Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLIV


Kami memutuskan kembali, aku berjalan lalu duduk dengan pandangan mataku yang masih mengarah pada gubuk kakek itu. Pandangan mataku beralih pada anak laki-laki yang masih lelap tertidur di samping Izumi. Aku meluruskan kedua kaki diikuti kedua tanganku yang bergerak ke belakang menumpu tubuh, “apa ini ada hubungannya dengan Kaisar,” ucapku setengah berbisik kepada Haruki yang ada di samping.


“Entahlah. Ada atau tidaknya, kita tidak boleh menurunkan kewaspadaan. Beristirahatlah, aku dan Izumi akan menjaga kalian,” ucap Haruki, dia mengangkat tangannya mengusap kepalaku.


____________________


Aku beranjak duduk saat kurasakan tepukan di lengan beberapa kali menyentuh, kepalaku tertunduk diikuti mulutku yang tak berhenti menguap karena kantuk, “berdirilah, kakek itu ingin mengajak kita berkeliling,” ucap Haruki pelan sambil mengarahkan telapak tangannya ke arahku.


Aku mengangkat wajahku lalu meraih tangannya itu, tubuhku beranjak berdiri di hadapannya saat Haruki menarik telapak tanganku tersebut. “Dia ingin mengajak kita ke mana?” Aku balas berbisik ketika Haruki melepaskan genggamannya lalu berjalan melewatiku.


Haruki menggelengkan kepalanya, kedua kakinya terus berjalan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Aku mengerutkan kening menatap punggungnya, kedua kakiku mengikuti langkahnya berjalan saat kedua mataku melirik ke arah Izumi yang juga telah terlebih dahulu berjalan meninggalkan kami.


Aku melirik ke ujung kiri mataku saat kurasakan sesuatu menyentuh leher lalu hinggap di pundakku. Kuangkat kedua tanganku merapikan rambutku yang tergerai agar tidak ada seorang pun yang sadar akan keberadaan Lux. Pandangan mataku kembali beralih menatap lurus ke depan, ke arah anak laki-laki itu yang sesekali menghadap ke belakang menatapi kami bergantian.


Semakin lama kami berjalan, semakin itu juga terdengar suara riuh yang kian mendekat. Langkah kakiku terhenti saat kurasakan rangkulan yang membekap kepalaku, “jangan terlalu jauh,” bisik Haruki diikuti kepalaku yang semakin terdorong mendekati pundaknya.


“Apa ada sesuatu di sana, nii-chan?” Aku balas berbisik, kedua kakiku perlahan bergerak mengikuti langkahnya.


“Tempat ini, lebih buruk dari yang aku duga,” bisik Haruki kembali saat kepalaku berusaha menoleh ke sekitar.


Kedua kakiku terhenti, dadaku berdegup menahan amarah setelah pandangan mataku telah menangkap keadaan sekitar. Aku tertegun, kugigit kuat bibirku saat mataku terjatuh pada seorang anak perempuan yang digantung terbalik di samping seorang perempuan paruh baya yang diperlakukan sama. Aku melirik ke arah kiri, menatap Haruki ketika tangannya yang mencengkeram pundakku itu semakin menguat.


Aku tertunduk lalu berjalan kembali mengikutinya tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun, ‘tujuan kita, hanya menghanucurkan akar kepemimpinan mereka. Jangan merusak rencana, hanya karena kalian merasa kasihan oleh sesuatu yang kalian temui di sepanjang perjalanan. Itu perintah dariku sebagai kakak kalian, jadi jangan membantah apa yang aku katakan,’ perkataan Haruki semalam benar-benar masih teringat jelas di kepalaku.


‘Menolong orang yang kami temui selama perjalanan hanya akan menghancurkan semua rencana yang akan kami lakukan.’ Untuk dibantah pun, kata-kata yang Haruki ucapkan memang benar adanya. Jika kami menolong sekarang, kami akan menjadi pusat perhatian, membuat musuh waspada … Sama saja dengan menggali lubang kubur kami semua, terutama ini adalah wilayah kekuasaan mereka.


Dunia sialan! Untuk berbuat baik pun, kami harus berpikir ribuan kali terlebih dahulu untuk melakukannya. Aku akan membentuk dunia baru, dengan kematian Kaisar sebagai awalnya. Aku bersumpah, pada diriku sendiri.


