Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLXXVII


Zeki mundur ke belakang beberapa langkah dengan tangannya yang masih menggenggam tanganku, “kita, masih bertunangan, bukan?”


“Aku benar, kan?” tanyanya kembali dengan mempererat genggaman tangannya.


“Apa aku, bisa memegang kata-kata yang kau ucapkan sebelumnya?” tukasku sembari membuang pandangan ke samping.


“Jika kata-kataku memang tak bisa dipegang, berarti aku memanglah laki-laki yang tidak pantas untukmu,” ungkapnya yang sedikit mendongakkan kepalanya ke atas, “aku bersumpah, akan menghabisi setiap laki-laki yang berani untuk menikahimu. Kau, hanya harus boleh menikah denganku,” sambungnya ketika dia menurunkan kembali wajahnya menatapku.


“Aku hanya ingin menikah dengan laki-laki yang dapat membahagiakanku. Aku, hanya ingin menghabisi hidupku dengan laki-laki yang matanya tidak akan melirik ke arah perempuan lain,” ucapku sembari mengepalkan telapak tangan lalu kudekatkan ke bibir, “aku, termasuk ke dalam salah satu perempuan yang diciptakan hanya untuk para laki-laki yang mengagumkan. Karena itu, kau harusnya bersyukur memilikiku sebagai tunanganmu,” ungkapku disertai suara batuk kecil yang sengaja aku buat.


“Aku bersyukur, karena memilih untuk datang ke upacara pertunangan lalu bertemu denganmu. Terima kasih, karena selalu mendukung di saat aku bukanlah siapa-siapa hingga menjadi seperti sekarang. Dan kumohon, tetaplah di sampingku hingga akhir,” ucapnya sedikit maju ke depan dengan menyelipkan rambutku di telinga.


“Takaoka Sachi, dia perempuan yang paling menjengkelkan, paling tidak bisa untuk diperingatkan, perempuan yang suka tidak sadar diri dengan kemampuan dirinya sendiri, yang suka menyalahkan diri sendiri karena tingkah bodoh yang ia lakukan sendiri.”


“Apa katamu?” ungkapku menatapnya saat dia berhenti mengucapkan kata-kata tersebut.


“Tapi hanya dia yang membuat hidupku berwarna. Tingkahnya yang kadang membuatku gemas sendiri, sikapnya yang tegar lalu rapuh di saat bersamaan yang sering membuatku tidak ingin meninggalkannya. Aku ingin sekali selalu menjahilinya, karena dia selalu terlihat lucu ketika marah. Perempuan tercantik yang pernah aku temui selama hidupku.”


“Perempuan, yang akan membuatku melakukan apa pun untuknya. Dia berharga untukku … Dan aku harap, aku pun berharga untuknya,” sambungnya yang tersenyum dengan mencubit pipiku.


Aku tertunduk dengan telapak tangan menutupi pipi kananku. “Setidaknya, tanggapi perkataanku walau sedikit. Itu kata-kata yang sebenarnya aku persiapkan untuk upacara pernikahan kita, dan aku terpaksa menggunakannya karena kau tiba-tiba memberikan aku serangan yang tak terduga,” ungkapnya yang kembali diikuti dengan cubitan kuat di pipiku.


“Itu karena, kata-katamu membuat wajahku panas,” jawabku sembari mengipas wajahku sendiri menggunakan telapak tangan.


“Astaga, kenapa dia bisa sebodoh ini jika berurusan dengan laki-laki? Apa karena kedua Kakaknya minim pengalaman jadinya dia tidak mendapatkan pendidikan apa pun tentang bahayanya perbuatan yang ia lakukan sekarang,” gumam Zeki diikuti wajahnya yang berpaling dariku.


“Apa yang kau maksudkan?


Zeki berjalan mundur dengan kedua tangannya yang terangkat ke atas, “segeralah berganti pakaian! Pinjam terlebih dahulu pakaian Julissa atau Khang Hue, aku tak perduli. Asalkan, cepat ganti pakaianmu sekarang juga,” ungkapnya dengan tetap mengalihkan pandangannya dariku.


“Apa ada yang salah dengan cara pakaianku?” tanyaku dengan menundukkan wajah, berusaha untuk melihat tubuhku sendiri dari ujung kaki hingga sedikit ke atas.


Zeki menggaruk kuat kepalanya sendiri, “inilah derita, saat pasanganmu dibesarkan dengan banyak sekali ilmu untuk menghancurkan seseorang,” gumamnya dengan menghela napas sebelum kembali menatapku.


Zeki menunduk dengan menggaruk keningnya, “melihatmu mengenakan pakaianku, membuatku kehilangan kemampuan untuk berkata-kata. Jadi, cepatlah ganti pakaianmu! Kau, ingin membeli banyak barang, bukan? Aku akan menunggumu di depan,” ungkapnya kembali menggaruk kepalanya sebelum melangkah pergi menjauh.


