
Ku tatap Lux dan juga Uki yang tertidur di ranjang Izumi, kain merah kecil yang ada di tanganku kugerakkan menyelimuti tubuh kecil mereka. Ku raih lalu ku kenakan jubah cokelat milikku yang tergeletak di samping ranjang Izumi, aku berbalik melangkah meninggalkan kamar tersebut.
Kedua kakiku bergerak semakin cepat menyusuri lorong-lorong yang ada di kapal. Sebelah tanganku kuarahkan merogoh ke dalam tas, meraih seutas kain pita yang ada di dalamnya lalu mengikatkan pita tadi pada rambutku.
Mataku sedikit tertegun saat kakiku melangkah ke luar, tak hanya Haruki, Izumi, Zeki maupun Aydin yang ada di sana. Tapi semua orang yang ada di kapal berkumpul di sana menatapi mereka berempat.
"Aku tetap akan ikut," ucap Eneas menepuk dadanya di hadapan Haruki.
"Kau harus menjaga Cia di sini, Eneas!" Ucap Haruki menatapnya dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Tuan, kau ingin berkelana ke mana? Setidaknya, ajak kami bersamamu," ucap Emre ikut memukul dadanya sendiri di hadapan Aydin.
"Aku sudah memerintahkan kalian untuk menjaga Kapal ini. Apa perintahku masih kurang jelas untuk kalian!" Bentak Aydin kepada para perompak yang berbaris di hadapannya.
"Yang Mulia," ucap seorang laki-laki diikuti beberapa laki-laki lainnya di hadapan Zeki.
"Menjengkelkan sekali, jika aku katakan... Aku akan pergi sendirian, apa kalian akan mengabaikan perintahku!" Sambung Zeki ikut membentak barisan laki-laki yang mengerubunginya.
"Sachi, ke mana kalian akan pergi?" Tubuhku sedikit terhentak saat kurasakan sesuatu meraih tanganku.
"Tidak ada, kami hanya akan kembali ke tempat sebelumnya. Ada sesuatu yang tertinggal di sana," ucapku membalas tatapan Yoona padaku.
"Nee-chan," suara Eneas terdengar kuat mendekati, aku menggerakkan kepalaku menatapnya yang telah berjalan semakin mendekati.
"Ada apa Eneas?" Ungkap ku membalas tatapannya saat dia telah berdiri menatapku.
"Aku ingin pergi bersama kalian," ucapnya dengan menepuk dadanya sendiri.
"Bukankah kau diperintahkan untuk menjaga mereka?" Ucapku berjalan mendekatinya saat kurasakan genggaman tangan Yoona di lenganku terlepas.
"Kau tahu Eneas," ucapku berbisik pelan dengan memeluknya.
"Lux dan Uki, mereka tidak bisa bangun saat ini. Kami, ingin mencari tahu penyebabnya. Kami, hanya bisa mempercayai mereka padamu. Jadi Eneas, tolong jaga mereka untukku. Hanya kau, yang dapat aku percayai, Adikku," bisikku kembali padanya, aku berjalan mundur dengan melepaskan pelukanku darinya sembari kutatap dia yang tertunduk dengan menggigit bibirnya.
"Eneas," ucapku meraih sebelah tangannya yang ia genggam kuat.
"Aku mengerti, serahkan mereka padaku," ucapnya membalas tatapanku.
"Terima kasih," ucapku melepaskan genggaman tanganku padanya, aku berbalik melangkah menjauhi mereka.
"Nee-chan," ucapnya menghentikan langkah kakiku, aku berbalik menatapnya yang mengangkat kepalanya membalas tatapanku.
"Kumohon, berhati-hatilah."
"Tentu, kau juga," ucapku tersenyum lalu kembali berjalan meninggalkannya.
Aku melangkah mendekati Haruki yang telah berdiri di samping kapal dengan Izumi yang juga telah berdiri di hadapannya. Kepalaku tertunduk saat kurasakan penutup kepala pada jubah yang aku kenakan tiba-tiba tertarik menutupi kepalaku.
