
Aku mengangkat wajahku saat helaan napas keluar dari bibir Ayah, “Ayah,” ucapku pelan, dia beralih menatapku saat aku meraih lalu menggenggam kedua tangannya.
“Aku, akan mengurus kakak. Percayakan dia padaku,” ungkapku sambil tersenyum menatapnya.
Ayah mengangguk pelan, dia mengangkat telapak tangannya memegang pipiku, “terima kasih,” ucapnya sembari membalas senyuman yang aku lakukan.
“Kalau begitu, aku … Akan bersiap-siap. Aku permisi, Ayah,” sambungku sambil beranjak berdiri lalu berbalik melangkahkan kaki.
Aku terus berjalan dengan melirik ke arah Tsubaru yang juga mengarahkan pandangannya ke arahku, “persiapkan semua keperluanku, Tsubaru!” perintahku, Tsubaru menganggukkan pelan kepalanya sebelum dia berbalik lalu melangkah mengikuti.
Langkahku terus berlanjut menyusuri Istana, “Tsu nii-chan,” ucapku pelan seraya melirik ke ujung mata, berusaha untuk melihatnya yang berjalan di belakang, “maafkan aku, jika menyeretmu dalam masalah ini,” sambungku dengan kembali membuang pandangan ke depan.
“Sudah menjadi tugasku untuk melayanimu Putri. Hidup dan matiku, hanya untuk melayanimu,” tukas suaranya yang sayup terdengar dari belakang.
“Aku akan mengunjungi Ibu yang sedang bersama Ryu dan juga Eneas. Jadi nii-chan, bisakah-”
“Tentu, serahkan semuanya kepadaku, Putri.”
“Terima kasih,” ungkapku pelan sebelum aku berbelok ke arah lorong Istana yang mengarah ke kamar Ibu.
Aku terus melangkah dengan sesekali menggaruk keningku sendiri, langkah kakiku terhenti diikuti tangan kananku yang terangkat ke depan, “Ibu, apa Ibu di dalam?” tanyaku dengan mengetuk-ngetuk pintu yang ada di hadapanku itu.
Aku dengan perlahan membuka pintu saat suara perempuan yang terdengar dari balik pintu memperbolehkan aku untuk masuk, “Eneas, Lux … Kita akan segera berangkat, bersiap-siaplah,” ucapku saat aku kembali berbalik melangkahkan kaki setelah sebelumnya menutup kembali pintu kamar.
“Mendadak sekali,” tukas Lux yang dibalas dengan anggukan kepala dari Eneas.
“Terjadi sesuatu,” balasku, aku menghentikan langkah lalu berlutut di samping Ibu dengan meraih kedua tangannya.
“Ibu, kami akan kembali melanjutkan perjalanan. Jaga kesehatan kalian bertiga, aku … Akan sering-sering mengirimkan surat untuk menanyakan keadaan kalian,” tukasku yang dibalas anggukan pelan dari Ibu.
Aku beranjak berdiri dengan melemparkan pandangan ke arah Ryuzaki yang duduk di kursi yang ada di samping Eneas, “Ryu, kami akan pergi. Baik-baiklah di sini,” ucapku, Ryuzaki membelalakkan kedua matanya ketika aku mengatakannya.
“Pergi? Tidak boleh pergi!” Aku segera melirik ke arah Ibu ketika Ryuzaki beranjak berdiri dengan membentakku.
“Ryu, kakakmu harus melakukan sesuatu,” sambung Ibu yang juga telah beranjak berdiri di sampingku.
“Melakukan? Melakukan apa?”
“Ryu, sejak kapan … Kau bisa berbicara selancar ini?” tanyaku dengan melangkahkan kaki perlahan mendekatinya.
Ryuzaki membuang pandangannya ke samping ketika langkahku berhenti tepat di hadapannya. “Ryu, lihat aku!” tukasku, aku mengangkat sebelah tangan menyentuh pipinya, berusaha untuk menggerakkan wajahnya menatapku.
“Ryu.”
“Kumohon, jangan pergi ke mana pun … Lupakan, lupakan semuanya tentang membalas dendam,” tukasnya yang gelagapan menatapku.
Perkataanku terhenti, aku tertegun saat menoleh ke arah Ibu yang diam tak bergerak dengan hamparan bunga mawar merah dipenuhi akar berduri yang menyelimuti kakinya. Aku dengan cepat menoleh ke arah Eneas dan juga Lux yang sama terdiam dengan ibu. “A-apa yang … Bunga mawar? Ryu,” ucapku terhenti dengan menelan ludahku sendiri, “jelaskan semuanya padaku, Ryu,” sambungku kembali kepadanya.
