Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXIII


“Putri,” suara Daisuke membuatku menoleh ke arahnya, aku berjalan melewatinya saat dia sedikit membungkukkan tubuhnya dengan sebelah tangannya terangkat ke samping.


Aku melirik ke arahnya saat dia telah berjalan di sampingku, “apa urusan kalian telah selesai?” Aku kembali menoleh ke arahnya.


“Kami baru akan memulainya setelah matahari terbenam,” tukas Daisuke menjawab pertanyaanku. “Daisuke,” ungkapku memanggilnya.


“Aku belum sempat menanyakannya … Tapi, apa kau mengetahui sesuatu tentang ibuku?” Ungkapku kembali menundukkan kepala.


“Yang Mulia,” ucapnya yang membuatku mengalihkan pandangan menatapnya, “memanglah memintaku untuk mencari informasi mengenai Ratu. Tapi, sampai sekarang … Aku tidak mengetahui, siapa atau berasal dari mana dia,” lanjut Daisuke dengan sedikit melirik ke arahku.


“Benarkah,” ucapku seraya menatap lurus ke depan. “Aku hanya pernah mendengar rumor, jika mata hijau adalah sebuah kutukan,” langkah kakiku terhenti saat aku mendengarnya.


“Apa yang kau katakan Nao!” Aku berbalik, menatap seorang laki-laki yang menundukkan kepalanya diikuti seorang laki-laki yang mengangkat telapak tangannya di atas kepala laki-laki tadi.


“Tidak apa-apa, aku sudah mendengar rumor tersebut sejak dua belas tahun yang lalu,” ucapku tersenyum menatap mereka berdua.


Aku melangkahkan kaki berjalan mendekati kedua laki-laki tadi, “apa kau bisa memberitahu aku, dari mana kau mendengar rumor tersebut, Nao,” tanyaku saat aku telah menghentikan langkah kaki di hadapan mereka berdua.


“Saat aku menjadi mata-mata di Kerajaan Rhys, aku mendengarnya ketika di sana,” jawab laki-laki tersebut membalas tatapanku.


“Rhys,” aku mengulangi perkataannya.


“Jangan pernah ke sana. Aku peringatkan kau, Sachi … Jangan pernah ke sana!”


“Zeki,” ucapku memanggil namanya, “apa yang kau maksudkan?” Tanyaku melangkah mendekatinya.


“Kerajaan itu, mendukung penuh Kekaisaran. Setiap Kerajaan yang mendukung Kekaisaran, akan sangat berbahaya untuk perempuan. Jika saja, kau tak berjalan bersama kami Putri … Entah apa, yang akan dilakukan kumpulan tikus itu kepadamu,” ucap salah satu laki-laki yang berdiri di samping Arata sembari kedua matanya melirik ke arah kanan.


Aku melirik ke arah yang sama sepertinya, pandangan mataku kembali beralih menjauhi bayangan sekumpulan laki-laki yang memperhatikan kami dari kejauhan, “namamu?” Tanyaku kepada laki-laki tadi.


“Yuki,” jawabnya yang masih menatapku. “Yuki, nama yang indah. Apakah karena sikapmu yang dingin, hingga Ayah memberikanmu nama itu?” Tukasku yang dibalas suara tawa tertahan yang ada di dekatnya.


“Terima kasih, karena mengkhawatirkan aku. Tapi aku pun, tidak suka diremehkan. Aku sadar,” ucapku berbalik lalu melangkahkan kaki meninggalkan mereka, “aku sadar, jika kekuatanku sangatlah lemah dibanding kalian. Tapi, perlakuan kalian kepadaku sekarang … Membuatku kecewa,” sambungku dengan tetap melanjutkan langkah.


Aku menghentikan langkah lalu berbalik menatap mereka yang juga telah menghentikan langkah kaki di belakangku, “kalian, akan menyesal jika terlalu meremehkan aku,” ungkapku sebelum kembali berbalik meneruskan kembali langkah.


“Dan juga,” ucapku lagi-lagi menghentikan langkah sembari menoleh ke arah mereka, “kelak, kalian semua akan berada di bawah perintahku ketika berperang. Jangan membuatku kesal, jika tidak ingin mendapatkan kesulitan. Ka-li-an me-nger-ti?” Sambungku tersenyum menatapi mereka bergantian.


“Hi-Hime-Sama,” ucap salah seorang laki-laki dengan rambut yang sedikit panjang, dia berlutut di hadapanku dengan menggenggam tangan kananku.


“Hime-Sama, kumohon … Pukul dan siksa aku,” ucapnya lagi dengan kedua matanya beberapa kali berkedip menatapku.


