
“Apa kalian yakin ini arahnya?” Tanyaku dengan berusaha berbalik melirik mereka.
“Kerajaan Rhys ada di depan sana,” timpal Makoto ikut terdengar di belakangku.
“Baiklah. Kou, turunkan kami di hutan yang ada di bawah,” tukasku dengan menunjuk ke arah pepohonan rimbun yang tumbuh di bawah.
Kou melamban, tubuhnya berputar di atas udara sebelum turun dengan perlahan menginjak tanah. “Hime-Sama,” aku menoleh ke samping, meraih tangan Arata lalu beranjak turun dari punggung Kou dengan menggenggam tangannya.
Kou kembali beranjak berdiri, aku mundur ke belakang beberapa langkah saat Kou telah mengangkat sayapnya ke atas. Kepalaku tertunduk dengan sebelah tangan menutupi mata saat kepakan sayapnya membelah udara di sekitar, “aku ingin berkeliling mencari informasi di Kerajaan Rhys, jadi … Mohon bantuannya,” ucapku berbalik lalu membungkukkan tubuh ke arah mereka bertiga.
Makoto maju beberapa langkah mendekat, “pakailah ini, Hime-Sama,” ucapnya sembari mengarahkan sebuah jubah berwarna cokelat yang sebelumnya ia pakai kepadaku.
Aku mengangkat tangan, meraih jubah yang ada di tangannya tadi, “terima kasih, Makoto,” ucapku membentangkan jubah tadi lalu mengenakannya di tubuhku.
“Sano, kau pernah ditugaskan di sana sebelum Nao bukan? Jadi pimpin perjalanan,” ucap Makoto yang berbalik menatap Sano.
Sano melirik ke arahku diikuti kedua kakinya yang melangkah mendekati, dia berhenti di hadapan dengan sebelah tangannya membuka ikatan kain putih yang ada di lengannya yang lain. Aku mengangkat kepala saat dia semakin berjalan mendekati, pandangan mataku menggelap tatkala dia mengarahkan potongan kain yang ada di lengannya tadi mendekati mataku.
Kurasakan sesuatu menyentuh rambut dan kepalaku, “jangan membuka ikatannya sebelum aku sendiri yang membukakannya untukmu, Hime-Sama,” tukas Sano dengan nada bicara yang terdengar berbeda dari sebelumnya.
Aku berjalan maju ke depan saat kurasakan sesuatu menarik tangan kananku, “dan jangan berbicara sepatah kata pun walau kau mendengar suara salah satu di antara kami nanti. Hanya ketika kain yang menutupi matamu itu terlepas, baru kau boleh berbicara,” aku menganggukkan kepalaku saat suara Sano kembali terdengar.
Kedua kakiku terus berjalan, aku tidak bisa menerka sudah berapa jauh kami berjalan. Aku menghentikan langkah kaki saat genggaman di tanganku menguat, “apa yang ingin kalian lakukan di sini?” Aku menggigit sedikit bibirku saat mendengarnya.
“Kami pengelana, kami ingin beristirahat di sini sebelum melanjutkan perjalanan,” ucap Makoto menimpali perkataan laki-laki itu.
“Kalian membawa perempuan?”
Jantungku berdegup saat suara laki-laki lainnya mengetuk telingaku, “kami membawanya untuk hiburan selama perjalanan,” kepalaku mendongak ke atas dengan sesuatu yang mencengkeram kedua pipiku diikuti suara Sano yang terdengar di telinga.
“Hanya buka gerbangnya secepat mungkin. Aku, sudah lama sekali tidak mencicipi batu hitam yang ada di dalam,” ungkap Sano kembali terdengar.
Keadaan menghening, beberapa saat … Terdengar suara sesuatu yang terbuka. Langkah kakiku kembali bergerak ke depan ketika tanganku kembali digenggam lalu ditarik untuk maju ke depan. Pandangan mataku masih menggelap … Aku tidak bisa melihat apa pun, kecuali suara bising yang terdengar di mana-mana.
Semakin lama, suara bising itu semakin meredup seiring kedua kakiku yang terus melangkah. Aku menggenggam erat tangan yang memeganku itu saat kurasakan semakin lama, kakiku malah bergerak menaiki susunan anak tangga. Aku berhenti sejenak saat terdengar suara pintu terbuka, lalu kembali melanjutkan langkah saat suara kaki menyusul suara pintu tadi.
Langkah kakiku terhenti, saat genggaman di tanganku terlepas, “kita telah sampai, Hime-Sama,” ucapan Sano lagi-lagi terdengar, aku mengedipkan mata lalu menoleh ke arahnya saat dia kembali menarik jari telunjuknya yang menurunkan kain yang menutupi mataku.
