Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXIV


"Siapa dia?" bisik Haruki di samping telingaku, kujawab pertanyaan darinya dengan gelengan pelan kepalaku.


"Apa kalian pendatang?"


"Jika benar, ikutlah bersamaku. Semua penginapan di kota ini tidak akan aman untuk kalian tempati," ucapnya lagi seraya melangkahkan kakinya semakin mendekati.


"Siapa kau?" suara Izumi ikut menimpali.


"Niel, aku pemimpin kota ini," ucap laki-laki berwajah cantik tersebut.


"Pemimpin? Apa kau bercanda?"


"Apa aku terlihat bercanda sekarang? Aku hanya membiarkan diriku sendiri tertangkap untuk membasmi mereka," ucapnya menjawab perkataan yang dilontarkan Izumi padanya, diarahkannya telapak tangan kanannya ke belakang lehernya seraya digerakkannya kepalanya ke kanan dan ke kiri bergantian.


Laki-laki bernama Niel tadi berjalan melewati kami, kualihkan pandanganku membalas lirikannya yang mengarah padaku. Pandangan mataku kembali teralihkan saat kurasakan tarikan pelan di pergelangan tanganku...


"Apa kita akan mengikutinya?" Bisikku pada Haruki, dibalasnya bisikan dariku oleh anggukan pelan yang ia lakukan.


Aku membalikkan tubuh berjalan mengikuti Izumi yang telah berjalan mengikuti langkah kaki Niel tadi. Langkah kakiku melangkah berjalan melewati penjara kayu yang mengurung tadi...


Kualihkan pandanganku menatap Daisuke yang juga telah berjalan di belakangku, sedangkan Eneas sendiri berjalan di sampingku. Tinggi tubuhnya sama tingginya dengan pundakku sekarang, jauh sekali saat pertama kali kami bertemu dahulu...


"Nee-chan, apa kau baik-baik saja?" ucapnya, kualihkan pandanganku menatapnya yang juga telah menatapku.


"Aku baik-baik saja, hanya mungkin sedikit kelelahan," ungkapku tersenyum dengan sebelah tanganku menepuk-nepuk pelan kepalanya.


Keadaan sekitar kembali menerang, sinar bias-bias yang dihasilkan oleh obor membuat pandangan di sekitar sedikit terlihat. Pandangan mataku terjatuh pada tumpukan mayat yang berbaris rapi terbaring sepanjang jalan...


Beberapa dari mereka hancur kepalanya dengan darah menggenang membanjiri ruangan. Bau amis khas darah mengaduk-aduk isi perutku, menarik-narik isi kepalaku, membuatku ingin cepat-cepat meninggalkan tempat ini.


Angin bertiup menerbangkan sedikit rambut cokelatku yang setengah tergerai. Kugerakkan kepalaku menatap kuda putih milikku yang tengah berdiri bebas bersama dengan kuda milik kedua kakakku, Eneas maupun Daisuke di bawah sebuah pohon besar.


"Nii-chan, dimana kita sebenarnya?" bisikku pada Haruki yang tengah melangkahkan kakinya di sampingku.


"Di hutan, kami mengikuti arahan Lux untuk sampai ke sini," jawab Haruki mengarahkan pandangannya menatapku.


"Apa kau tidak mengingat apapun?" ucapnya lagi padaku.


"Terakhir kali yang aku ingat itu, saat laki-laki berjubah tersebut tiba-tiba menyerangku di dalam kamar. Dan dia juga mengatakan, kalau penginapan yang kita tempati adalah milik ketuanya," ungkapku seraya kuarahkan pandanganku ke atas menatapi langit.


"Aku pikir aku akan mati saat laki-laki berjubah tersebut mencekik leherku," sambungku seraya kuarahkan telapak tanganku memegang pelan leherku.


"Kami telah mencarimu selama dua hari penuh, saat Lux tiba-tiba merasakannya sihir Kou. Kami semua langsung pergi mengikutinya," ungkap Izumi kembali tanpa menoleh padaku.


Langkah kakiku bergerak mengikuti langkah kaki Izumi dan Niel yang berjalan di depan kami tanpa bersuara. Kuarahkan kedua kakiku melangkah semakin mendekati kuda putih yang telah aku rawat sejak beberapa tahun yang lalu itu.


"Aku meminjam salah satu kuda kalian," ucap Niel, kugerakkan tubuhku berbalik menatapnya yang telah menghentikan langkah kakinya.


"Apa kau bisa berkuda?"


"Tentu, jangan meremehkanku," ucapnya menimpali perkataan Daisuke yang diarahkan padanya sebelumnya.


"Sa-chan, pinjamkan kuda milikmu padanya. Kau ikut denganku," ikut terdengar suara Haruki, kepalaku bergerak mengikuti suara derap langkah kaki yang pelan mendekati.


"Aku mengerti. Jangan kasar-kasar pada kudaku, atau aku akan membunuhmu," ucapku mengarahkan pandangan menatap Niel seraya kuarahkan tubuhku berjalan mendekati Haruki yang telah duduk di atas kuda miliknya.


Berdiri aku di samping kuda yang Haruki tunggangi, langkah kakiku semakin bergerak mendekati pijakan besi yang tergantung di samping tubuhnya. Kugerakkan tubuhku menaiki kuda tersebut seraya kuarahkan kedua lenganku melingkar di pinggang Kakakku itu...


Kuda yang ditunggangi Haruki bergerak perlahan, terasa semakin cepat dan semakin cepat melaju ketika kuda tersebut bergerak maju sedikit condong ke depan menuruni bukit.


Kugerakkan kepalaku sedikit menyamping, kedua mataku terjatuh pada Niel yang tampak fokus menunggangi kuda milikku. Rambut hitamnya yang panjang tampak selaras dengan kulit putih bersih yang ada padanya...


Bahunya tak sebidang kedua Kakakku maupun Zeki, karena itulah... Aku sempat terkejut ketika dia memperkenalkan diri sebagai seorang laki-laki...


Ikemen? Bukan, Bishounen yang benar-benar mengagumkan.


"Apa? Apa yang kau lihat dariku?" ucapnya menolehkan pandangannya menatapku.


"Apa kau yakin laki-laki? Atau mungkin kau sedang menyamar sepertiku?" ungkapku membalas perkataannya.


"Jika kau membahasnya sekali lagi," ucapnya seraya menatapku dengan sinis.


"Ke arah mana lagi kita selanjutnya," terdengar suara Daisuke, kuarahkan pandanganku beralih padanya yang telah menghentikan langkah kaki kuda yang ia tunggangi.


"Ke Istanaku, aku hanya harus sampai ke Istanaku. Aku tidak bisa membiarkan para sialan itu bermain-main di wilayah kekuasaanku begitu mudahnya," ucap Niel, digerakkannya kuda putih yang ia tunggangi mendekati Daisuke seraya sebelah tangan kanannya terangkat menunjuk ke arah sisi kanan kami.


"Apa kau yakin, kami semua akan aman saat berada bersamamu?" sambung Daisuke menatapnya.


"Aku akan menjamin keselamatan kalian semua, sebagai ucapan terima kasihku karena telah membantu rencanaku secara tak langsung," ungkap Niel membalas perkataan Daisuke.


"Baiklah, kami menyetujuinya. Akan tetapi, jika kau berani mengkhianati kami... Akan kupastikan, Istana berserta wilayah kekuasaanmu hancur di bawah kendali kami langsung," ucap Haruki, menutup pembicaraan di antara mereka.