Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXCII


“Apa semuanya telah diperiksa?” Aku sedikit menoleh ke belakang saat suara Haruki terdengar, “aku telah memeriksa semuanya nii-chan, aku bahkan memeriksanya dua kali agar tidak ada barang yang tertinggal,” ucapku kembali memasukkan lipatan kain yang sebelumnya dijadikan tenda ke dalam tas.


“Baguslah,” ucapnya berjalan melewatiku, “aku akan memeriksa kuda-kuda kita,” sambungnya kembali melangkah mendekati kuda-kuda kami yang diikatkan di beberapa pohon yang ada di sana.


“Kami telah kembali,” suara Izumi terdengar diikuti suara langkah kaki beriringan dengan suara ranting patah terdengar dari arah belakang, “kalian telah mendapatkan airnya?” Tanyaku kepada mereka bertiga yang bergerak mendekatiku.


“Kami menemukan sumber air di sekitar sana,” ucap Lux yang beranjak terbang dari atas pundak Izumi, ‘apa kau baik-baik saja Lux?” Tanyaku kepadanya saat dia telah terbang di hadapanku.


“Aku baik-baik saja,” balasnya, dia terbang lalu hinggap di atas kepalaku, “apa kau merindukan Uki?” Ungkapku kepadanya diikuti kedua tanganku yang bergerak mengikatkan tali menutup tas.


“Aku merawatnya dari kecil, jadi memang aku sedikit merindukannya. Tapi, Kou benar … Dia tidak akan tumbuh sempurna jika berada di dunia manusia terlalu lama,” ungkapnya yang terdengar dari atas kepalaku.


“Aku merasakan hal yang sama saat Kou memutuskan untuk tinggal di dunianya,” kepalaku kembali bergerak sedikit ke atas saat kurasakan ketukan-ketukan pelan yang menyentuh kepalaku, “ada apa Lux?” Tanyaku kembali menurunkan kepala menatap tas yang sudah aku ikat.


“Aku akan membawa tasnya,” aku menoleh ke samping saat kurasakan sesuatu menyentuh pundakku, “apa kau telah memeriksa semuanya?” Izumi menatapku saat aku telah beranjak berdiri di sampingnya, kubalas perkataannya tadi dengan anggukan pelan kepalaku.


Izumi membungkukkan tubuhnya meraih tas besar yang ada di hadapan kami, dia kembali beranjak berdiri dengan membawa tas tersebut berjalan mendekati kuda miliknya. Aku yang sebelumnya berjalan di belakangnya, berbalik mendekati Haruki yang telah mengangkat tali kekang kuda milikku di tangannya.


Aku bergerak menaiki kudaku itu, kuraih tali kekang kudaku yang tergeletak di atas telapak tangannya, “terima kasih nii-chan,” ucapku pelan saat aku sudah mengenggam erat tali tersebut dengan kedua tanganku.


Haruki melangkahkan kakinya mendekati kuda miliknya, membuka ikatan tali kekang yang melingkar di salah satu pohon lalu menaiki kudanya itu, “apa kalian telah siap?” Dia kembali bersuara saat kuda yang ia tunggangi berhenti melangkah di hadapan kami.


“Haruki,” Haruki berbalik ke belakang, menatap ke arahku, “ada apa Lux?” Tanyanya saat dia sedikit mengangkat wajahnya ke atas, “apa kalian yakin ingin menuju ke sana? Maksudku, tidak bisakah kita mencari jalan lain?”


“Memangnya kenapa?” Kali ini Izumi membuka suaranya, “Sachi, apa Kou tidak mengatakan apa pun?” Tanya Lux kembali saat dia telah terbang di hadapanku.


“Nii-chan, sesuatu yang berbahaya ada di depan sana. Kou pun ikut mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan Lux sebelumnya,” ucapku menimpali perkataan Lux, kutatap Haruki yang masih terdiam menatapi kami berdua.


“Lalu kenapa? Kaisar bahkan memiliki banyak sekali makhluk berbahaya di bawah kekuasaannya. Kenapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama?” Aku terdiam, tubuhku bergidik saat Haruki menatap kami dengan pandangan yang tak pernah aku lihat sebelumnya.


“Haru...”


“Izu nii-chan,” ucapku memotong perkataan Izumi, dia sejenak menatap ke arahku sebelum membuang pandangannya menghindariku.