“Di mana kita?” Aku menggerakkan kepala, menatap ruangan berdinding kayu yang ada di sekitar.
Kepalaku menoleh ke samping saat suara langkah kaki bergerak mendekat, “kami menyewa satu kamar untuk kita menginap,” ucap Makoto berjalan mendekat dengan sebuah kantung uang pemberian Daisuke di tangannya.
“Kita tidak terlalu membawa banyak uang, jadi hanya tempat ini yang bisa kita dapatkan, Hime-Sama,” Arata yang berjalan di samping Makoto menimpali perkataannya.
“Sano,” tukasku, dia menoleh tanpa mengucapkan apa-apa, “mencicipi batu hitam, apa itu batu hitam?” Tanyaku saat mengingat perkataan yang ia lontarkan sebelumnya.
“Batu hitam, sebutan untuk para perempuan di sini. Jadi mencicipi bat-”
Sano jatuh tersungkur ke depan, perkataannya terhenti ketika Makoto menerjang kuat dia dari belakang, “kau, tidak perlu menjelaskan hal tersebut,” sambung Arata dengan mengangkat kepalanya menginjak kepala Sano.
“Hime-Sama, jangan dengarkan perkataannya. Dibandingkan itu, bagaimana jika Hime-Sama membersihkan tubuh? Aku akan membeli pakaian untuk kau gunakan,” ungkap Makoto berbalik membelakangi lalu melangkahkan kakinya mendekati pintu.
Arata menundukkan tubuh, sebelah tangannya meraih kerah pakaian Sano, "kami berdua akan berjaga di luar, Hime-sama," ucapnya dengan menarik tubuh Sano mendekati pintu.
Aku berjalan mendekati ranjang saat mereka bertiga telah keluar, kubaringkan tubuhku di ranjang itu, "Kou, apa kau merasakan sesuatu di sini?" Aku bertanya pelan dengan sebelah lengan menyentuh kening.
"Aku tidak merasakan apa pun. Aku, tidak merasakan sihir apa pun di sini, My Lord," ungkapnya yang terlintas di pikiran.
Aku datang ke sini karena ingin mencari informasi. Haruki, tidak akan memberitahukan aku, walau dia mengetahuinya.
Aku hanya ingin tahu, kenapa mata hijau menjadi sebuah kutukan untuk mereka. Apa yang salah dengan mata hijau?
Aku melirik ke samping saat suara bising terdengar dari luar, kugerakkan kembali tubuhku beranjak dari atas kasur. Langkah kakiku terhenti di depan jendela, aku bergerak sedikit maju ... Melihat, kerumunan laki-laki yang tengah mengacak-acak beberapa barang dagangan pedagang.
Aku melirik ke arah kanan, beberapa Kesatria memakai baju zirah perak berjalan mendekati kerumunan tadi. Tanpa ampun, kesatria-kesatria itu menusuk dan merobek tubuh-tubuh para penduduk yang berdiri di sekitar.
Para penduduk yang tidak bersalah, yang hanya melihat apa yang terjadi ... Satu per satu jatuh terkapar, "kenapa? Kenapa mereka membunuh para penduduk dan bukan para pengacau itu," gumamku pelan dengan tetap menatapi mereka.
Aku berjalan menjauhi jendela saat keadaan di luar semakin kacau terlihat. Kedua kakiku kembali melangkah mendekati pintu saat suara gaduh terdengar dari balik pintu, "apa yang kalian berdua lakukan?" Tanyaku ketika pintu terbuka, kutatap Arata yang tengah mengunci tubuh Sano dengan badannya.
"Hime-sama, aku ... Ingin mengikuti pertarungan di luar," ucap Sano mendongakkan kepalanya menatapku.
Aku melirik tajam ke arahnya, "aku Tuanmu saat ini Sano. Jika kelakuanmu membuat mereka menyadari keberadaan kita dan mengancam nyawaku. Aku, akan membuangmu saat itu juga."
"Hi-hime Hime-sama," ucapnya dengan mengangkat sebelah tangannya menyentuh pipi, "lirikan matamu, kata-kata tajammu, membuatku ... Membuat tubuhku, sangat ... Sangat berga-"
"Tutup mulutmu yang menjijikan itu," ucap Arata memotong perkataannya dengan tangan kanannya mencengkeram kuat kepala Sano ke lantai.
"Sano," ucapku, kepalanya kembali terangkat menatapku, "jika kau dapat bersikap baik. Aku akan membawamu melihat hewan-hewan menakjubkan milikku yang belum pernah kau temui sebelumnya. Kau bahkan, dapat bertarung sampai mati dengannya."
"Jadi, Sano. Bersikap baiklah, aku mengandalkan kalian," ucapku lagi dengan membalas tatapan matanya yang berkaca-kaca menatapku itu.