Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXLV


Aku melangkah mendekati kursi kosong yang ada di tengah-tengah Haruki dan Izumi, Tsubaru menggerakkan tangannya menarik kursi tadi untuk aku duduki, kembali aku menggerakkan kaki lalu duduk di kursi tersebut.


Mataku teralihkan pada Niel dan juga Egil yang tengah mengobrol, sesekali Egil menggerakkan kedua tangannya meraih beberapa potong daging bakar yang ia letakkan di piringnya Niel.


"Bisakah kau mengambil sayuran itu untukku?!" Terdengar suara Izumi diikuti benda terjatuh yang mengikuti pelan.


"Yang Mulia," kualihkan pandanganku menatap Tsutomu yang tengah berjongkok meraih sebuah sendok di dekat kakinya sembari matanya menatap lurus Izumi yang juga balas menatapnya.


"Ada apa?" Tukas Izumi menggerakkan kembali kepalanya menatap piring yang ada di hadapannya.


"Kau memakan sayur-sayuran, Yang Mulia? Apakah aku, tidak salah mendengarnya?" Ungkap Tsutomu beranjak berdiri dengan pandangan yang masih tertuju pada Izumi.


"Bagaimana ini, Pangeran yang aku besarkan... Pangeran yang aku rawat, tiba-tiba..." Tukasnya kembali dengan kedua tangan menutupi wajah.


"Kau berisik sekali Tsutomu," ucap Izumi menggaruk-garuk kuat kepalanya.


"Kau dengar itu Tatsuya, Tsubaru... Suaranya yang dulu terdengar imut di telingaku, sekarang bahkan..." Ucapnya, digerakkannya kepalanya ke samping dengan mata memerah dan bibir yang digigit kuat.


"Jangan menatapku, aku bahkan masih belum menerima. Putri yang dulu sering aku gendong kemana-mana, kini sudah tumbuh tinggi hingga hampir menyamai pundakku."


Aku tidak tahu, apakah kedua Kakakku ikut merasakan aura dingin yang menyengat kuat di belakang. Aku, sudah lama sekali... Tidak merasakan aura menyesakkan dada ini. Benar-benar seperti nostalgia.


"Apa kau juga ingin mengungkapkan isi hatimu Tatsuya?" Suara Haruki ikut memecah keheningan yang sebelumnya terjadi.


"Tidak, Yang Mulia. Hanya saja aku sedang memikirkan, jika saja kalian tidak menghilang... Mungkin aku sudah menggendong Anakmu sekarang."


"Kau benar-benar sangat memikirkan ku," ucap Haruki meraih sendok dan garpu yang ada di hadapannya.


"Aahh kau benar Tatsuya, harusnya kami sudah bermain dengan anaknya Haruki sekarang," tukas Izumi ikut menimpali perkataan.


"Aku akan menikah, saat kedua Adikku telah menikah. Bisakah kita menutup pembahasan ini?" Sambung Haruki mengarahkan senyuman dinginnya pada Izumi yang ada di sampingku.


"Apa kalian akan langsung pergi dari sini? Maksudku, bantuan dari Kerajaan kalian telah datang," tukas Niel mengarahkan pandangan menatap kami bergantian.


"Kami akan pergi dari sini secepatnya, mereka bertiga... Sudah sangat berpengalaman mengurus suatu wilayah, mereka bertiga sebenarnya para pelayan pribadi kami semenjak kecil," ucap Haruki meraih sepotong daging dan meletakkannya di piring miliknya.


"Tapi, para pelayan kalian terlihat tidak menyetujuinya... Maksudku, lihatlah wajah mereka," ucap Niel, kugerakkan kepalaku ke belakang menatap Tsubaru yang tertunduk dengan pandangan kosong.


"Aku sebagai Kapten, melarang kalian untuk berpergian kemanapun hingga beberapa musim ke depan," ucap Daisuke diikuti suara sendok yang saling beradu.


"Yang Mulia, memintaku menahan kalian di sini. Dia, ingin kalian tetap di sini di bawah pengawasan kami berempat," ucap Daisuke kembali.


"Jangan berpikir untuk melarikan diri, karena mata-mata yang aku miliki tersebar di mana-mana, dan harus diingat... Keenam, Wakil kapten yang aku miliki, masih berkeliaran bebas di luar sana," sambung Daisuke meletakkan dua sendok di tangannya, diangkatnya kedua tangannya tadi menyilang di dada.


"Kalian pasti telah merencanakan berbagai rencana untuk melarikan diri bukan?" Tukas Daisuke kembali sembari kedua jari tangan kanannya bergerak memijat-mijat pelan kepalanya.


"Kami tidak melakukannya, perintah Ayah... Adalah mutlak untuk kami, jika tidak... Kami mungkin tidak akan menemuimu, Kapten Kerajaan Sora," ucap Haruki melirik ke arah Daisuke.


"Pangeran Takaoka Haruki, Pangeran jenius yang akan memanfaatkan semua cara untuk mencapai tujuannya. Ambisi, kekuatan, bercampur kepintaran, membuat banyak sekali bangsawan yang takluk padanya walaupun usianya masihlah belia dulu."


"Putri Takaoka Sachi, kepintarannya membuat geger Kerajaan di usianya yang masih menginjak tiga tahun. Berbagai makanan, alat-alat yang belum pernah terpikirkan dibuatnya dengan begitu mudah. Berita kepintarannya bahkan membuat semua Kesatria yang berjaga di perbatasan harus bekerja dua kali lipat dikarenakan banyak sekali pihak musuh yang ingin menculiknya."


"Dan Pangeran Takaoka Izumi, Pangeran pintar yang selalu berpura-pura. Walaupun masih belia, dia sudah menguasai banyak sekali bela diri dari semua penjuru dunia. Dan juga..."


"Hentikan," ucap Izumi mengarahkan pandangannya menatap Daisuke.


"Apa kau telah selesai Kapten? Membuka informasi kami di hadapan sekutu yang baru bergabung, menurutmu apa itu pantas?"


"Aku bahkan akan menjual informasi kalian kepada musuh jika kalian tidak menuruti perintahku," ucapnya menjawab perkataan Haruki.


"Heh, jadi seperti ini... Kapten Kerajaan Sora melakukan tugasnya? Jadi seperti ini, caranya membuat banyak sekali musuh tak berkutik?"


"Yang Mulia, mempercayakan anak-anaknya padaku. Jadi, aku akan melakukan apapun untuk menjaga anak-anaknya tetap selamat, walaupun... Aku harus mengurung mereka semua," ucapnya menimpali perkataan Haruki lagi.


"Kau terlalu berlebihan Paman," ucapku, diarahkannya pandangannya tadi padaku.


"Kami tidak akan melarikan diri. Lagipun, Paman membantu kami selama ini, bagaimana mungkin kami melepaskan Paman... Maksudku, kekuatan Paman sebagai Kapten sangatlah membantu kami," ucapku lagi padanya.


"Sepertinya, aku baru paham... Kenapa banyak sekali Kesatria di Kerajaan yang takluk padamu, Putri," ucapnya kembali menatap padaku.


"Begitukah? Tapi maaf Paman, aku tidak mengerti... Apa yang kau bicarakan," ucapku balas tersenyum padanya.


"Kami melakukannya demi kebaikan kalian, jadi... Lakukan saja sesuai yang Raja perintahkan," tukasnya diiringi helaan napas beberapa kali.


"Seperti yang Adikku katakan, kau hanya terlalu berlebihan, Daisuke," ucap Haruki tersenyum menatap Daisuke.