
Kou mendaratkan tubuhnya dengan sangat perlahan, “Yang Mulia,” suara beberapa orang laki-laki terdengar diikuti derap langkah kaki berjalan mendekat, “apa kalian telah mempersiapkan semuanya?” Aku sedikit melirik ke arah Haruki dan juga Izumi yang telah turun dari atas punggung Kou.
“Uki, kemarilah!” Haruki memanggilnya, Uki yang sebelumnya hinggap di kepala Kou menoleh lalu terbang dan hinggap di atas pundaknya.
Semenjak kami di Istana, Haruki merawatnya dengan sangat telaten, aku bahkan tidak mengetahui lagi … Bagaimana caranya untuk memisahkan mereka, “My Lord,” suara Kou tiba-tiba terngiang di kepalaku.
Aku kembali menoleh dengan mengusap lehernya, “ada apa Kou?” Tanyaku pelan kepadanya, “burung itu, izinkan aku untuk membawanya,” ucapnya kembali di dalam pikiranku.
“Kau ingin merawatnya?”
“Atas dasar apa aku harus merawat makhluk lemah seperti dia,” ucapnya diikuti asap putih yang keluar dari sela-sela mulutnya, “lalu?” Aku balik bertanya padanya.
“Sihir di dalam tubuhnya masih sangat tidak stabil, jika dia tinggal bersamaku … Dia akan tumbuh lebih baik, karena banyaknya sihir di sana,” ucapnya menjawab pertanyaanku.
“Tapi Kou, bukankah tempatmu hanya berisi hamparan salju?”
“Aku akan menyingkirkan setengah dari salju itu jika memang diperlukan, jadi makhluk apa pun akan dapat tinggal di duniaku,” ucapannya kembali melintas di dalam kepalaku.
Aku menoleh ke arah Haruki yang masih berbicara dengan beberapa Kesatria, “nii-chan,” Haruki berbalik menatapku saat aku memanggilnya untuk yang kedua kalinya, “ada apa?” Tanyanya saat dia telah berdiri di hadapanku.
“Kou mengatakan jika Uki haruslah ikut dengannya. Itu akan membantu Uki tumbuh lebih baik dibandingkan di dunia manusia,” Haruki sedikit mengerutkan keningnya menatapku, “benarkah itu?” Aku menganggukkan kepala saat dia balik bertanya padaku.
Haruki menghela napas, diikuti kepalanya yang menoleh ke arah Uki, “Uki, ikutlah dengan Kou dan tinggal bersamanya,” ucap Haruki menatapnya.
“Biar aku saja yang mengatakannya,” aku sedikit melirik ke samping saat kurasakan rambutku yang tergerai sedikit bergerak. Lux terbang mendekati mereka dengan mengatakan sesuatu yang tak aku mengerti, berselang … Uki terbang mendekati kami berdua lalu hinggap kembali di kepalanya Kou.
“Kemarilah, aku akan membantumu turun,” suara Izumi yang terdengar mengagetkan aku, aku sedikit berbalik ke arahnya yang telah berdiri di sampingku.
Izumi mengangkat kedua tangannya membantuku turun, aku kembali menoleh saat Kou telah beranjak berdiri lalu mengepakkan sayapnya terbang dengan membawa Uki bersamanya, “nii-chan,” ucapku kembali menundukkan kepala menatapi tanah.
“Apa kak Sasithorn akan baik-baik saja?”
“Apa kau meremehkan kemampuan temanmu Julissa, lagipula … Cia ikut bersamanya, jadi aku pikir dia akan baik-baik saja,” Izumi mengucapkannya dengan pelan diikuti usapan yang ia lakukan di kepalaku.
“Aku menyarankan Sasithorn mengajak Cia untuk tinggal bersamanya, karena terlalu berbahaya untuknya jika berpergian bersama kami atau ditinggalkan di Sora.” Kata-kata Haruki tempo hari masih aku ingat benar, aku benar-benar tidak menyangka jika dia akan menyarankan hal tersebut kepada kami.
Aku kembali berbalik saat suara Izumi kembali memanggil namaku, kedua kakiku melangkah mengikutinya yang telah berjalan mengikuti Haruki, Eneas dan juga beberapa Kesatria yang lain, “Sachi,” kepalaku sedikit berbalik saat suara Lux terdengar di sampingku.
“Ada apa Lux?” Aku balas bertanya kepadanya, aku meraih rambutku ke samping hingga Lux terbang lalu hinggap di pundakku, “apa kau ingin mencari kebenaran tentang ibumu?” Aku sedikit melirik ke arahnya, “apa kau membicarakan perihal bunga itu?”
