Fake Princess

Fake Princess
Chapter XCIV


"Kalian sedang tidak bercanda bukan?" ucap Alvaro menatapi kami.


"Kalian membunuh ular raksasa?" sambung Alma ikut bertanya.


"Kalau tidak begitu, bagaimana caranya kami mendapatkan makanan," ucap Zeki tanpa menoleh sedikitpun.


Beranjak aku berdiri meninggalkan mereka, kulangkahkan kakiku mendekati pohon yang tumbuh tak jauh dari tempat kami menghidupkan api unggun. Duduk aku dibawah pohon seraya kusandarkan punggungku disana...


Kubuka kembali mataku, kutatap Adinata, Haruki dan juga Izumi yang masih duduk berjaga. Menoleh aku ke sebelah kiri tubuhku, tampak sebuah kulit dengan bercak debu berada tepat di hadapanku...


Kuarahkan pandanganku ke atas, terlihat Zeki yang tengah menatap lurus kedepan. Kuangkat kepalaku yang bersandar di pundaknya, menatap aku lurus kedepan seperti yang ia lakukan.


"Kau telah bangun?" ucapnya.


"Seperti yang kau lihat," jawabku.


"Apa terjadi sesuatu padamu?"


"Apa maksudmu?" ucapku balik bertanya.


"Apa aku melakukan kesalahan?"


"Tidak ada, tidak ada yang melakukan kesalahan."


"Kau sempat bertanya padaku bukan? Apa keinginan dan doaku saat ini?"


"Apa kau telah menemukannya?"


"Entahlah, aku masih belum terlalu yakin. Hanya saja, jika aku telah yakin, kau akan jadi yang pertama mengetahuinya," balasnya, disandarkannya kepalanya ke pundakku.


"Kau terlalu banyak berbicara hari ini, beristirahatlah. Perjalanan kita masihlah panjang," ucapku padanya.


"Kau semakin kehilangan berat badanmu, ini baru empat hari," ucapnya, kulirik ia yang masih memejamkan matanya.


"Bukankah itu bagus?"


"Aku lebih suka bersandar di pundakmu yang dulu. Kau harus makan yang banyak, jika kita semua telah keluar dari hutan ini."


______________


"Kita sudah tidak punya waktu lagi, ini sudah hari kelima," ucap Haruki.


"Apa kau dapat merasakan sihir yang paling kuat di hutan ini, Danur?" sambungku menatapi Danurdara.


"A-aku ti-tidak te-terlalu me-merasakannya," ucap Danurdara balas menatapku.


"Aahh Lux, aku membutuhkanmu sekarang," ucapku, kututup seluruh wajah menggunakan telapak tanganku.


"Lux?" ucap Julissa.


"Pangeran kecilku, obat-obatan yang aku bawa juga semuanya ia yang buat," jawabku sambil tetap menutup wajahku.


"Tidak ada yang tidak bisa ia lakukan, andaikan ia sekarang ada disini," ucapku lagi.


"Apa dia tampan?"


"Tentu saja, dia seorang Pangeran. Bagaimana mungkin ia tidak..." ucapku terpotong, kuangkat kepalaku seraya menatap Zeki yang berbicara tadi.


"Apa kalian berdua sangat akrab?" tanyanya lagi.


Tidak bisakah kau menutup mulutmu, Izumi. Kenapa? kenapa juga aku harus merasa bersalah seperti ini?"


"Heh begitukah?" ucapnya tersenyum menatapku.


"Apa aku mengatakan sesuatu?" ucapku mengalihkan pandangan darinya.


"Kau membicarakan betapa hebatnya Pangeran yang bernama Lux itu," sambung Adinata, menoleh aku ke arahnya yang langsung mengalihkan pandangannya seraya menahan tawa.


"Aku tidak mengerti, apa ada yang salah dengan perkataannya?" ungkap Alma menatapi kami satu persatu.


"Tidak ada yang salah, hanya saja Zeki tidak lain ialah tunangannya Sachi," jawab Adinata kembali membuang pandangannya dari tatapanku.


"Aku ingin sekali bertemu dengannya," bisik Zeki pelan di telingaku, mengangguk aku membalas bisikannya itu.


"Jadi apa rencanamu Sa-chan?


"Ketika aku tersesat dengan Lu- Lux dulu, ia menuntunku ke tempat yang punya energi sihir yang besar. Jadi selama kita bisa menemukan tempat yang punya energi sihir yang besar, kita pasti akan menemukan inti sihir itu sendiri," ucapku balas menatapnya.


"Tidak apa jika kau merasakannya samar-samar Danur, kami akan mempercayakan semuanya padamu," ungkap Haruki, mengangguk Danurdara beberapa kali ke arah Haruki.


________________


Danurdara mengajak kami mendaki sebuah bukit batu, batu-batu yang berhamparan tampak dipenuhi lumut. Salah langkah sedikit saja, silakan ucapkan selamat tinggal untuk kehidupanmu yang sekarang...


"Hati-hati!" ucap Zeki memegang kuat lenganku, ditariknya tubuhku yang hampir terjatuh tadi..


"Terima kasih," ucapku, kugenggam lengannya tadi dengan kedua tanganku.


"Lux itu, lebih kecil darimu bukan?"


"Bagaimana kau mengetahuinya?" ungkapku berbalik terkejut menatapnya.


"Apa seleramu pada laki-laki yang lebih muda masih belum menghilang?" tanyanya lagi padaku.


"Lebih muda? Tapi usianya jauh lebih tua dibandingkan kau ataupun Haruki," ucapku balas menatapnya.


"Jangan katakan jika kau merasakan rendah diri akan keberadaan Lux. Apa aku telah berhasil membuatmu jatuh cinta?" ucapku lagi seraya tersenyum menatapnya.


"Kepercayaan dirimu ini, sungguh-sungguh sangat menakutkan," ungkapnya, dicubitnya kuat hidungku olehnya.


"My Lord..."


"Kou?"


"Kou?" ucap Zeki mengikuti perkataanku.


"Batas yang membatasi kalian dan dunia manusia semakin menebal, sedikit lagi... sedikit lagi kalian akan terjebak disana selamanya."


"Apa maksudmu Kou?" ucapku seraya berjongkok di hadapan Zeki.


"Kau mengatakan jika batas waktunya tujuh hari bukan? Mereka membohongi kalian, jika sebelum matahari terbit kalian tidak dapat menemukannya. Kalian akan tinggal disana selamanya, aku bisa saja membawamu dari sana sekarang juga. Tapi kau tidak akan meninggalkan kedua kakakmu."


"Lalu apa yang harus kami lakukan?"


"Aku akan mengatakannya sekali, karena jika kita terlalu lama berkomunikasi, musuh akan mengetahui keberadaanku. Jadi dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan padamu, My Lord!"