Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXV


"Zeki, jangan hanya diam berdiri. Cepat cari sesuatu untuk dijadikan dayung," ucap Aydin sembari berjalan tertunduk menatapi pasir yang ada di sekitar kakinya.


"Aku telah menemukannya satu," ucap Zeki berdiri dengan sebelah tangannya memegang pinggang.


"Benarkah?"


"Maksudku, kenapa kalian membuang-buang waktu mencarinya jika kita dapat langsung membuatnya dari badan perahu yang ada...".


"Aku benar bukan?" Sambungnya menatapku saat Haruki, Izumi dan juga Aydin diam tak membalas perkataannya.


"Kau benar," ucapku membalas tatapannya, kugerakkan kepalaku menunduk di antara kedua kakiku sembari aku, berusaha sekuat mungkin menahan tawa karenanya.


_______________________


"Aydin, apa kau tahu ke arah mana kita akan pergi?" Ucap Izumi sembari mendayung perahu dengan sebuah papan berukuran sedang di tangannya.


"Melihat matahari terbenam... Dan juga arah angin," ucap Aydin menggerakkan pandangannya ke atas.


"Kita akan pergi ke sebelah sana," sambungnya sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah kanan.


Perahu yang kami naiki bergerak pelan berbelok ke kanan, kutatap Zeki dan juga Izumi yang tampak dipenuhi keringat dengan kedua tangan mereka tak henti-hentinya bergerak mendayung perahu.


"Melihat laut, aku merasa tak perlu bersusah payah mencari air minum seperti di padang pasir itu," ucap Zeki sambil tetap menggerakkan papan yang ia genggam.


"Lalu, kenapa tak kau minum saja sekalian airnya," ucap Aydin sembari mengangkat telapak tangannya ke atas.


"Air laut tidak bisa langsung diminum," bisikku pelan di telinga Zeki.


"Benarkah? Aku tahu jika air laut rasanya asin, tapi bukankah air tetaplah air," ungkapnya menoleh menatapku.


"Ketika meminumnya, bukannya akan menghilangkan haus, kau akan semakin haus. Jadi, usahakan jangan meminumnya apapun yang terjadi, kecuali jika kau mempunyai kepintaran yang dapat mengolahnya," ucapku menundukkan kepala di atas kedua kakiku yang ditekuk.


_____________________


"Sa-chan, bangunlah," suara Haruki kembali mengetuk telinga, kubuka dengan perlahan mataku saat kurasakan sentuhan-sentuhan berulang di pipi.


"Apa kita sudah sampai?" Ucapku mengangkat kepala menatapi Haruki.


"Lihatlah," ucap Haruki menunjuk ke arah kanan tubuh kami, aku berbalik menatap sebuah kapal besar milik Aydin yang terombang-ambing di lautan.


Perahu yang kami naiki semakin cepat mendekati kapal besar itu, berkali-kali Aydin berteriak memanggil nama Emre dan beberapa nama orang lainnya.


"Tuan!"


Teriakan riuh tersebut terdengar kuat dari atas kapal saat perahu kami semakin bergerak mendekati mereka. Aydin berdiri dengan tangannya meraih seutas tali yang terlempar dari atas kapal...


"Putri, naiklah terlebih dahulu," ucap Aydin menggerakkan telapak tangannya ke arahku, aku berdiri saat kurasakan Haruki menepuk pelan punggungku.


Langkah kakiku berjalan melewati Zeki dan juga Izumi yang duduk di depan kami. Kuraih tali yang diberikan Aydin sebelumnya sembari kugenggam dengan sangat kuat tali tersebut.


"Tarik!" Teriak Aydin dengan kuat di sampingku.


Tubuhku tiba-tiba terangkat ke atas, tali yang aku genggam bergerak naik ke atas. Ku tatap Haruki, Izumi, Zeki dan juga Aydin yang tengah memperhatikan dari bawah...


"Putri," suara Emre membuatku mengalihkan pandangan menatapnya, kuangkat tanganku meraih telapak tangannya.


Emre mengangkat tubuhku ke atas kapal, aku berbalik berjalan ke belakang berusaha memberikan ruang untuk mereka berkerja. Kepalaku menoleh, kutatap Eneas yang tengah menggendong Cia...


Aku berjalan mendekati mereka, Cia langsung mengarahkan telapak tangannya ke arahku saat aku semakin dekat melangkah ke arah mereka. Kupeluk dengan erat tubuh Cia yang telah berada di gendongan ku tadi...