“Aku mengerti,” ucapannya terdengar sangat pelan di telingaku.
Kedua kakiku berhenti di dekat beberapa Kesatria yang telah menarik empat ekor kuda di belakang mereka, “Hime-sama,” ucap salah seorang Kesatria telah berdiri di hadapanku dengan seekor kuda berwarna putih di sampingnya.
Aku berjalan mendekati kuda tersebut lalu menaikinya, “terima kasih,” ucapku saat Kesatria tadi memberikan tali kekang yang mengikat kuda tersebut padaku.
Kugerakkan kuda yang aku tunggangi itu mendekati Haruki, Izumi dan juga Eneas yang yang telah duduk di masing-masing kuda mereka. Aku kembali melirik ke arah Haruki yang masih memberikan arahan pada beberapa Kesatria yang berdiri di samping kuda miliknya diikuti jari telunjuknya yang bergerak ke semua arah bergantian.
“Kalian mengerti apa yang aku perintahkan bukan?!”
“Kami mengerti, laksanakan Yang Mulia,” ucap beberapa Kesatria itu menyanggupinya.
Haruki menggerakkan kuda miliknya berbalik ke arah kami, “apa kalian telah siap?” Tanyanya menatapi kami bergantian.
Aku berbalik menatap Izumi yang telah menunggangi kuda miliknya mendekati Haruki, “apa kau telah memutuskan, ke mana kita akan pergi selanjutnya?” Haruki menganggukkan kepalanya membalas perkataan Izumi.
Kudaku ikut berjalan menyusul mereka saat kuda yang ditunggangi kedua kakakku itu bergerak ke luar meninggalkan perbatasan, “Apa kau tak sengaja meninggalkannya? Jika iya, kita bisa kembali sebelum pergi terlalu jauh,” aku menoleh ke arah Izumi yang menggerakkan kuda miliknya mendekati Haruki.
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan? Katakan lebih jelas agar aku dapat mengerti,” ucap Haruki berbalik menatapnya, “kalung ibumu. Apa kau meninggalkannya di Istana? Maksudku, kau sendiri bukan yang mengatakan jika kalung tersebut seperti jimat keberuntungan untukmu.”
Kalung?
Aku menggerakkan kudaku berjalan mendekati mereka, kedua mataku melirik ke arah kalung terbuat dari tulang yang diberikan Ayah kepadanya beberapa pekan yang lalu, “apa kau ingin menanyakan hal yang sama?” Aku mengangkat kembali kepalaku, Haruki menghela napasnya saat aku menganggukkan kepala menatapnya.
“Aku mengubur kalung tersebut bersama Luana, jadi jangan menanyakannya kembali,” ucap Haruki membawa kudanya meninggalkan kami, “aku baik-baik saja, jangan menatapku seperti itu,” ucapnya ketika berbalik menatapi kami.
Aku menoleh ke arah Izumi yang juga telah menyusulnya, “aku tidak mengkhawatirkanmu, mataku hanya sedikit silau oleh sinar matahari,” sambung Izumi menunggangi kudanya meninggalkan Haruki.
“Sa-chan,” aku kembali mengangkat kepalaku menatapnya, “nii-chan, apakah tempat yang akan kita kunjungi nanti memiliki hidangan-hidangan yang menggugah selera?” Tanyaku menggerakkan kuda mendekatinya.
“Kita akan mengunjungi salah satu Kerajaan kecil yang sudah sejak dulu mengabdikan dirinya pada Ayah. Ayah meminta kita untuk menghadiri upacara pemakaman temannya itu,” ucap Haruki saat kudaku telah berjalan di sampingnya.
“Apa aku mengetahui Kerajaan itu?” Haruki menggelengkan kepalanya, “hubungan kerja sama antara Kerajaan itu dan juga Ayah sangatlah rahasia. Karena pada dasarnya, kerajaan tersebut berada di wilayah kekuasaan Kaisar.”
“Dengan kata lain, mereka diam-diam berkhianat?” Kali ini Haruki menganggukkan kepalanya, “karena itulah, berhubung anaknya yang akan dinobatkan menjadi Raja selanjutnya. Ayah, menugaskan kita untuk membujuk anaknya itu, agar tetap melanjutkan hubungan kerja sama yang dulu dilakukan kedua Ayah kita.”
“Hanya itu, apakah tidak ada yang istimewa di sana?” Gumam Izumi yang memperlamban kudanya, “apa kau pikir, Ayah meminta kita ke sana hanya untuk melakukan hal membosankan seperti itu? Tentu, ada hal yang lebih menarik perhatianku di sana kecuali kerja sama itu,” sambung Haruki yang menoleh lalu tersenyum menatapku.