________________


Kuda-kuda yang kami tunggangi berjalan menyusuri hutan, sesekali aku mengangkat kepala menatap bayangan Kou yang kadang kala muncul lalu menghilang kembali ke balik awan. Pandangan mataku kembali beralih kepada Haruki yang masih menunggangi kuda miliknya di depan kami, sepatah kata pun tak keluar dari bibirnya sejak pembicaraan sebelumnya.


“Aura ini,” suara Lux terdengar bergetar di telingaku, “apa kau merasakan sesuatu Lux?” Aku balas berbisik kepadanya yang bersembunyi di balik rambutku.


“Aku merasakannya, semakin kuat dibanding sebelumnya. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Kou yang terbang di atas?” Dia kembali bergumam pelan, “apa makhluk yang kau katakan itu menganggap Kou seperti ancaman untuknya?” Bisikku kembali padanya.


“Tentu saja, sihir Kou sangatlah kuat terasa, bahkan makhluk sekecil aku saja bisa merasakannya. Apa Kou sengaja memancingnya?”


“Apa menurutmu dia akan muncul? Atau aku harus meminta Kou untuk menyembunyikan sihirnya?”


“Kau ingin meminta Kou menaklukannya? Seperti yang ia lakukan pada para ikan itu?”


“Kau lihat sendiri bukan reaksi kakakku tadi? Apa kau pikir dia akan puas jika kita hanya melewati tempat tersebut tanpa bertemu atau membunuh sesuatu berbahaya yang kita sebutkan tadi?”


“Kau benar,” ucapnya pelan berbisik padaku.


“Kou, apa kau mendengarku?” Tanyaku pelan tanpa mengalihkan pandangan dari Haruki, “apa kau memerlukan sesuatu, My Lord?” Jawabnya yang terngiang di kepalaku.


“Bisakah kau sedikit menahan sihirmu? Aku ingin kita menangkap makhluk yang kau maksudkan itu hidup-hidup,” aku mengangkat kepalaku menatap bayangan hitam Kou yang terbang di atas kami, “sesuai perintah darimu, My Lord,” ucapnya diikuti bayangan hitam tubuhnya yang perlahan menghilang ke balik awan.


Aku kembali mengarahkan pandangan mataku menatap lurus ke depan, angin yang berembus kadangkala menyelinap ke dalam jubah yang aku kenakan itu. Aku kembali melirik ke arah Izumi dan juga Eneas yang juga sama-sama mengatup bibir mereka selama perjalanan. Kutatap kembali Izumi yang sesekali menggerakkan kepalanya menatap ke kanan dan juga kiri bergantian.


Kedua mataku membesar tatkala pepohonan yang ada di sekitar mulai tergantikan dengan tebing batu yang berdiri kokoh di hadapan kami. Aku sedikit melirik ke arah Haruki yang telah menggerakkan kudanya sedikit berbelok ke samping kiri, ikut kugerakkan kudaku itu melangkah mengikutinya, “apakah ini tempat yang kalian maksudkan nii-chan?” Aku bersuara pelan seraya kedua mataku melirik ke arah jurang terjal yang ada di samping kami.


“Benar, berhati-hatilah … Jika terjatuh ke dalam jurang tersebut, nyawa kalian tidak akan bisa diselamatkan,” ucap Haruki dengan tetap mengarahkan pandangan matanya menatap lurus ke depan, “Haruki, bukankah kita seharusnya menaiki tebing tersebut untuk keluar dari sini?” Kali ini suara Izumi terdengar sedikit meninggi mengetuk telingaku.


“Aku tidak mengatakan jika kita akan langsung keluar dari tempat ini bukan?” Tukasnya kembali sambil tetap melenggangkan kudanya itu, “jangan katakan, kau ingin turun ke dasar jurang?!” Genggaman tanganku di tali kekang semakin menguat saat Izumi mengatakannya.


“Kou dan Lux mengatakan, jika di sana ada sesuatu yang sangat berbahaya bukan? Jika sesuatu yang berbahaya tersebut berada di pihak kita, menurutmu … Berapa banyak keuntungan yang akan kita dapatkan kelak?” Sambung Haruki dengan sedikit melirik ke belakang menatapi kami.