
Alma? Dia Alma Mateo, bukan? Pangeran dari Kerajaan Juste?
Laki-laki itu masih menatapi kami bergantian, “kalian ingin ke mana?” Tanya laki-laki paruh baya yang berdiri di tengah-tengah mereka.
Kakek itu, dengan sekejap sudah bersujud di hadapan mereka, “Tu-Tuan,” ucap sang kakek dengan sedikit terbata.
Laki-laki paruh baya itu berjalan maju ke depan dengan sebelah kakinya menginjak kepala kakek itu, “apa kalian, dibawa oleh dia ke sini?” Dia bertanya dengan menatap kami bergantian.
“Ayah, aku ingin mata abu-abu miliknya,” aku sedikit tertegun ketika salah seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya melirik ke arah kami.
“Pa-paman,” laki-laki lainnya tiba-tiba bersuara, aku melirik ke arahnya yang juga telah melirik ke arah kami.
“Paman mengatakan jika Paman akan memberikan apa pun padaku, bukan? Berikan mereka! Berikan mereka semua padaku!”
Laki-laki paruh baya itu mengernyitkan keningnya, “jika Paman tidak ingin memberikannya. Perjodohan ini batal, kerja sama di antara kita juga batal,” ancam laki-laki itu.
Laki-laki paruh baya itu melirik tajam ke arah kami sebelum dia berbalik lalu melangkah menjauh. Aku melirik ke arah laki-laki yang meminta kami tadi, ketika helaan napas panjang terdengar darinya. Dia kembali menoleh ke arah kami, saat laki-laki paruh baya berserta dua laki-laki dan satu perempuan yang ada di dekatnya itu ikut berjalan menjauh.
“Haruki, Izumi, Sachi. Itu, kalian, bukan?” Tanya laki-laki itu saat dia menoleh ke belakang.
“Alma, kau … Alma Mateo, bukan?” Aku balik bertanya yang dengan cepat dibalas oleh anggukan kepalanya.
“Apa yang-” perkataannya kembali terhenti diikuti kedua matanya yang melirik ke arah kakek itu.
“Ikutlah denganku,” ungkapnya sambil menganggukkan kepalanya.
Dia berbalik lalu melangkahkan kakinya mendekat ke arah salah satu rumah yang juga berada di sini, “hanya kalian bertiga yang aku perbolehkan masuk, sisanya tidak aku izinkan,” ucapnya ketika berbalik menatap Eneas, dan si Kakek berserta cucu laki-lakinya.
“Dia, adik kami,” ungkap Haruki dengan menunjuk ke arah Eneas.
Laki-laki bernama Alma itu menatapi Eneas, “benarkah? Baiklah, hanya kalian berempat,” ungkapnya kembali berbalik lalu masuk ke dalam rumah tersebut ketika salah satu kesatria yang berdiri di dekatnya membukakan pintu itu untuknya.
Aku melangkah maju mengikuti Izumi yang terlebih dahulu masuk menyusul Alma, kedua mataku melebar, menatap ruangan tamu yang kami masuki. “Duduklah,” ucapnya dengan mengangkat tangannya ke arah beberapa kursi yang ada di hadapannya.
Izumi melirik ke arah salah satu kursi, aku melangkah mendekat lalu duduk di kursi yang ia maksudkan. “Aku, tidak menyangka jika kalian masihlah hidup,” ucapnya menatap kami dengan kedua mata yang sedikit berkaca.
“Aku juga sangat terkejut ketika mendengar kabar kematian Sasithorn dan juga Luana setelah kabar kematian kalian tersebar,” ucapnya kembali menatap kami bergantian, “sebenarnya, apa yang terjadi kepada kalian?” Dia balik bertanya kepada kami.
“Ceritanya panjang, kami memang hampir mati, kami hanya sedikit beruntung bisa menyelamatkan diri saat itu,” ungkap Izumi, dia beranjak duduk di lengan kursi yang aku duduki.
“Apa yang dilakukan seorang Pangeran dari Kerajaan Juste di sini?”
Alma menoleh kepada Haruki yang berbicara, “ibuku, adalah adik dari Duke Kerajaan ini. Dia berteman baik dengan Ayahku, dan juga … Aku dipinta Ayahku untuk bertunangan dengan putri pamanku itu,” ucapnya diikuti helaan napas yang terdengar.
“Bagaimana, aku bisa menerimanya. Kalian lihat sendiri, bukan? Maksudku, kebiasaan keluarga mereka yang menjadikan manusia sebagai mainan untuk mereka siksa?”
