
Diangkatnya srikaya yang telah matang oleh Kepala Koki Istana, diletakkannya mangkuk-mangkuk berisi srikaya tadi ke atas meja.
Kubangunkan Haruki dan juga Izumi yang nampak lelah tertidur, kupanggil nama mereka berulang kali seraya kusentuh-sentuh kedua pipi mereka menggunakan ujung jariku. Dibukanya pelan kedua mata mereka, tampak sirat-sirat warna merah terpaku di bola mata mereka masing-masing...
"Makanannya telah siap, nii-chan," ucapku seraya menatap mereka bergantian
"Benarkah?" tukas Izumi seraya menguap dan mengangkat kedua tangannya ke udara
Kuraih semangkuk srikaya dan sebuah sendok yang ada di hadapanku, kuberikan kedua benda itu kepada Haruki. Kulakukan hal yang sama seperti sebelumnya kepada Izumi.
"Ini manis, rasanya sedikit berbeda dari puding yang sebelumnya, tapi enak..." ucap Izumi seraya kembali memasukkan sesendok srikaya ke dalam mulutnya
"Tekstur nya sendiri sedikit lebih padat dibandingkan puding. Apa kau sengaja menggunakan air Kelapa itu sebagai pengganti susu?" lanjut Haruki seraya melakukan hal yang sama
"Rasanya terasa sedikit lebih gurih bukan?" ungkapku yang dibalas anggukan kepala dari Haruki
"Kau bisa mencicipinya, Paman." Tukasku seraya menatap Kepala Koki Istana yang memperhatikan kami
"Terima kasih, Putri." Balasnya seraya tersenyum menatapku
_________________
Kurebahkan tubuhku yang sudah terasa sangat lelah. Kualihkan pandanganku ke samping kanan, tampak Lux tengah nyenyak tertidur di bantal yang tergeletak di sampingku.
Kuangkat lengan kiriku hingga menutupi dahi, tatapan mataku mengarah kosong ke depan. Kata-kata yang diucapkan Julissa, kata-kata yang diucapkan Raja, dan kata-kata yang diucapkan Haruki terus menerus mengetuk pikiranku.
Aku tidak tahu, hal itu akan membawaku pada takdir yang baik maupun buruk. Berada di dunia ini saja seperti sebuah kesalahan besar aku dilahirkan kembali. Akan tetapi, kekosongan yang aku rasakan di kehidupan lamaku, entah kenapa telah berangsur-angsur menghilang...
"Sachi yang berarti kebahagiaan, mata hijau yang sebuah kutukan..." tukasku pelan seraya menghela nafas
"Aku akan menerima semua permainan yang kau siapkan khusus untukku, Tuhan." sambungku seraya kupejamkan kedua kelopak mataku
"Putri.. bangunlah." terdengar suara mengetuk-ngetuk pikiran alam bawah sadarku
Kubuka pelan kedua mataku, tampak bayangan seseorang terlihat mengabur di pandangan. Kuusap kedua mataku pelan menggunakan telapak tangan, tampak Tsubaru telah berdiri di sampingku dengan Lux yang juga duduk di bahunya.
"Kau sudah bangun, Putri?"
"Hmm," tukasku malas seraya membalikan tubuhku ke samping
"Kau tidak ingin mengikuti festival berburu, Putri?"