______________________.


Aku berjalan menyusuri lorong Istana, langkah kakiku berhenti saat pandangan mataku terjatuh pada Julissa yang berdiri di tengah lorong, “Sachi,” ungkapnya, dia tertunduk dengan menggenggam kuat tangannya sendiri.


“Aku menyesal, aku merahasiakannya darimu karena aku pikir … Dia tidaklah pantas untuk menjadi sainganmu. Karena itu, aku tidak memberitahukannya kepadamu perihal hubungan Zeki dan perempuan itu. Kumohon, jangan marah padaku.”


“Sachi,” rengeknya kembali saat dia mengangkat wajahnya menatapku.


“Aku sudah tidak terlalu mempermasalahkannya, Julissa. Berhentilah menangis, mata indahmu akan sulit terlihat jika kau membuatnya bengkak karena tangisan,” ungkapku menghela napas lalu berjalan mendekatinya.


“Tapi Sachi-”


“Aku membutuhkan pakaian, Zeki mengajakku untuk berkeliling. Aku membutuhkan pakaian terbaik yang bisa kau pinjamkan untukku, yang terbaik dari yang terbaik,” ucapku memotong perkataannya.


Julissa berjalan maju dengan menggenggam kedua tanganku, “serahkan semuanya kepadaku. Aku sudah memiliki firasat jika saat-saat ini akan datang, karena itu aku telah menyiapkan semuanya,” ucapnya sambil menganggukkan kepalanya lalu menarikku berjalan mengikutinya.


Julissa menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu dengan Amithi dan juga Chandini yang berdiri di hadapannya, mereka berdua bergerak membukakan pintu tersebut untuk kami, “terima kasih,” ucap Julissa sembari berjalan masuk ke dalam ruangan dengan menarikku yang ada di belakangnya.


Julissa melepaskan genggaman tangannya, dia bergerak mendekati sebuah kotak terbuat dari kayu lalu membukanya, “bagaimana dengan gaun ini?” tanyanya seraya berbalik dengan gaun berwarna merah muda yang ia bentangkan di kedua tangannya.


Aku menggeleng membalas ucapannya. “Bagaimana dengan yang ini?” Dia bertanya kembali sembari mengambil gaun yang lainnya dari dalam kotak.


“Apa semua gaunmu seperti itu?”


“Kenapa? Ini gaun yang seringkali dipakai oleh seorang Putri,” gumamnya dengan mengarahkan pandangannya ke arah gaun yang ada di tangannya itu.


“Aku merasa gaunnya terlalu berlebihan. Aku hanya ingin yang sederhana, tapi cantik,” ucapku sambil berjalan mendekatinya.


Julissa memanyunkan bibirnya lalu melemparkan gaun yang ada di tangannya itu ke atas ranjang, “aku, benar-benar tidak mengerti seleramu, Sachi. Kau seorang Putri, berpakaianlah sebagai seorang Putri,” gerutunya sambil berjongkok lalu mengarahkan tangannya membongkar kotak kayu yang ada di hadapannya itu.


Aku menghela napas sembari ikut berjongkok di sampingnya, “jika aku memakainya, Zeki akan mengolok-olokku sepanjang waktu, bukan hanya Zeki … Kedua Kakakku pun pasti melakukan hal yang sama,” ungkapku dengan ikut mengarahkan tangan merogoh ke dalam kotak kayu yang penuh akan pakaian.


“Itu karena kau cantik. Laki-laki sulit melihat pasangannya tampil cantik di hadapan laki-laki lain, padahal … Kita mempercantik diri juga agar mereka tidak malu saat bersanding bersama kita. Menjengkelkan sekali,” tukas Julissa, dia mengangkat sebuah gaun berwarna biru diikuti kedua tangannya yang mencengkeram gaun tersebut.


“Apa kau memiliki masalah dengan Adinata?”


“Aku pernah menghadiri sebuah undangan bersamanya, aku menghabiskan banyak waktu dengan berdandan agar aku tidak membuatnya malu. Tapi dia malah memintaku untuk mengganti gaun dan riasan yang aku kenakan, dia mengatakan jika aku terlihat sangat jelek memakai riasan itu. Apa dia buta? Hingga tidak bisa melihat kecantikanku?”


“Justru kau sangatlah cantik Julissa, bahkan aku pun mengakui kecantikanmu. Karena itu, menikah saja denganku lalu tinggalkan tunanganmu!”


“Setelah sekian lama, kau akhirnya menyadari pesonaku? Haruskah kita lari dari Kerajaan masing-masing lalu menikah?”


Kami berdua saling tatap sebelum akhirnya suara tawa pecah di antara kami, “aku akan mencoba gaun ini. Bantu aku untuk menata rambutku,” ucapku beranjak berdiri dengan membawa sebuah gaun berwarna biru muda di tangan.