Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXII


"Kepalaku. Kepalaku rasanya sakit sekali," ucapku pelan seraya kugerakkan kedua mataku yang masih berbayang saat terbangun tadi.


Aku tertegun sesaat ketika mencoba menggerakkan tubuhku tapi tak berhasil, tanganku tak bisa digerakkan... Kuarahkan jari-jemariku merangkak naik mendekati pergelangan tanganku...


Apa ini? Tali?


Aku menggerakkan tubuh berbalik, kepalaku sedikit terangkat saat luka di pundakku kembali menyentuh lantai. Rasa dingin yang dihasilkan oleh lantai seakan menambah rasa sakit yang menusuk lukaku itu.


Kugerakkan tubuhku sedikit menyamping sembari kuarahkan sebelah pundakku yang tak terluka menyentuh lantai. Kuarahkan tubuhku semakin menyentuh dan menekan lantai, tubuhku perlahan-lahan kembali beranjak duduk...


Kuarahkan pandanganku ke sekitar, tatapan mataku terhenti pada seorang perempuan berambut panjang yang duduk bersandar di sudut ruangan dengan kepala tertunduk. Kugerakkan kembali kepalaku menatapi jeruji kayu yang membatasi kami dengan seorang laki-laki yang tengah duduk di kursi menatap kami dari arah seberang.


Kugerakkan kedua kaki membantuku untuk beranjak seraya kuarahkan pandanganku menghindari tatapan laki-laki paruh baya tersebut. Kugerakkan tubuhku berbalik dan berjalan mendekati perempuan berambut panjang tadi.


Duduk aku disampingnya, lama kutatap perempuan tersebut yang masih tertunduk tak bergeming. Kugerakkan kaki kananku mendekat dan menyentuh kaki perempuan tersebut, kembali kulakukan hal tersebut... Dia masih tak bergeming.


Perempuan tersebut mengangkat wajahnya, bahkan di gelapnya ruangan tatapan matanya yang tajam masih tampak jelas terlihat. Dia menatapku tanpa mengeluarkan sepatah katapun...


"Apa kau baik-baik saja?" ucapku berbisik saat dia kembali menundukkan kepalanya.


"Jawab aku," ungkapku seraya kembali kugerakkan kakiku menyentuh dan menendang-nendang kecil kakinya.


Perempuan tersebut masih tak bergeming, wajahnya masih tertunduk seperti sebelumnya. Kugerakkan tubuhku bersandar di dinding, tanganku yang terikat ke belakang ikut terbenam bersamaan tubuhku yang bersandar...


"My Lord," terdengar suara Kou melintas di pikiranku.


"Kou?"


"Panggil aku, My Lord. Aku akan menghancurkan merek semua yang telah berani melukaimu," ucapnya kembali melalui pikiranku.


"Aku tidak..."


"Apa suaraku mengganggumu? Kau bisa mengabaikan aku, jangan pedulikan keberadaanku. Aku akan menjauhkan tubuhku agar tak mengganggu," ungkapku mengarahkan pandangan menatapnya saat tersadar dia menatapku lama dari tempat duduknya.


"Kou, apa kau masih mendengarkan?" ungkapku dengan suara berbisik sangat pelan.


"My Lord, apa kau memikirkan suatu rencana?"


"Apa kau bisa merasakan keberadaan Lux?" tanyaku lagi padanya.


"Aku bisa merasakannya, sihir yang tak stabil. Mungkin dia telah mengetahui jika kau menghilang," ucap Kou lagi padaku.


"Cepat panggil aku, My Lord... Aku akan langsung membekukan mereka yang telah mencoba menyakitimu," sambungnya lagi padaku.


"Aku tidak akan memanggilmu. Tidak untuk sekarang, jika aku memanggilmu... Aku mungkin akan kehilangan bukti atau petunjuk yang sangat penting disini," ungkapku menimpali perkataannya.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan?"