"Festival berburu? hari ini?" ucapku yang langsung segera beranjak duduk menatapnya
"Festival berburu Kerajaan kita, diadakan setiap hari pertama masuknya musim dingin. Kau tidak ingin mengikutinya?" ungkap Tsubaru balik menatapku
"Tentu, aku ikut." ucapku seraya beranjak berdiri
"Aku telah menyiapkan air mandi untukmu, aku juga akan segera menyiapkan pakaian untukmu. Cepat, cepatlah Putri, semua bangsawan yang ada di Kerajaan kita akan berkumpul hari ini." lanjut Tsubaru seraya mengangkat tubuhku dan menurunkannya dari atas ranjang
"Kau jadi perempuan, lamban sekali. Contohlah aku yang telah bersiap-siap lebih cepat darimu." tukas Lux seraya menyilang kan kedua tangannya ke dada
"Pakaian baru?" ucapku seraya menatapnya yang memakai sebuah mantel berbulu coklat berukuran kecil
"Bukankah Peri tidak menggunakan sesuatu yang berasal dari hewan?" ucapku balik menatapnya
"Daripada aku mati kedinginan. Lagipun, cepatlah bergegas kau Putri pemalas." Lanjut Lux seraya terbang dan menerjang dahiku
"Aku tahu," tukasku berbalik dan berjalan menjauhi mereka
"Cih, semua laki-laki di dunia ini. Sangatlah menyebalkan." ucapku dalam hati seraya ku gosok-gosok pelan dahiku yang terasa sakit
________________
Berjalan aku dituntun oleh Tsubaru menyusuri Istana, Lux sendiri bersembunyi di sela-sela rambutku yang sengaja kugerai.
Langkah kami terhenti di depan gerbang Istana, tampak beberapa Kesatria telah berbaris rapi dengan Raja, Haruki, dan juga Izumi yang berdiri di hadapan mereka.
Baju zirah yang melekat di tubuh-tubuh mereka tampak menyilaukan terkena sinar matahari pagi. Raja sendiri tampak gagah dengan rompi berbulu hitam yang menyelimuti baju zirahnya. Rambutnya yang berwarna cokelat keemasan tampak serasi dengan kulit putihnya.
Tsubaru sendiri menggunakan baju zirah berwarna hitam, senada dengan rambut hitamnya. Tampak sebuah pedang kembar menempel di pinggangnya.
Berjalan aku mendekati Raja dan juga Kakak-kakakku, diraih dan digendongnya aku oleh Raja. Pandangan mataku kuarahkan ke sekitar, tampak lima buah kereta kuda berwarna hitam berbaris rapi di belakang para Kesatria. Sebuah kereta berisi penuh senjata pun tampak berdiri kokoh dibelakang kereta yang lainnya.
Berjalan Tsubaru ke arah Tatsuya dan juga Tsutomu yang juga ikut berbaris bersamaan dengan para Kesatria lainnya, tampak Satoru dan juga Kazuya ikut berdiri di samping mereka bertiga.
Raja melangkahkan kakinya ke salah satu Kereta berukuran paling besar diikuti Haruki dan juga Izumi dibelakangnya. Dibukanya pintu kereta itu oleh Satoru, diturunkannya aku oleh Raja di atas kereta.
Berjalan aku semakin masuk ke dalam kereta dan duduk di bangku yang ada di dalamnya, Haruki dan Izumi masuk bergantian dan duduk di hadapanku.
Berselang, Raja pun masuk dan duduk di sebelahku. Pintu kereta tertutup dari luar, kurasakan gerakan dari kereta yang kami tumpangi. Suara banyak derap langkah kaki tampak terdengar mengikuti suara lonceng yang ada di sisi kereta.
"Apa kau gugup?" ucap Raja yang merangkul dan menepuk pelan kepalaku
"Entahlah Ayah." Tukasku tertunduk
"Kau hanya harus menunggu di tenda bersama anak perempuan bangsawan yang lainnya, kau tidak harus ikut berburu." ucapnya lagi
"Aku ingin ikut, aku sudah berlatih memanah selama satu tahun ini." ucapku seraya menatapnya
"Kalau begitu, kau ikut denganku saja. Aku akan membawamu berkuda bersamaku, Tupai." Tukas Izumi yang juga turut ikut menatapku
"Kau tidak akan bisa menemukan jalan kembali jika bersama dengannya." Sambung Haruki menatapku seraya meletakkan telapak tangannya ke pipi Izumi dan mendorongnya
"Kau hanya akan mendapatkan kelinci berukuran kecil jika ikut dengannya." Tukas Izumi seraya memperbesar pandangan matanya menatap Haruki
"Heh, kita lihat saja siapa yang akan menang dan mendapatkan hadiah dari Ayah..." balas Haruki menatapnya
"Jadi, Tupai..."
"Sa-chan..."
"Ikutlah denganku!"ungkap mereka bersamaan seraya menatap ke arahku