“Bagaimana, ketika aku menikahi putrinya … Putrinya itu memperlakukan aku seperti mainan yang sering disiksa oleh keluarganya,” ucapnya dengan mendekap kedua lengannya sendiri.
“Karena itu, kau memilih tinggal di rumah kecil ini, dibanding ikut tinggal bersama mereka di sana,” tukas Izumi yang langsung dibalas oleh anggukan kepala Alma.
“Alma,” Haruki kembali membuka suaranya, “jika kami membunuh pamanmu, apa kau tidak akan mempermasalahkannya?” Alma membesarkan kedua matanya yang menatap Haruki, bukan hanya Alma, bahkan aku dan juga Izumi ikut membelalakkan mata menatapnya.
“Aku, akan mengatakan apa yang harus aku katakan, jadi dengarkan baik-baik!” Sambung Haruki lagi kepadanya.
“Kami, menyelinap ke sini, hanya untuk membunuh pamanmu. Bukan hanya pamanmu, kami akan menghabisi mereka yang akan kami anggap menghambat pergerakan kami, termasuk dirimu,” Alma meneguk air ludahnya, pandangan matanya masih terpaku pada Haruki, enggan untuk terlepas.
Haruki menghela napas, “Kerajaan ini telah rusak, para penduduk yang tinggal selalu diliputi ketakutan. Bahkan kau pun, merasakan hal yang sama seperti yang mereka rasakan, bukan?” Alma masih terdiam, tak ada suara sedikit pun keluar darinya.
“Kami, berniat untuk menguasai Dunia. Keburukan seperti itu, tidak akan kami biarkan. Apa kau, telah menjadi seorang Raja, Alma?” Alma tertegun, lirikan mata Haruki membuatnya tak berkutik.
“Tempat ini, juga bukan kerajaan kecil. Jika kau ingin menjadi Raja di sini, kami akan membantumu,” tukas Haruki kembali padanya.
“Ra-ja?” Haruki menganggukkan kepalanya ketika Alma berusaha untuk memastikan.
“Kalian, tidak bercanda, bukan?”
Haruki tersenyum membalas tatapannya, “apa kau lupa, siapa yang menyelamatkan kita dari hutan larangan?” Tukas Haruki, dia melirik ke arahku, diikuti Alma yang juga telah melakukan hal yang sama.
Alma tersenyum membalas perkataan Haruki, “jika itu berarti, aku bisa lepas dari cengkeraman keluarga mereka. Maka aku, tidak akan mempermasalahkannya,” ungkapnya yang kembali tersenyum.
“Jika benar apa yang kau katakan, lakukan sesuatu untuk kami,” ucap Haruki, dia sedikit memundurkan tubuhnya bersandar pada kursi.
“Apa yang harus aku lakukan?”
Haruki kembali memajukan tubuhnya diikuti kedua tangannya yang saling menggenggam ke depan, “aku ingin, kau mencarikan kami … Informasi apa pun tentang mereka, kalau perlu … Kami ingin mengetahui ruangan-ruangan penting yang ada di rumah besar itu. Jika kau bisa melakukannya, itu akan sangat membantu kami untuk menghemat waktu,” tukas Haruki kembali padanya.
“Lakukan itu terlebih dahulu, jika sudah … Aku akan memberikan rencana selanjutnya kepadamu. Jangan mencoba untuk berkhianat, kami memiliki monster yang sama seperti yang Kaisar miliki di belakang kami. Coba saja untuk berkhianat, jika kau ingin sekali kehilangan rumah berhargamu,” sambungnya lagi dengan kembali bersandar di kursinya.
Alma terlihat pucat saat dia lagi-lagi meneguk air ludahnya sendiri, “baiklah, aku akan melakukannya. Sekarang juga,” ungkapnya beranjak berdiri, Haruki menganggukkan kepalanya ketika dia berjalan melewati kami.
“Lux, awasi dia! Berhati-hatilah, agar tak ketahuan,” Haruki berbisik ketika suara pintu terbuka, terdengar dari kejauhan.
Aku melirik ke arah Lux yang telah terbang menjauhi rambutku. “Nii-san, dirimu berani sekali menawarkan hal itu secara terang-terangan,” ucap Eneas bersuara dengan tiba-tiba.
“Menjadi Raja atau Ratu, merupakan suatu pengakuan untuk Pangeran dan juga Putri. Aku hanya mencoba memancing sifat tamaknya. Dan juga, apa yang dilakukan Sachi tempo dulu, memberikan efek yang sangat besar untuk mereka yang mengetahui … Hal besar apa yang berada di belakang Sachi,” jawab Haruki, ketika dia mengalihkan matanya melirik ke arahku.