"Bisakah kau memperkuat sihirmu Kou, perkuat hingga Lux bisa merasakan keberadaan dirimu sejauh apapun itu," ucapku menimpali perkataannya.


"Kau ingin sihirku memancing Lux untuk datang menemukanmu?"


"Seperti yang diharapkan dari Naga yang aku rawat, kau cepat sekali mengerti jalan pikiranku Kou. Bagaimana? Apa kau bisa melakukannya?" ungkapku lagi dengan nada suara sangat pelan.


"Sesuai perintah darimu, My Lord. Aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan," ucap Kou kembali padaku.


"Terima kasih, aku mengandalkanmu, Kou."


"Maaf, bisakah kau menolongku?" ungkapku kembali seraya kuarahkan pandanganku menatap perempuan tadi.


"Kumohon," sambungku kembali saat dia mengangkat sedikit wajahnya menatapku.


Kuarahkan pandanganku menatap ke arah kakinya yang diangkatnya hingga ujung jari-jari kakinya menyentuh lantai. Lama kutatap kaki kanannya itu yang bergerak-gerak perlahan di atas lantai membentuk sebuah huruf.


"A-p-a, Apa?"


"Aaahh, bisakah kau membuka ikatan ku. Aku berjanji akan membawamu kabur bersamaku dari penjara ini," sambungku pelan sembari kembali kugerakkan wajahku menatapinya.


"B-e-r-b-a-l-i-k, Berbalik? Kau memintaku berbalik?" ucapku lagi saat pandangan mataku kembali beralih pada kaki kanannya, mengangguk ia menjawab perkataanku yang terlontar pelan padanya.


Kugerakkan tubuhku bergeser mendekatinya, duduk aku membelakangi perempuan tadi. Kuarahkan pandangan mataku menatap penjaga yang tertidur mengawasi kami...


Tubuhku terhentak saat suatu benda lembut disertai udara hangat menyentuh pergelangan tanganku. Udara hangat tersebut menjalar memenuhi pergelangan tanganku yang terikat kuat.


"Sakit," ucapku pelan saat kurasakan gigitan kecil menyentuh pergelangan tanganku yang terikat tadi.


Pandangan mataku masih menerawang jauh menatapi penjaga yang tertidur duduk di atas kursinya, sesekali kepalanya terjatuh ke samping lalu berdiri tegak kembali walaupun matanya masih terpejam.


Kugerakkan kepalaku menoleh sedikit ke arah belakang tatkala ikatan pada lenganku terlepas. Kugerakkan kedua lenganku tadi ke depan, lama kutatap bekas-bekas merah yang mengelilingi pergelangan tanganku tadi.


"Aku akan melepaskan ikatan mu. Berbaliklah!" ucapku berbisik seraya kugerakkan tubuhku menatapnya yang tengah duduk bersandar.


"Cepatlah! Bantuan akan segera datang," ucapku lagi padanya, beranjak aku mendekati seraya kuarahkan telapak tanganku menyentuh pundaknya.


Kudorong tubuhnya pelan ke samping, tubuhnya bergerak pelan mengikuti dorongan yang aku lakukan. Kuarahkan wajahku mendekati ikatan yang mengikat pergelangan tangannya...


Kedua tanganku bergerak mendekati ikatan tadi, menoleh aku menatapi pergelangan kaki kananku seraya kuarahkan telapak tanganku meraihnya. Kugerakkan telapak tanganku tadi menyusuri bagian dalam celana yang aku kenakan di pergelangan kakiku itu...


Sebuah pisau kecil keluar bersamaan dengan telapak tanganku tadi. Kuarahkan pisau kecil tadi pada ikatan tali yang mengikat pergelangan tangannya, pisau tersebut bergerak naik-turun menggesek dan memotong perlahan tali tadi...


"Aku berhasil memotongnya," ucapku berbisik pelan seraya kugerakkan kedua tanganku membuka tali yang masih melilit pergelangan tangan perempuan tadi.