“Kakek, kakek ingin membawa kami ke mana?!” Izumi meninggikan suaranya di samping kakek itu.


“Kakek ingin membawa kami ke mana?!” Aku menggigit pelan bibirku, mataku melirik ke sekitar, ke arah orang-orang di sekitar yang telah terdiam menatap ke arah kami karena suara keras yang Izumi keluarkan.


“Oh, kakek ingin meminta bantuan kalian untuk membawa air dari rumah majikan!” Lagi-lagi kakek tersebut berbicara meninggi hingga lirikan-lirikan tajam oleh orang sekitar mengarah kepada kami.


“Ka-”


“Izumi!” Haruki memotong perkataan Izumi diikuti kedua matanya yang melirik ke sekitar.


Izumi ikut melirik ke sekitar, “aku mengerti,” ucapnya kembali terdiam, dia berbalik lalu melangkahkan kakinya meninggalkan kakek itu.


Aku kembali melangkah saat rangkulan tangan Haruki sedikit mendorong tubuhku ke depan, “aku menginginkan rambut panjangnya,” aku melirik tajam ke arah dua pasang laki-laki yang berbisik ketika aku dan Haruki berjalan melewatinya.


“Abaikan mereka. Mereka hanya tikus yang dapat kita bunuh dengan mudah,” aku mengangkat wajahku menatapnya yang masih mengarahkan pandangannya ke depan, saat suara Haruki terdengar pelan di telinga.


“Irgo!” Teriakan seseorang kuat terdengar, pandangan mataku melirik ke arah kakek yang telah menghentikan langkah kakinya menatap seorang laki-laki. Keningku mengerut saat laki-laki itu menunjuk ke arahku dengan kata-kata yang tidak aku mengerti, aku semakin kuat mengepalkan tanganku sendiri ketika kakek itu menimpalinya dengan suara tawa yang keluar keras dari mulutnya.


“Kendalikan dirimu.” Aku menarik napas dalam lalu mengembuskannya kembali saat Haruki kembali bersuara.


Langkah kaki kami kembali berlanjut, aku menoleh ke belakang, menoleh ke arah Pasar yang sebelumnya kami lewati itu kian menghilang. Semakin lama kami melangkah, jalan yang kami lalui semakin bersih tanpa batu kerikil sedikit pun di sekitarnya … Sangat berbeda jauh, dengan tanah di pasar yang terdapat bebatuan mencuat di sepanjang jalan.


Makin lama, makin banyak kereta kuda berseliweran melewati kami. Kami semua menghentikan langkah saat salah satu kereta berhenti di samping, aku melirik ke arah kakek itu yang maju mendekati pintu kereta lalu bersujud di dekatnya. Kusir yang membawa kereta itu turun, dia berjalan mendekati pintu lalu membukanya.


Seorang laki-laki, mungkin seumuran dengan Ayah, keluar dari dalam kereta saat pintu itu terbuka. Kakek yang bersujud, merangkak mendekati kaki laki-laki itu lalu menciumi kedua sepatu yang laki-laki itu kenakan. Laki-laki itu mengenakan pakaian mewah berwarna hitam dengan sulaman benang emas yang memenuhinya, dia melirik ke arah kami bergantian diikuti kedua jarinya yang tak henti-hentinya menggosok kumis tipis yang ada di atas bibirnya.


Pandangan mataku beralih pada cucu kakek itu yang telah ikut bersujud, bahkan dari tempatku berdiri sekarang … Aku ikut merasakan ketakutan yang menyelimuti tubuhnya itu. Aku kembali melirik ke arah laki-laki itu yang telah melangkahkan kakinya mendekati kami berdua, ikut kurakan … Genggaman tangan Haruki di pundakku terlepas saat laki-laki itu semakin mendekati.


Dia berhenti di hadapan kami, sebelah tangannya terangkat mengapit kedua pipi Haruki lalu digerakkannya wajah Haruki ke kanan dan ke kiri. Kedua mataku membelalak ketika dia tiba-tiba meludahi wajah Haruki, “wajahmu, terlalu berlebihan untuk seorang rendahan!” Bentak laki-laki tersebut saat tangannya menampar kuat wajah kakakku itu.