Fake Princess

Fake Princess
Chapter XCVII


"Kearah mana lagi kita harus pergi?" ucap Zeki menatap Danurdara.


"Ke-kesana, di-di se-sekitar sa-sana a-aku me-merasakan i-inti si-sihirnya," ucap Danurdara kembali, diangkatnya jari telunjuknya ke arah kanan.


"Kita harus segera sampai disana sebelum gelap, jadi... kita akan berlari sekuat mungkin kesana!" ucap Haruki kepada kami.


Kulangkahkan kakiku berlari mengikuti Haruki dan Danurdara yang telah jauh terlebih dahulu berlari di depan kami. Kuperhatikan sekitar, tak ada yang aneh, tak ada yang perlu di khawatirkan...


"Tuan meminta kita untuk menjaga inti sihirnya, sebenarnya apa yang ia khawatirkan." terdengar suara laki-laki mendekati kami.


Kupercepat langkah kakiku menyusul Haruki, kutarik lengannya hingga berhenti ia berlari. Berbalik dan menoleh ia ke arahku, kuangkat jari telunjuk di depan bibirku seakan memintanya untuk tenang.


Berhenti yang lainnya mengikuti langkah kakinya, kutarik lengannya untuk mengikutiku. Bersembunyi, seperti itulah yang aku bisikkan kepada mereka seraya mengarahkan jari telunjukku ke arah tanah.


Diam kami ditempat persembunyian masing-masing, kulirik dua makhluk besar yang berjalan melewati kami. Tubuhnya berwarna hijau kehitaman, dengan hidung kecil yang mendongak ke atas.


Tubuhnya dipenuhi lumpur, kutatap dua bilah pedang yang dipegang masing-masing oleh mereka. Kembali kulirik makhluk raksasa yang berjalan menjauh dan semakin menjauh dari kami.


Beranjak satu persatu keluar dari tempat persembunyiannya. Berkumpul kembali kami membentuk sebuah lingkaran...


"Ada rencana?" ucap Izumi, menatap mereka semua kepadaku.


"Tidak ada rencana, hanya bersembunyi saja agar tak ketahuan oleh mereka. Kalian sudah terlalu lelah, bertarung dengan mereka... itu sama saja dengan bunuh diri," ucapku kembali menatapi mereka.


"Kalian menjengkelkan sekali," ucapku lagi, kutatapi mereka yang masih memandangku tanpa bergeming.


"Dengarkan baik-baik!" sambungku, kulirik Julissa dan Danurdara yang tampak mengangguk berulang kali.


"Sebenarnya aku ingin kita membagi kelompok ini menjadi tiga. Satu, yang tidak memiliki dasar bertarung, aku ingin kalian bersembunyi di tempat yang menurut kalian aman..."


"Dua, aku ingin mereka yang masih memiliki banyak tenaga dan punya kebodohan menantang maut, maksudku yang punya pergerakan luwes dapat menghindari serangan musuh apapun. Aku ingin kalian menjadi umpan dan menarik jauh makhluk tadi mengikuti kalian..."


"Yang terakhir, sisanya... Kalian ikuti aku untuk mencari inti sihirnya, dan seperti itulah yang ada di pikiranku saat ini," sambungku membalas tatapan mereka.


__________________


Bersembunyi aku dibalik semak-semak dengan Haruki, Danurdara, dan juga Alvaro disampingku. Kutatap Izumi, Zeki dan juga Adinata yang tampak meregangkan tubuhnya dengan sebilah pedang di masing-masing pinggang mereka...


Suara langkah kaki bergemuruh mendekati kami, kupandangi Izumi, Zeki dan juga Adinata yang tengah berlari sekuat tenaga menghindari ayunan pedang dari dua raksasa tersebut...


Beranjak kami berempat seraya mengendap-endap mendekati sebuah gua yang dijaga dua raksasa tadi. Berpegangan kami satu sama lain di tubuhnya Danurdara...


Percikan api merah menyala di kanan dan kiri kami, mengingatkanku ketika pertama kalinya aku menemukan Kou. Kulangkahkan kakiku semakin cepat untuk mempersingkat waktu...


Berhenti aku di depan sebuah sungai lava yang menyala terang, letupan-letupan di lava itu seakan menampar nyali untuk berpikir kembali. Kuarahkan pandanganku di sebuah bola kaca berwarna merah yang diletakkan di meja batu yang berada di tengah sungai...


Berjalan aku ke sekitar seraya menggosokkan kakiku ke tanah berharap dapat menemukan petunjuk atau teka-teki apapun seperti yang pernah aku temukan di tempatnya Kou.


Kakiku terasa membentur sesuatu, berjongkoklah aku seraya menatapi bongkahan batu berbentuk lingkaran pipih yang terkubur setengah kedalam tanah.


Kuusapkan telapak tanganku ke atasnya seraya kubersihkan bekas-bekas tanah yang masih menutupi permukaannya. Kutatap lama ukiran yang ada di permukaan batu tersebut...


"Nyawa terbit, nyawa terbenam. Untuk raga, untuk harga diri. Kedepan atau kebelakang?"


Kututup kepalaku bersembunyi dari balik lengan, otakku seakan mengerut memikirkan semua kemungkinan jawaban yang ada. Beranjak aku kembali berdiri, berbalik aku seraya berjalan mendekati mereka...


Kutatap lava panas yang ada di hadapanku itu, berkali-kali tak henti-hentinya aku meneguk air ludahku sendiri. Kupandangi Haruki, Danurdara dan juga Alvaro yang masih diam menatapku...


"Aku akan masuk kedalam lava itu, aku pinta pada kalian jangan ada yang mengikuti," ucapku lagi pada mereka.


"Sa-chan!"


"Nii-chan, aku akan baik-baik saja. Tak ada yang perlu di khawatirkan, kau percaya padaku bukan?"


"Aku tidak akan membiarkanmu masuk kedalam sana," ungkap Haruki lagi, ditatapnya aku dengan kedua bola matanya yang tampak membesar.


"Tidak apa-apa, aku akan melakukan apapun untuk membawa kita semua pulang dari tempat ini."


"Nii-chan, hanya doakan saja aku," ucapku, kuraih kedua telapak tangannya seraya kurapatkan kedua telapak tangannya tadi di depan dadanya.


Berbalik aku seraya berjalan semakin mendekati lava mendidih tersebut, berdiri aku disampingnya. Letupan-letupan itu semakin menjadi-jadi ketika dilihat...


Kuangkat kaki sebelah kananku seraya kuarahkan ke atas letupan-letupan tersebut. Kututup kedua mataku, kutarik nafasku dalam-dalam... seraya melompat masuk aku kedalam lava tersebut...