Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCV


"Apakah benar ini penginapan yang kau maksudkan?" ucap Izumi, kualihkan pandanganku menatapnya yang telah mengalihkan pandangannya menatapi Daisuke.


"Aku akan mengeceknya," sambung Daisuke, bergerak ia turun dari atas kuda yang ia tunggangi.


Kutatapi dia yang telah berjalan meninggalkan kuda miliknya, melangkah ia memasuki bangunan yang tak ada pintunya tersebut. Kugerakkan kepalaku ke atas, sirat-sirat awan tipis yang melayang di langit mengingatkan aku dengan permen kapas yang dulu sering aku makan.


"Aku telah mendapatkan kamar, kita bisa menginap di sini malam ini," ungkap Daisuke, kualihkan pandanganku menatapnya yang telah berjalan mendekati kuda miliknya.


Bergerak aku turun dari atas kuda milikku, kutarik tali kekang yang masih aku genggam mengikuti langkah kakiku yang mendekati Izumi. Berbalik Izumi menatapku dengan telapak tangan miliknya terarah ke arahku...


"Terima kasih," ungkapku seraya kuarahkan tali kekang yang aku genggam tadi di telapak tangannya.


Kugerakkan kepalaku menatap segerombolan laki-laki bergerak masuk ke penginapan, pandangan mataku terjatuh pada seorang perempuan yang lehernya terikat sebuah rantai panjang. Perempuan tersebut berjalan tertunduk mengikuti tarikan seorang laki-laki yang menarik rantai yang terikat di lehernya...


Perempuan tadi mengangkat pandangannya berbalik menatapku, digerakkannya kembali kepalanya tertunduk seperti sebelumnya. Masih kutatap dia yang terlihat menggigit kuat bibirnya yang terluka itu.


"Jangan jauh-jauh dariku, Sa-chan," suara Haruki mengangetkan, kembali kuarahkan pandanganku menatap tangannya yang telah menggenggam lenganku.


Bergerak aku mendekatinya, Haruki melepaskan genggaman tangannya di lenganku sebelumnya. Kugerakkan lenganku merangkul lengannya seraya bergerak kedua kakiku melangkah mengikuti langkah kakinya.


Kepalaku tanpa sadar tertunduk bersandar di pundak Haruki, bau keringat berserta minuman keras yang tercium lebih buruk dibandingkan saat kami berada di Metin. Pandangan mataku melirik beberapa orang laki-laki yang duduk di sudut ruangan.


Dua orang perempuan tampak duduk di pangkuan dua orang laki-laki yang tengah bersandar di kursi. Laki-laki yang memangkunya tadi tampak sibuk menggerakkan wajahnya di punggung perempuan yang duduk membelakanginya itu...


"Jangan dilihat," terdengar suara Haruki diikuti menggelapnya pandangan di sekitarku.


"Nii-chan, aku mengerti. Aku tidak akan melihatnya," ungkapku seraya kuarahkan telapak tanganku meraba dan menggenggam lengan yang ada di samping mataku itu.


"Ikuti aku," ucap Haruki kembali, kurasakan pandangan mataku di sekitar kembali menerang. Tubuhku bergerak maju mengikuti tarikan pelan yang aku rasakan pada tangan kananku.


Kualihkan pandanganku pada Haruki yang telah menatap lurus ke depan, ikut kuarahkan pandanganku menatap lurus ke depan. Langkah kakiku bergerak mengikuti langkah kaki mereka, kualihkan pandangan mataku menatapi tangga yang kayu nya hampir lapuk tersebut.


Haruki menarik lenganku ke samping, ikut bergerak aku menyamping bersandar pada dinding tangga yang kami naiki. Kualihkan pandanganku pada laki-laki bertubuh besar tadi yang berjalan menuruni tangga...


Suara deritan kayu terdengar lebih kuat dari sebelumnya bahkan ujung jari yang tertutupi sepatu pun ikut merasakan gerakan pada tangga yang menempel di kakiku. Kuarahkan wajahku menatapi sepatu hitam yang aku kenakan...


Kugigit bibirku saat bau tubuhnya menyentuh hidungku, bau keringat nan memusingkan semakin mengetuk hidungku tatkala mataku tak sengaja terjatuh pada sepasang kaki besar beralaskan sandal melewatiku.


Pandangan mataku mengikuti punggung laki-laki tadi, remangnya keadaan sekitar membuatku untuk sedikit lebih berusaha menatap gambar Naga yang mungkin terbuat dari luka bakar di punggungnya yang tak tertutupi pakaian itu.


Tubuhku sedikit terhentak saat kurasakan lenganku kembali tertarik, kualihkan pandanganku menatap Haruki yang juga telah balas menatapku dengan tangannya menggenggam erat lenganku tadi.


Berbalik aku seraya kulangkahkan kakiku mengikuti langkah kakinya, kedua kakiku bergerak semakin cepat tatkala kutatap mereka yang juga semakin mempercepat langkah kaki mereka...


Bau kayu basah memenuhi udara sekitar, langkah kakiku kembali bergerak menyusuri lorong dengan beberapa buah pintu berjejeran rapi di samping kiri dan kanan kami.


Kedua kakiku bergerak tanpa sadar hingga pundakku menyenggol pundak Haruki saat sebuah pintu tiba-tiba terbuka. Dua orang laki-laki bertubuh besar dengan jenggot panjang nan lebat keluar dari dalam kamar tersebut.


Kualihkan pandanganku pada rantai panjang yang tengah ditarik oleh salah satu di antara mereka. Seorang perempuan dengan leher berkalung rantai keluar mengikuti langkah kaki kedua laki-laki tadi...


Selimut putih yang membungkus tubuhnya sesekali terjatuh hingga memperlihatkan pundaknya yang dipenuhi dengan lebam merah. Diangkatnya kepalanya sejenak menatapku, kembali kurasakan tarikan pelan menarik tangan kiriku...


Kualihkan pandanganku dari perempuan tadi seraya kembali kuarahkan pandanganku pada Daisuke yang telah berhenti di salah satu pintu yang ada di lorong. Kutatap Daisuke yang tampak menggerakkan tangannya merogoh ke balik pakaian yang ia kenakan.


Kutatap sebuah pisau kecil berserta sebuah kunci terikat rantai di genggamannya. Daisuke memindahkan pisau kecil tadi ke sebelah tangan kirinya sedangkan sebelah tangannya yang lain menggenggam kunci berikat rantai tadi.


Daisuke sedikit menundukkan tubuhnya, diarahkannya kunci miliknya tadi pada lubang kunci yang ada di pintu. Beranjak kembali Daisuke berdiri seraya dialihkannya tangannya tadi ke ganggang pintu yang ada di hadapannya.


Pintu tersebut terbuka, tampak sedikit berkas sinar jatuh tepat di hadapan kakinya. Masuk Daisuke melangkah ke dalam kamar, kugerakkan tubuhku berjalan mendekati dinding kayu yang tak terlalu jauh dari tempatku berdiri. Bersandar aku di dinding kayu tadi seraya kuarahkan pandanganku pada beberapa lilin yang tergantung pada lampu gantung yang ada di lorong...


"Aku telah memeriksa ruangan, kalian dapat masuk ke dalam," kembali terdengar suara Daisuke, kuarahkan kembali pandanganku menatapnya yang telah kembali berdiri di depan pintu tadi tengah menatapi kami bergantian.