“Apa yang kau lakukan Sano? Lepaskan tanganmu darinya!” Daisuke menginjak kepala laki-laki tadi saat dia telah berdiri di hadapan kami. “Tapi Kapten, ini pertama kalinya untukku mendapatkan tatapan seperti itu dari seorang perempuan.”


Apa dia seorang Masokis?


Aku mendekatkan kepalaku mendekati telinganya, “apa kau pernah melihat Naga secara langsung?” Bisikku pelan di telinganya.


“Dibandingkan dipukul oleh perempuan lemah sepertiku, aku akan meminta Naga milikku untuk memukulmu sampai kau puas,” bisikku lagi padanya, aku tersenyum saat kedua mataku menatap matanya yang berkaca-kaca menatapku itu.


“Jadi, aku bertanya padamu sekali lagi. Apa namamu Sano?” Laki-laki itu menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaanku, “kenapa kau melakukannya? Menyiksa musuh sebelum kau membunuhnya,” ucapku dengan sangat pelan keluar.


“Karena mereka tidak bisa menyiksaku, karena itu aku menyiksa mereka sebagai pembalasan,” ucapnya menjawabku dengan suara yang terdengar saat datar.


“Daisuke, aku masih penasaran dengan kata-kata yang kau ucapkan. Kenapa, aku bisa jadi penyebab dia berubah,” tukasku dengan kembali beranjak berdiri, “Hime-Sama, kau tidak mengingatku?” Dia berucap dengan mengangkat jari teunjuk ke arah dirinya sendiri.


“Aku bukan tidak mengingat, tapi aku memang tidak pernah bertemu denganmu.”


“Kita bertemu, tujuh tahun yang lalu kita bertemu di Paloma. Saat itu, sedang ada kekacauan di sana … Jadi untuk mencari informasi, aku yang secara kebetulan sedang beristirahat di sana menyamar jadi salah satu Kesatria yang dipimpin langsung olehmu.”


“Saat kau mengancam untuk mengeksekusi para penduduk yang mengolok-olokmu, membuat seluruh tubuhku merinding mendengarnya. Saat itulah Hime-Sama, aku-”


Ucapannya terhenti saat sebuah pedang telah melintang di depan lehernya, “jika kau masih ingin hidup, hentikan semua omong kosongmu itu,” aku menoleh ke arah Zeki yang telah berdiri di sampingku.


Aku menghela napas, lalu berbalik dengan meraih dan menggenggam telapak tangan Zeki, “sembunyikan pedangmu. Kau menarik perhatian sekitar,” ucapku menoleh menatapnya.


Aku menghentikan langkah kaki lalu sedikit menjauhi tubuhnya saat tangan Zeki kembali bergerak memasukkan pedang miliknya ke dalam sarung kayu yang ada di pinggang kirinya, “mereka sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Ayahku, jadi bersikap baiklah,” ucapku kembali melangkah lalu merangkulkan lenganku di lengannya.


“Mereka tetaplah laki-laki,” ucapnya dengan membuang pandangan ke samping menghindariku, “aku tahu jika mereka laki-laki, tapi mau bagaimana lagi … Jika hatiku telah direbut oleh laki-laki sepertimu,” bisikku pelan, aku mengangkat kepalaku lalu tersenyum menatapnya.


“Karena ucapanmu yang terlewat manis ini, membuatku tidak bisa tenang,” ungkapnya menoleh dengan sebelah tangannya mencubit kuat pipiku.


“Hime-Sama,” langkah kakiku kembali terhenti sembari menoleh ke arah belakang, “Arion, ada apa?” Tanyaku menatapnya.


“Makoto, namaku Makoto, Hime-Sama,” ucapnya berjalan semakin mendekati.


“Baiklah Makoto, apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?”


“Jangan mendekati wilayah Kekaisaran, apa pun yang terjadi Hime-Sama,” ucapnya dengan menggunakan bahasa Jepang.


“Kenapa?” Aku membalas ucapannya menggunakan bahasa yang sama.


“Saat kau membebaskan kami di hutan, Kaisar mengeksekusi semua pelayan yang juga ikut lolos bersama kalian, aku dapat lolos karena memang aku bukanlah seorang pelayan seperti mereka. Dan juga,” ucapnya terhenti, dia melirik lalu memukul lengan Zeki hingga genggaman Zeki terlepas dariku.


Makoto mengangkat tangannya lalu mendorong tubuhku hingga aku berdiri di belakangnya, “jangan terlalu mempercayai siapa pun. Mereka yang selamat, selain kalian bertiga … Menandatangani sebuah perjanjian dengan Kaisar. Kita tidak tahu, apa yang mereka janjikan kepada Kaisar sebagai balasan untuk pengampunan nyawa mereka,” ucapnya lagi dengan tetap mengarahkan pandangannya ke arah Zeki.