Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXLII


Aku menarik kembali tanganku dengan menghela napas saat dia dengan pelan beranjak berdiri sendiri. “Kou, buka gerbang dan bawa Uki kembali,” gumamku sembari berjalan mendekati Uki.


Aku berjongkok, menatap Uki yang telah bertengger di jendela, “Uki, kau dapat kembali. Terima kasih untuk bantuanmu hari ini,” ucapku seraya mengangkat tangan mengusap kepalanya.


Uki meloncat mundur diikuti kedua sayapnya yang mengepak lebar, bulu di ekornya itu melambai tertiup angin ketika dia semakin terbang menjauh. “Bagaimana keadaanmu?” tanyaku sembari berbalik lalu melangkah mendekatinya yang telah berdiri.


“Cobalah berjalan, agar Ayahmu dapat melihat sendiri kesembuhan anaknya,” sambungku kembali yang membuatnya menatap tajam kepadaku.


“Jangan menatapku seperti itu, aku tidak mengasihanimu sekarang. Aku menyembuhkanmu karena sudah menjadi perjanjian, jadi kau tidak perlu merasa terbebani dengan ucapan terima kasih,” lanjutku dengan menyilangkan lengan di dekatnya.


“Jadi cobalah berjalan, masih banyak yang harus aku selesaikan,” tukasku lagi yang dibalas oleh decakan lidah yang ia perbuat.


Kepalanya kembali tertunduk, kaki kanannya terangkat dengan pelan … Dia berjalan dengan sangat pelan hingga kembali duduk di ranjangnya. “Kau telah melakukannya dengan sangat baik, aku akan memberitahukan kesembuhanmu ini pada Ayahmu,” ucapku seraya berbalik lalu melangkah mendekati pintu kamar.


“Siapa kau?”


Tanganku yang hendak membuka pintu terhenti, “Takaoka Sachi, ingatlah baik-baik namaku itu,” ungkapku kembali menggerakkan tangan membuka pintu tersebut lalu berjalan keluar.


“Sampaikan kepada Raja jika Pangeran telah bisa berjalan kembali, dan panggil pelayan untuk mengurus keperluannya,” lanjutku dengan menoleh ke salah satu Kesatria yang berjaga.


Langkahku kembali berlanjut menyusuri lorong istana lalu berhenti kembali di depan kamar yang disediakan oleh Raja untuk kami. Aku membuka pintu kamar tersebut, langkahku berjalan masuk … Mendapati mereka yang tengah bersantai, bercengkerama satu sama lain.


Haruki menghentikan ucapannya dengan menoleh ke arahku, “bagaimana Sa-chan? Apa kau menyelesaikannya dengan baik?” tanyanya yang disambut oleh tatapan mereka semua ke arahku.


Aku melangkah, menghela napas dengan menggaruk leherku sendiri, “aku telah menyelesaikan semuanya. Aku lelah sekali, jadi aku akan beristirahat sejenak,” ungkapku sambil beranjak naik ke atas ranjang setelah sebelumnya melepaskan sepatu yang aku kenakan.


“Nanti malam, Raja mengajak kita untuk makan malam, dia juga meminta kita untuk menghadiri sebuah festival lusa.”


Aku menoleh ke arah Haruki yang berbicara menatapku, “festival?”


“Eneas dan Putri Aniela diwajibkan untuk ikut, ini sudah seperti tradisi dari leluhur mereka di sini,” jawab Haruki yang kembali menyandarkan diri di kursinya.


Aku menganggukkan kepala lalu kembali membaringkankannya di ranjang, “baiklah, apa pun yang kau perintahkan nii-chan. Lagi pun, sekarang aku sudah lelah sekali,” gumamku sambil memejamkan pelan kedua mata.


________________.


“Kau yakin, ingin menghadiri festival tersebut sebagai laki-laki? Padahal dari yang aku dengar, itu festival yang dirayakan khusus untuk perempuan yang ada di sekitar Istana.”


Aku mengangkat kepala setelah habis menguncir rambutku, “festival itu untuk mereka yang berpasangan, sedangkan pasanganku sendiri pun sedang tidak berada di sini. Lalu untuk apa aku melakukannya,” jawabku beranjak dengan melirik ke arah Izumi yang sebelumnya bertanya.


“Eneas, kau terlihat gugup sekali,” tukasku dengan memukul pelan pundaknya.


