Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXII


Turun aku dari atas kuda mengikuti langkah Haruki, seraya kugenggam tali kekang kuda milikku berjalan mendekati Julissa yang berdiri di samping Zeki dan Putri Khang Hue.


"Sa- Samantha," ucap Julissa terhenti beberapa saat.


"Aku merindukanmu," ucapnya lagi, berjalan ia mendekat memelukku.


"Samantha?" bisikku pelan padanya.


"Apa aku harus memanggil nama aslimu di hadapannya, aku sama sekali tidak keberatan," balasnya berbisik padaku.


"Aku mengerti, bagaimana keadaanmu?" ucapku lagi padanya.


"Kami baru saja sampai pagi tadi, aku benar-benar kelelahan di perjalanan," ungkapnya menatapku.


"Lihatlah matamu, apa kau tidak tidur selama perjalanan. Bagaimana bisa kau bertemu dengan Adinata dengan kondisi seperti ini?" bisikku lagi padanya.


"Aku melakukannya untukmu, bagaimana jika perempuan itu menyentuh Zeki selama perjalanan," bisiknya lagi pelan padaku.


"Lupakan tentang mataku, siapa laki-laki itu? Kenapa dia menatap ke arah kita dari tadi," sambung Julissa berbisik seraya menoleh aku mengikuti lirikan matanya.


"Abaikan dia," ungkapku seraya kembali mengalihkan pandangan dari Aydin yang tersenyum menatapku.


"Maaf," ucap suara perempuan di samping kami, menoleh aku ke arah Putri Khang Hue yang telah berdiri di sampingku dan juga Julissa.


"Ada apa?" ucap Julissa menatapnya, kugerakkan tanganku mencubit pelan pinggangnya.


"Apa ada yang bisa aku lakukan Putri," ucapku menatapnya.


"Maaf, karena menyelamatkanku dulu kau sampai..." ucapnya terhenti.


"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu merasa bersalah," ungkapku lagi padanya.


"Serahkan kuda milik kalian ke para Kesatria, lalu ikuti aku masuk ke dalam Istana," ucap Adinata, menoleh aku ke arahnya yang kembali berbincang panjang dengan Haruki.


Seorang Kesatria berjalan mendekati, berdiri ia di sampingku dengan telapak tangannya mengarah ke arahku. Kuberikan tali kekang yang aku genggam tadi ke atas telapak tangannya...


Julissa menarik lenganku mengikuti langkah kakinya menyusul Adinata dan Danurdara yang berjalan di depan kami. Kutatap Istana besar yang terpampang di hadapan kami...


Berjalan kami menyusuri lorong Istana seraya kualihkan pandanganku pada pahatan-pahatan yang terukir sepanjang dinding lorong. Berhenti kami di sebuah pintu besar berlapis emas dengan sedikit corak merah mengelilinginya...


Kualihkan pandanganku pada dua Kesatria yang berjalan mendorong pintu besar tadi, melangkah kami semua masuk ke dalam ruangan. Kualihkan pandanganku kembali ke sekitar...


Ukiran kayu berlapis emas memenuhi ruangan, nuansa merah yang memenuhi ruangan terasa menyegarkan pandanganku. Pandangan mataku terjatuh pada meja berukir bunga berlapis emas yang ada di hadapan kami, tampak berbagai hidangan memenuhi meja tersebut...


Melangkah dan duduk aku di samping Julissa seraya melirik aku ke arah Aydin yang juga entah kenapa ikut duduk di sampingku. Kualihkan lirikanku darinya seraya beralih kutatap Zeki yang juga balas menatapku.


"Apa ini? Benda merah berbulu apa ini?"


Menoleh aku ke arah Izumi yang tengah memegang sebuah benda bulat berwarna merah yang dipenuhi bulu-bulu, kualihkan pandanganku pada Adinata yang juga meraih benda yang sama.


"Ini rambutan, dan ini buah, rasanya manis. Kau harus mencobanya Izumi," ucap Adinata menatap Kakakku.


"Kau harus mengupasnya seperti ini," ucap Adinata seraya diarahkannya benda tadi di sekitar mulutnya lalu digigitnya benda tadi olehnya. Dipegangnya benda merah tadi oleh Adinata dengan kedua tangannya seraya dibukanya benda tadi hingga nampak benda berwarna putih sedikit transparan di baliknya.


