
"Maaf, kami meminta bantuanmu lagi Kou," ucapku seraya mengelus bagian samping lehernya.
Angin malam yang berembus semakin menusuk ketika terbang bersamanya. Kualihkan pandanganku ke sebelah kanan, bulan nan bersinar putih itu tampak terlihat dekat sekali di pandangan...
Menoleh aku ke bawah, aku tidak tahu apa yang kami lewati, mungkin hutan, mungkin gunung, atau pemukiman... Semuanya yang terlihat hanyalah kegelapan...
Kuelus kepala Eneas yang tertidur bersandar di tubuhku, kupeluk pinggangnya dengan kuat agar tak terjatuh. Sekarang, kami telah resmi mati...
Tapi, tunggulah sebentar lagi, Ayah. Kami akan kembali lagi padamu... Secepatnya.
"Pelan-pelan Kou, Eneas tertidur. Usahakan jangan sampai membangunkan dia."
"Aku mengerti, My Lord," ucapnya, Kou mendarat dengan sangat perlahan, bahkan dedaunan yang ada di sekitar tak terlihat ribut seperti sebelumnya.
Turun dan berjalan Izumi di sampingku, diraihnya tubuh Eneas yang tertidur seraya digendongnya dengan sebelah tangannya, sedangkan tangannya yang lain diarahkannya membantuku untuk turun.
Berjalan aku kembali mendekati Kou, kupeluk leher Naga putih itu seraya berkali-kali kucium pipinya... Berjalan ia mundur, kepakan dari sayapnya membuat tubuhnya terbang menjauh hingga hilang bersatu dengan gelapnya malam...
Kurasakan sesuatu menggenggam tanganku, kutatap bola mata Izumi yang semakin bercahaya di kegelapan yang mengelilingi kami. Ditariknya tanganku tadi untuk mengikutinya...
"Kami memasang banyak jebakan sebelumnya, jadi jangan lepaskan tanganmu. Itu juga berlaku untukmu, Haruki," ucapnya, seraya menarik tubuhku berjalan perlahan mengikutinya.
____________
"Selanjutnya kita akan kemana?" ucap Izumi yang membantuku berkemas.
"Kita akan menuju ke arah Utara, menuju ke ibukota Kerajaan Paloma. Benar bukan Eneas?" ucap Haruki melirik ke arah Eneas yang masih lanjut berseteru dengan Lux.
"Eneas, apa kau mendengarku?!" ucap Haruki lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
"Aku dengar... Disana ibukota Kerajaan Paloma, aku pernah mencoba menjual racunku di sana sebelum diusir oleh Kesatria yang berjaga," ucap Eneas berbalik menatap Haruki.
"Sudah diputuskan kita akan ke sana," ungkap Haruki beranjak berdiri.
____________
Kuda yang kami tunggangi melaju pelan kearah utara, kulirik Eneas yang tak berhenti menatap Lux...
"Apa kau tidak bisa bersikap akrab dengannya Lux?" bisikku padanya.
"Bagaimana mungkin aku akrab dengan manusia yang tidak berguna," ucap Lux dengan kuat disamping telingaku.
"Siapa yang kau katakan tidak berguna? Aku dapat membuat banyak racun, kau paham?!" teriak Eneas semakin menyipitkan matanya memandang Lux.
"Berisik!" teriak Izumi menatapi mereka berdua.
"Aku akan menutup mulut kalian berdua dengan paksa jika kalian tak berhenti juga bicara," ucap Izumi lagi pada mereka.
"Bagaimana Izumi, kau akhirnya merasakan apa yang dulu kurasakan," tukas Haruki yang ikut menatapi Izumi.
"Kapan aku melakukannya? Aku tidak pernah melakukannya."
"Kau tidak pernah melakukannya ya?"
"Kalian semua, bisakah tenang? Kalian berempat membuat kepalaku berkerja dua kali lipat dari sebelumnya," ucapku pada mereka.
"Eneas, Lux... Jika kalian tidak saling mencoba akrab satu sama lain, akan kupastikan kalian akan membuat kami dalam kesulitan ke depannya. Karena itu, jangan membuatku mengulangi kata-kata yang sama. Apa kalian mengerti?!" ucapku dengan nada sedikit tinggi.
"Kami mengerti," ucap mereka bersamaan.
"Katakan jika kalian tidak akan mengulanginya!"
"Kami tidak akan mengulanginya," ungkap mereka lagi seraya membuang pandangan dari satu sama lain.
"Disana, disana ibukota yang aku maksudkan," ucap Eneas seraya menunjuk ke sebuah kota yang ada di hadapan kami.
Haruki memacu kudanya lebih cepat dari sebelumnya, kutatap Izumi yang juga melakukan hal yang serupa. Haruki mencondongkan tubuhnya ke depan, kuda yang kami tunggangi berlari semakin cepat dan semakin cepat...
Dihentikannya kuda tersebut tepat di hadapan dua Kesatria yang tengah berjaga di depan gerbang, diangkatnya oleh Haruki kaki kanannya melewati kepala kuda seraya turun ia mendekati Kesatria-kesatria tadi...
Lama kutatap ia yang tengah berdiskusi dengan dua Kesatria tadi, berbalik dan berjalan Haruki mendekatiku. Diraihnya tali kekang dan ditariknya kuda itu berjalan mengikutinya...
Gerbang yang ada di hadapan kami terbuka, berjalan Haruki menuntun kuda itu melewati gerbang. Melirik aku ke arah Izumi yang juga turun dari kudanya, diraihnya tali kekang kuda yang dipegang oleh Eneas dan sama seperti yang dilakukan Haruki, dituntunnya kuda tersebut mengikuti langkah kakinya...
Kutatap laki-laki yang melewati kami, tampak mereka menatapku dengan pandangan tak mengenakan. Kuabaikan seluruh tatapan yang aku terima itu seraya menatap lurus ke depan.
Kerajaan Paloma, dari informasi yang dulu pernah aku dapatkan... Kerajaan ini hampir runtuh dikarenakan Raja terdahulu memiliki hutang yang sangat besar kepada Kaisar, jadi penerusnya mau tidak mau menjadi budak paksa sang Kaisar.
Kerajaan besar yang seperti boneka, seperti itulah kondisi mereka sekarang. Mereka beberapa kali menghubungi kami untuk melakukan hubungan perdagangan, akan tetapi Haruki menolak semuanya. Jika mereka mau berusaha lepas dari Kaisar, aku akan menyetujui permintaan mereka. Akan tetapi, mereka sudah terlalu nyaman dengan suapan sendok timah yang dilakukan Kaisar pada mereka, jadi aku menolak melakukan hubungan apapun dengan mereka... Seperti itulah yang dulu pernah Haruki katakan.
Tatapan mataku jatuh ke arah sebuah penjara kayu berbentuk gerobak yang melewati kami, para perempuan yang terkurung disana menatapku satu persatu. Tubuhku terhentak, menoleh aku ke samping untuk melihat siapa yang menggenggam kuat tanganku...
"Jangan goyah Sa-chan. Bersikap baik memang tidaklah salah, akan tetapi... pikirkan terlebih dahulu keadaan kita sekarang," ucapnya pelan menatapku.