“Jika dia mendengar apa yang kau katakan, dia akan sangat terluka,” ungkapku, aku mengangkat telapak tangan mengusap belakang kepalanya saat dia menoleh ke arahku, “hanya bayangkan jika kau berada di posisi yang sama dengannya. Memiliki ingatan di kehidupan lama itu mengerikan, setelah apa yang menimpa kita di sana,” sambungku sambil melangkahkan kaki melewatinya.


Aku menarik napas sebelum berjalan keluar menyusul Ryuzaki, sesekali aku merapikan rambutnya agar telinganya itu tak terlihat saat kami berjalan beriringan. Langkah kaki kami terhenti ketika Raja Piotr, Pangeran Ryszard, dan juga Putri Aniela yang berdiri di hadapan kami, Pandangan mataku, beralih ke arah sang Putri yang terlihat anggun dengan menggunakan gaun berwarna putih yang dipenuhi beberapa bordiran, berserta sebuah lilitan bunga yang mengikat kepalanya.


Mereka berbalik, lalu berjalan membelakangi ketika kami telah membungkukkan tubuh. Mereka membawa kami keluar dari dalam Istana, berjalan mendekati barisan Kesatria dengan tiga buah kereta kuda megah berwarna hitam, berlapis emas di tengah-tengah barisan Kesatria tadi. Raja, Pangeran berserta Haruki masuk ke dalam salah satu kereta … Sedangkan aku, Izumi dan juga Ryuzaki di kereta lainnya, dan tentu saja, Eneas dan Putri berada di kereta sisanya.


Aku membuang pandangan ke jendela, ketika kurasakan kereta tersebut telah bergerak, “nii-chan, menurutmu … Seperti apa festival itu?” gumamku pelan dengan tetap membuang pandangan ke arah luar jendela.


“Entahlah, aku pun baru mengetahui jika ada festival untuk perempuan di dunia ini,” jawabnya yang juga terdengar pelan di telinga.


“Aku benar-benar tidak sabar untuk melihatnya langsung,” tukasku pelan dengan menoleh ke arahnya.


“Ini seperti dunia yang kau impikan, bukan?” ucapnya yang balas tersenyum kepadaku.


Semakin lama kami berjalan maju, semakin terdengar sayup-sayup suara musik bercampur nyanyian yang menyentuh telinga. Aku menoleh ke samping ketika kereta yang kami naiki berhenti, Izumi yang duduk berseberangan dengan kami … Beranjak, saat pintu kereta terbuka pelan dari luar. Aku turut beranjak setelah Ryuzaki telah turun mengikuti Izumi.


Bibirku sedikit terbuka, kedua mataku membesar … Merasa kagum akan apa yang ada di hadapanku sekarang. Kutatap perempuan yang berseliweran berjalan di depan kami, mereka semua memakai gaun yang sama seperti yang Putri itu kenakan, lengkap dengan lilitan bunga yang menghiasi kepala mereka.


Aku menoleh ke samping, ketika suara nyanyian dari para perempuan paruh baya kian terdengar, mereka bernyanyi dengan mengelilingi tumpukan kayu yang disusun ke atas. “Kak Sachi,” pandangan mataku dengan cepat menoleh ke arahnya yang telah berdiri di hadapanku dengan sebuah hiasan kepala terbuat dari bunga, sama persisi seperti yang ia miliki.


“Aku membuatkannya khusus untukmu, kakak,” ucap Aniela seraya menyerahkan lilitan bunga tersebut kepadaku.


“Aku sedang menyamar sebagai laki-laki, apa kau lupa?” tukasku, dia tertunduk dengan menggenggam erat hiasan kepala tersebut.


“Maaf, aku melupakan hal penting itu,” ucapnya, dia kembali mengangkat kepalanya sambil tersenyum menatapku.


“Apa yang sedang kalian bincangkan?”


“Kau membuatkan ini untuknya?” sambung Haruki yang menghentikan langkahnya di dekat kami.


“Berikan itu kepadaku,” tukas Haruki lagi sambil mengangkat telapak tangannya.


Dia mengarahkan lilitan bunga tersebut ke atas kepalaku, “nii-chan,” ucapku dengan mengangkat kedua tangan menggenggam lengannya.


“Aku tidak ingin melanjutkan perjalanan jika pikiranmu terpecah belah, Sa-chan. Aku sengaja mengambil jalur laut agar memberikan kita lebih banyak waktu untuknya ke sini.”


“Apa yang kau maksudkan, nii-chan?”


“Yang ia maksudkan adalah aku. Cepat ganti pakaianmu, kita akan mengikuti festival ini,” aku sekejap langsung tertegun saat suara laki-laki dari arah belakang mengetuk telinga.