan di tanah, "aku baik-baik saja. Cukup katakan, apakah masih jauh?" Tanyaku dengan suara terputus-putus, kuangkat sebelah tanganku menepuk-nepuk pelan dadaku yang terasa sesak.


“Oi Sachi, apa yang kau lakukan sendirian di sini?” Kepalaku terangkat, menoleh ke arah suara yang memanggil dari kejauhan.


“Apa yang kau lakukan di sini juga, nii-chan?” Tanyaku padanya yang tengah berjalan mendekat.


“Aku melarikan diri, lalu kau?”


“Aku pun, melakukan hal yang sama,” ungkapku yang dibalas helaan napas yang keluar dari kami berdua.


“Laki-laki itu mencoba menipuku, apa dia pikir aku akan percaya jika Sasithorn mereka biarkan di hutan saat Duke Masashi ditugaskan untuk mengawasinya langsung,” ucap Izumi yang sedikit mendongakkan kepalanya ke atas.


“Bukankah kau berlari mengikutinya, nii-chan?”


Izumi menurunkan pandangannya menatapku, “aku memang awalnya berlari mengikutinya, lalu setelahnya aku bersembunyi di balik batu untuk selanjutnya melarikan diri,” ungkap Izumi dengan tersenyum menatapku.


“Aku hanya penasaran, di mana Haruki? Harga dirinya pasti terluka sekali, karena dipinta sebagai budak, melayani perintah seseorang,” Izumi kembali bersuara dengan mengangkat kepalanya menoleh ke sekitar.


“Entahlah,” ucapku ikut menoleh ke samping, “nii-chan,” sambungku lagi dengan tetap mengarahkan pandangan ke samping.


“Aku mendengarkan kabar, jika Ayah meminta suku ini untuk tinggal di Sora,” ungkapku kembali menoleh menatapnya.


“Begitukah? Apa Ayah mengkhawatirkan pengkhianat itu?” Aku menganggukkan kepala saat dia juga mengalihkan pandangannya menatapku.


“Aku sama sekali tidak keberatan tentang itu, akan tetapi … Apakah para penduduk menerima keputusan itu? Karena, seperti suku yang pernah kita temui sebelumnya, mereka memilih untuk hidup sendiri tanpa bergantung pada siapa pun bukan?” Tukas Izumi, dia berbalik dengan kembali melanjutkan langkahnya.


“Apa kau mengetahui kabar ini dari Duke?” Aku menggelengkan kepala saat langkahnya terhenti diikuti kepalanya yang menoleh ke arahku, “aku mengetahuinya dari Qadan,” ungkapku ikut melangkahkan kaki di sampingnya.


“Qadan?”


“Laki-laki yang diperintahkan untuk melatihku,” jawabku tanpa menoleh ke arahnya.


“Apa hubunganmu dan Zeki baik-baik saja?” Aku menoleh ke arahnya ketika dia tiba-tiba bertanya seperti itu.


“Apa maksudmu, nii-chan?” Ungkapku dengan kembali menatap lurus ke depan.


“Walaupun aku sempat tak menyukainya dulu, tapi ingatlah … Siapa laki-laki selain aku dan Haruki yang sangat telaten menjagamu di hutan terlarang dulu. Kemungkinan, di antara kita, Zeki lah yang sebenarnya berada di dalam bahaya.”


“Coba kau pikir, seorang Raja Yadgar berkunjung di Kerajaan Il, lalu selama kunjungannya, Raja Il terbunuh lalu digantikan dengan temannya yang seorang Pangeran Balawijaya, kerajaan yang sangat terlihat mendukung Sora. Menurutmu, siapa yang akan dihancurkan selanjutnya oleh Kaisar?”


“Ada apa?” Izumi ikut menghentikan langkah kakinya saat aku telah melakukannya.


“Zeki mengatakan, jika Ayah memintanya untuk mempercepat pernikahan kami, akan tetapi … Jika yang kau katakan itu benar. Menurutmu, apa yang sebenarnya terjadi, nii-chan?” Tanyaku dengan mengangkat wajah menatapnya.


“Mau mencari Haruki? Kakakmu yang satu itu, pasti memiliki jawaban dari pertanyaan yang kau tanyakan itu,” ungkap Izumi tersenyum dengan mengangkat sebelah tangannya ke arahku.