"Syukurlah kalian baik-baik saja," ucapnya melepaskan pelukan lalu menatapku.


"Apa kau baik-baik saja Yoona?" Ungkap ku yang dibalas anggukan kepala darinya.


"Syukurlah, aku sempat khawatir karena meninggalkanmu diantara mereka," ucapku kembali padanya.


"Mereka semua memperlakukan aku dengan baik."


"Benarkah? Itu berarti Aydin mengajar semua awak kapal miliknya dengan baik," ucapku mengalihkan pandangan pada Haruki, Izumi, Zeki berserta Aydin yang telah berdiri di tengah-tengah laki-laki yang mengerumuni mereka.


"Rasanya sudah lama sekali aku meninggalkanmu Cia," ucapku seraya kucium pipinya berulang-ulang saat dia mengangkat kepalanya menatapku.


"Kalian hanya pergi sehari, tapi ketika dia tahu kau tidak ada... Seisi kapal disibukkan oleh tangisannya," ucap Yoona ikut menggerakkan telapak tangannya menyentuh kepala Cia.


"Sehari?" Tanyaku, Yoona kembali menganggukkan kepalanya.


Jadi, berapa lama selisih waktu di sini dan di sana?


Aku menggerakkan kepalaku ke atas saat kutatap orang-orang yang berada di kapal juga melakukan hal yang sama. Seekor burung berukuran sedikit besar terbang mengitari kapal...


Burung tersebut terbang merendah lalu hinggap di pundak Aydin, semua awak kapal yang mengelilingi Aydin berebut mempertanyakan perihal burung yang ada di pundaknya.


"Itu burung pemberian dari Ratu Alelah," ucap Zeki yang telah berdiri di sampingku.


"Ratu yang memberikannya?" Tanyaku sembari melangkahkan kaki berbalik mengikutinya yang telah berjalan mendekati pintu.


"Saat kau tak sadarkan diri, Haruki membuat perjanjian dengan Ratu. Jadi, untuk mempermudah hubungan sekutu, Haruki meminta Ratu memberikan suatu hewan yang dapat digunakan untuk memberikan kabar kepada mereka..."


"Berhubung Aydin menghabiskan seluruh hidupnya di lautan, jadi burung tersebut... Aydin yang akan memeliharanya," ucapnya menghentikan langkah kaki lalu berbalik menatapku.


"Apa kau lelah? Aku dapat menggendongnya jika kau lelah?" Ucapnya berjalan mendekat.


"Aku hanya akan membawanya ke kamar, aku pikir dia tak bisa tidur nyenyak karena aku tiba-tiba meninggalkannya," ucapku berjalan melewatinya, langkah kakiku terhenti di depan kamarku.


"Kau yakin?" Ucapnya yang berjalan mendekat, diraihnya gagang pintu kamar sembari dibukanya pintu tersebut olehnya.


"Apa yang kau maksudkan?" Ucapku sembari berjalan mendekati ranjang, kuarahkan tubuh Cia yang tertidur berbaring di atas ranjang tersebut.


"Ada apa?" Ucapku kembali sembari kugerakkan tubuhku duduk di samping ranjang.


"Darling," ucapnya yang duduk berlutut di hadapanku, diarahkannya kepalanya bersandar di atas pahaku.


"Kau kenapa?" Ungkap ku yang dibalas oleh helaan napasnya yang kuat terdengar.


"Zeki," ucapku kembali sembari ku sentuh-sentuh pipinya menggunakan jari telunjukku.


"Apa kepalamu hanya terisi oleh ilmu menyelematkan hidup saja?" Ucapnya tanpa mengangkat kepalanya.


Aku menghela napas dalam menatap tingkahnya, kuarahkan telapak tanganku menyusuri rambutnya. Aku menundukkan kepala, kucium pipi Zeki hingga ia menatapku dengan tatapan tak percaya saat aku mengangkat kepalaku kembali.


"Bolehkah aku menciumnya?" Ungkapnya mengarahkan ibu jarinya mengusap bibirku.


"Saat kembali ke Kerajaan, aku akan berhadapan dengan tugas yang bertumpuk sebagai Raja. Jadi bisakah, aku mendapatkan semangat dari calon isteri ku?" Ucapnya mengarahkan wajahnya semakin mendekat.


"Aku mengerti," ucapku menutup mata, kurasakan jari-jemarinya menyentuh pipiku. Kepalaku sedikit terangkat ke atas saat embusan udara hangat yang ia keluarkan menyentuh kulit wajahku.