Kuangkat kepalaku menatapi punggung Zeki yang telah berjalan di hadapanku. Aku kembali melangkah menyusul mereka yang telah berkumpul di samping kapal.
Aydin melangkah mendekati kami diikuti Emre dan beberapa awak kapal. Emre dan beberapa awak kapal itu meraih sebuah tali tambang yang diikatkan pada sebuah pasak kayu yang tertanam di kapal.
Aydin bergerak menaiki sebuah perahu kecil yang diikatkan oleh tali yang ditarik oleh Emre dan beberapa awak kapal tadi. Haruki dan Izumi menyusul bergantian menaiki perahu tersebut...
Aku melangkah mendekati Zeki, diangkatnya tubuhku olehnya yang disambut oleh Izumi. Izumi memeluk lalu menurunkan tubuhku di samping Haruki yang telah duduk di atas perahu kecil tadi. Kuarahkan kepalaku mendongak ke atas, kutatap Zeki yang telah bergerak menaiki perahu lalu duduk ia di hadapanku.
Perahu kecil yang kami naiki turun perlahan hingga menapaki air laut. Aydin mengarahkan dua buah dayung kayu dengan sebelah tangannya ke arah Zeki dan juga Izumi sedangkan sebelah tangannya yang lain memegang sebuah kertas kecil di tangannya.
Izumi meraih sepasang dayung yang ada di tangan Aydin sembari diberikannya dayung yang satunya lagi kepada Zeki. Perahu kecil yang kami naiki bergerak saat Aydin mengarahkan telunjuknya ke arah kanan.
Kapal kecil yang kami naiki bergoyang terombang-ambing di luasnya laut, bahkan ketika aku berbalik ke belakang... Kapal besar milik Aydin sudah tak terlihat lagi sejauh mataku memandang.
"Lihatlah ke sana!" Ucap Izumi mengarahkan jari telunjuknya ke kiri.
Aku menggerakkan kepala mengikuti arah yang Izumi tunjukkan. Kedua mataku membesar, menatap takjub pada pandangan yang terhampar di hadapan kami. Jika kalian melihat pasir di pantai, kalian akan menganggapnya biasa saja bukan? Tapi bagaimana jika yang berbatasan dengan laut tempat kau berlayar adalah sebuah gurun pasir.
Bukan hanya itu, aku pun baru tersadar jika tak ada sedikit pun ombak yang menggoyangkan kapal ini saat jarak pandangan kami dan daratan pasir tersebut tak terlalu jauh.
Perahu kecil yang kami naiki kembali bergerak mendekati gurun tersebut. Kugenggam lengan pakaian Haruki yang duduk di sebelahku saat pandanganku tiba-tiba mengabur, entah darimana? Kabut tebal ini tiba-tiba datang menyelimuti kami.
"Izumi, apa kau melihat sesuatu?"
"Aku tidak melihat apapun, lebih tepatnya... Aku, tidak bisa melihat apapun," ucap Izumi menjawab perkataan Haruki padanya.
"Pegangan yang kuat!" Teriak Aydin saat perahu yang kami naiki tiba-tiba bergoyang hebat.
Tubuhku terpelanting ke samping, aku tidak dapat melihat apapun... Tapi yang pasti, di dalam air... Aku sedang berada di dalam air.
Kugerakkan tubuhku berenang ke atas, kutarik napas sekuat tenaga saat kurasakan batas air yang menenggelamkan aku sebelumnya berakhir. Kugerakkan tangan dan kakiku bergerak agar tak tenggelam...
"Nii-chan?"
"Zeki?"
"Aydin?" Ucapku berulang-ulang memanggil nama mereka.
Apa yang terjadi? Aku, tidak bisa melihat apapun. Kemana kedua Kakakku? Kemana Zeki? Dan juga Aydin...