"Kau bisa memakannya seperti ini, tapi berhati-hatilah jangan sampai bijinya tertelan," ucap Adinata seraya memasukkan benda tadi ke dalam mulutnya.


Kualihkan pandanganku pada Izumi yang terlihat mengikuti semua yang dikatakan Adinata sebelumnya, beberapa kali ia mengangguk seraya mulutnya tak henti-hentinya mengunyah.


"Apa itu enak?" bisikku pada Julissa.


"Itu manis, akupun menyukainya. Rasanya tidak seburuk bentuknya, apa kau ingin mencobanya?" ucap Julissa seraya beranjak berdiri meraih buah bernama rambutan tadi.


"Ini ambillah," ucapnya seraya meletakkan buah tadi di atas telapak tanganku.


"Apa kau yakin ingin memakannya?" ucap Aydin setengah berbisik padaku.


"Tentu, kenapa tidak," ungkapku balas menatapnya.


"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, apa kau pengawal mereka?" ucap Adinata, menoleh aku ke arahnya yang mengarahkan pandangannya pada Aydin.


"Aydin, pemimpin para perompak. Sekutu dari mereka, dan juga calon suami dari perempuan yang duduk di sampingku ini."


Kutepuk-tepuk kuat dadaku, beberapa kali aku terbatuk-batuk seraya kutatap buah rambutan yang hampir tertelan di kerongkonganku sebelumnya. Kuarahkan tanganku mengambil buah rambutan yang tergeletak di hadapanku tadi ke dalam mangkuk kosong yang tidak terlalu jauh dari tempatku duduk...


"Calon suami?" ucapnya seraya menoleh aku ke arah Zeki yang menatap tajam ke arahku.


"Apa aku kurang jelas mengatakannya?" sambung Aydin, menoleh aku ke arahnya yang balik menatap Zeki.


"Bukankah kemarin kau mengatakan jika pasanganmu adalah laki-laki ini?" ucap Putri Khang Hue menatapku seraya telapak tangannya diarahkannya kepada Izumi.


"Aku tidak memiliki kuasa jika seseorang jatuh cinta padaku secara bersamaan. Katakan Putri Julissa, apakah ini salahku jika aku diinginkan banyak sekali laki-laki?" ucapku seraya mengalihkan pandangan menatapnya.


"Heh begitukah?" ucap Zeki tersenyum menatapku, kualihkan pandanganku menghindari tatapannya.


"Zeki, apa kau ingin mencoba buah ini juga?" ungkap Adinata seraya mengangkat buah Rambutan yang ada di tangannya ke arah Zeki.


"Ru-ruangan i-ini e-entah ke-kenapa te-terasa pa-panas se-sekali," kuarahkan pandanganku pada Danurdara yang tengah mengipas tubuhnya menggunakan telapak tangannya.


"Zeki? Jadi kau..."


"Aydin, kumohon. Tidak bisakah kau menutup mulutmu," ucapku memotong perkataannya, kuarahkan telapak tanganku menggenggam lengan pakaiannya seraya tertunduk aku menatap pinggir meja yang ada di hadapanku.


"Kemarilah Sa-chan, duduklah di sampingku!"


Kulepaskan genggaman tanganku tadi seraya beranjak aku berdiri, menoleh aku ke arah Haruki sembari kulangkahkan kakiku berjalan dan duduk di sampingnya. Kurasakan tepukan-tepukan pelan yang ia lakukan di punggungku.


"Aydin, sudah kukatakan jangan mempermainkan Adikku," sambung Haruki kembali.


"Aku tidak mempermainkan Adikmu. Jika tunangannya melepaskannya, maka..." perkataan Aydin terhenti, kualihkan pandanganku pada sebilah pisau kecil yang tertancap di meja yang ada di hadapannya.


"Maaf, pisau yang ada di tanganku terlepas tanpa sadar," ungkap Zeki, kembali kuarahkan pandanganku padanya yang tersenyum dengan tatapan dingin yang ia arahkan pada Aydin.