Ryuzaki masih terdiam dengan tak melepaskan pandangannya dariku, aku melirik ke samping saat bunyi gemerasak tiba-tiba terdengar. Tubuhku tertegun saat akar berduri penuh bunga mawar tumbuh besar mengelilingi kami. Semakin akar itu tumbuh besar semakin gelap juga pandangan mataku.
“Lindungi Yang Mulia!”
Seluruh tubuhku merinding tatkala teriakan itu terus berulang memekakkan telinga, aku menutup rapat mulutku saat akar-akar yang menutupi kami kembali menyusut. Tubuhku gemetar hebat saat aku melemparkan pandangan ke sekitar, “apa, apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
“Kou!”
Aku terhentak ketika teriakan perempuan terdengar, kedua kakiku tanpa sadar berlari mendekati teriakan perempuan tadi. “Kou.” Aku langsung terduduk saat kutatap tubuhku sendiri yang merangkak penuh luka ke arah kepala Kou yang tergeletak di tanah.
“Sachi!”
“Ryu,” tukasku sambil berbalik ke belakang saat suaranya terdengar memanggil.
Lagi-lagi aku terhenyak ketika kedua mataku menatap dua Ryuzaki, satu Ryuzaki mengenakan pakaian zirah dengan wajah penuh luka yang dengan cepat berlari ke arahku … Sedangkan yang lainnya, berjalan santai menggunakan pakaian yang Ryuzaki kenakan sebelumnya, tubuhnya pun tak terlihat adanya luka sedikit pun, berbeda terbalik dengan yang satunya.
“Ryu,” aku kembali tertegun saat Ryuzaki yang memakai baju zirah melewatiku begitu saja. Aku menarik napas dalam lalu menggigit kuat bibirku sebelum kuberanikan diri untuk menoleh ke belakang.
“Sachi, kita harus pergi dari sini,” ucap Ryuzaki yang memakai baju zirah ketika dia duduk berlutut di depan perempuan yang persis dengan diriku itu.
“Ayah, bagaimana dengan Ayah?”
“Lalu Ha-Haru-nii?” tanyanya terbata kepada Ryuzaki yang meraih kedua tangannya.
Ryuzaki menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan, berkali-kali dia mengusap kedua matanya sendiri dengan kepalanya yang masih tertunduk. Kedua mataku membesar tatkala bayangan hitam mendekati mereka berdua, perempuan yang sangat mirip denganku itu … Atau bisa aku katakan, Sachi, beranjak dengan mengangkat kedua tangannya menarik kepala Ryuzaki hingga kepalanya jatuh tertunduk di pangkuan Sachi.
Aku menggigit bibirku yang gemetar kuat itu, tubuhku seakan mati saat itu juga ketika pandangan mataku terjatuh kepada kuku besar nan tajam yang menembus kepala Sachi. Tubuhnya terangkat ke udara, dihempas-hempaskan ke kanan dan ke kiri oleh jari Naga yang menembus kepalanya itu, “Sachi!” teriakan Ryu yang kuat membuat tubuhku semakin gemetar tatkala tubuh Sachi semakin mendekati mulut Naga tersebut sebelum dia membuka mulutnya.
Air mataku terus mengalir sebelum pandangan mataku tiba-tiba menggelap. Aku tertunduk dengan memeluk tubuhku sendiri yang tak hentinya gemetar, “Sachi, apa yang terjadi padamu, nak?” Aku mengangkat pelan kepalaku saat suara perempuan diikuti rangkulan di pundak menyentuh.
Tangisanku semakin pecah saat aku tersadar telah kembali ke kamar, “apa yang terjadi padamu?” tanya suara perempuan itu diikuti dekapan yang memeluk kuat tubuhku.
“Nee-chan.”
“Sachi,” tukas suara Eneas dan Lux yang bergantian mengetuk telingaku.
Aku menunduk lalu mengusap kedua mataku sendiri saat Ibu melepaskan pelukannya. Aku menarik napas dalam sembari kugerakkan dengan perlahan tubuhku beranjak berdiri, “Ryu, berbicaralah padaku di luar,” ucapku ketika aku membalikkan tubuh menoleh ke arahnya.
Aku kembali menoleh, menatap Ibu, Eneas dan juga Lux yang masih menatapku dengan cemas, "aku baik-baik saja. Eneas, Lux … Bersiap-siaplah, Haru nii-chan pasti telah menunggu kalian,” tukasku dengan tersenyum menatapi mereka berdua.
“Ryu, ikuti aku!” perintahku sembari berbalik lalu melangkahkan kaki menjauhi mereka.